Siswa Diajak Mencermati Dan Mengoreksi Tata Tulis Pada Signage Aksara Jawa Di Lingkungan Pemerintah Kota Surabaya

Budaya, aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sangat senang melihat penulisan aksara Jawa di lingkungan perkantoran pemerintahan kota Surabaya. Upaya ini sangat dihargai sebagai upaya mengenalkan kembali aksara Jawa sebagai identitas daerah dan bangsa.

Proses memang masih berjalan. Pembelajaran pun masih menggelinding dan tentu tidak boleh berhenti. Prinsipnya bahwa pembelajaran harus terus menggelinding tanpa henti, yang sering disebut sebagai belajar sepanjang hayat (lifelong learning), ini sangat penting.

Konsep ini memastikan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir tidak tertinggal oleh zaman. Ini membuat kita mampu beradaptasi, bertumbuh, dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

Sudah banyak penulisan aksara Jawa di kantor kantor pemerintah Kota Surabaya. Sudah enak dipandang mata (kemata). Meski masih belum Ketata, tertata dalam aturan penulisan.

Dalam penulisan aksara Jawa memang tidak boleh ada pangkon di tengah tengah. Jika ada konsonan mati di tengah kalimat yang diikuti oleh kata dengan konsonan (bukan vokal), maka yang digunakan bukanlah pangkon (istilah yang merujuk pada tanda baca dalam aksara Jawa untuk mematikan vokal pada suatu huruf), melainkan pasangan (simbol khusus yang berfungsi untuk mematikan atau menghilangkan bunyi vokal (a/o) pada aksara dasar).

Misalnya frasa “Dinas Lingkungan Hidup”. Pada kata “Dinas” , yang berakhir dengan huruf konsonan “S” yang diikuti dengan kata Lingkungan yang diawali dengan huruf konsonan “L”, maka penulisan Dinas tidak boleh dipangkon tetapi harus menggunakan pasangan “L”. Jadi huruf S dengan pasangan L

Pun demikian dengan kata Lingkungan, yang berakhir dengan huruf konsonan “N”, maka tidak boleh dipangkon karena masih ada kata lanjutan “Hidup” yang diawali dengan huruf konsonan “H”, maka kata “LingkungaN” harus diikuti oleh pasangan “H”, yang mengawali kata Hidup

Salah satu Signage. Foto: par

Jadi tata tulis Dinas Lingkungan Hidup dalam aksara Jawa bukannya

ꦢꦶꦤꦱ꧀ ꦭꦶꦏꦸꦔꦤ꧀ ꦲꦶꦢꦸꦥ꧀

Selain contoh ini, masih ada lagi lainnya, yang sudah tertulis sebagai signage di kantor kantor pemerintah Kota Surabaya.

Signage ini menjadi contoh soal dalam pembelajaran Sinau Aksara Jawa yang diselenggarakan di kelas Rumah Bahasa. Contoh ini digunakan untuk mengajak peserta Sinau Aksara Jawa mengoreksi kekurang tepatan dalam penulisan (tata tulis) aksara Jawa.

 

Experiential learning Based

Inilah pembelajaran yang berdasar pada pengalaman nyata. Experiential learning Based. Jadi penulisan aksara Jawa di kantor kantor pemerintah Kota Surabaya menjadi bahan ajar bagi peserta yang belajar aksara Jawa, dimana peserta diajak mengamati dan mengoreksi penulisan aksara Jawa di kantor kantor pemerintah Kota Surabaya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *