Budaya sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dimana ada perisriwa, disana mungkin ada jejaknya. Untunglah jejak peristiwa Geger Sepehi masih ada yang mau jaga. Jejak peristiwa bersejarah itu memang perlu dijaga karena berfungsi sebagai bukti nyata masa lampau, sarana pendidikan, pembentuk identitas serta karakter bangsa, dan sumber inspirasi untuk menghadapi masa depan.

Termasuk penjarahan Keraton Yogyakarta dalam peristiwa Geger Sepehi di Yogyakarta pada 1812. Jejak utamanya adalah Keraton Yogyakarta sendiri. Sementara jejak pendukungnya adalah benteng Vredeburg, bangunan bastion Pojok Beteng (Jokteng), termasuk Plengkung dan serpihan tembok yang kini dilengkapi dengan prasasti Geger Sepehi.

Untungnya struktur tembok Beteng Baluwarti berikut Plengkung dan joktengnya dapat dipugar. Pemugaran tembok Baluwarti ini bertujuan untuk mengembalikan fasad bangunan tersebut pada fungsi awalnya.
Benteng ini sempat dihancurkan oleh tentara Inggris dan cerita ini bisa menjadi narasi atau catatan sejarah yang juga perlu disiarkan. Melalui revitalisasi, catatan-catatan sejarah tersebut agar bisa diketahui oleh generasi mendatang.
Bangunan benteng yang sempat tertutup oleh bangunan warga sehingga tidak terlihat wujud aslinya, maka dengan revitalisasi ini kondisi tembok benteng dapat dikembalikan dan wujudnya nyata mengelilingi Keraton Ngayogyakarta.
Proses pemugaran dilakukan tahun 2020 dan selesai pada tahun 2025, Revitalisasi ini memungkinan bentuk benteng Baluwerti terlihat kemegahannya sebagaimana saat dibangun Sultan HB II.
Keraton Dipagari Benteng

Jokteng dan infrastruktur tembok adalah bukti yang kala itu Keraton memang dikelilingi oleh tembok pertahanan yang dikenal dengan nama Beteng Baluwarti, serta komplek Keraton dengan Bangsal Srimenganti di dalam Keraton, Mereka menjadi saksi bisu brutalnya serdadu Inggris di bawah Sir Stamford Raffles. Tidak hanya merusak infrastruktur fisik tapi juga tatanan budaya, (tidak menghormati tata Krama keraton). Yang fatal lagi adalah menurunkan tahta keraton. Raja dimakzulkan dan diasingkan. Harta benda keraton pun dijarah yang secara filosofis menghancurkan budaya Jawa. Peristiwa ini menyakitkan.

Setelah penjarahan, harta benda dan pusaka dibawa ke Benteng Vredeburg di depan Keraton dan menyisakan struktur yang kini ditempatkan prasasti Peristiwa Geger Sepoy.
Benteng Baluwerti dan Benteng Vredeburg di Yogyakarta adalah saksi bisu penting peristiwa Geger Sepoy (Geger Sepehi) pada 18–20 Juni 1812. Penyerbuan ini dilakukan oleh pasukan kolonial Inggris di bawah pimpinan John Crawfurd, Kolonel James Watson, dan Robert Rollo Gillespie terhadap Keraton Yogyakarta.

Bukti bukti itu menunjukkan bahwa Inggris pernah mengambil alih pemerintahan, yaitu pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun, kesultanan Yogyakarta tidak mau tunduk. Hamengkubuwono II melawan demi kedaulatan budaya dan bangsa. (PAR/nng)
