Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Perjuangan menjaga budaya adalah upaya merawat identitas dan nilai luhur bangsa dari kepunahan akibat globalisasi. Hal ini mencakup pelestarian tradisi, aksara, bahasa, hingga situs warisan budaya bangsa. Menjaga budaya bukan berarti menutup diri dari modernisasi, melainkan memadukannya agar kearifan lokal tetap hidup dan relevan.
Surabaya sudah menjadi kota modern dan salah satu kota global, yang tentunya tidak boleh kehilangan akar budayanya. Salah satunya adalah tradisi tulis, yang sudah lama ada dan bahkan justru telah dipraktikkan oleh bangsa asing, yang tinggal di Surabaya pada masa lalu.
Di masa sekarang pun masih ada juga bangsa asing yang tinggal di Surabaya masih turut menjaganya. Salah satunya adalah di Wisma Jerman sebagai upaya memajukan hubungan Kebudayaan yang sudah terjalin sejak pertengahan abad 19. Yaitu oleh maestro pelukis Raden Saleh, yang pernah membawa dan memperkenalkan budaya Jawa ke Jerman pada 1839-1849.
Ketika warga asing di Surabaya jaman now mau turut merawat budaya Jawa, bagaimana dengan orang Jawa sendiri terhadap budayanya? Tidak hanya warga ekspatriat berkebangsaan Jerman saja, tapi juga ada warga asing lainnya seperti Jepang, India dan Amerika.

Ironi bagi warga lokal, yang bahkan berbalut kain etnis Jawa dan berstatus keilmuan Jawa, tapi kurang “njawani”. Njawani (dari bahasa Jawa njawa) berarti berperilaku, berpikir, dan bersikap layaknya orang Jawa, yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bukan saja “tekstual”.
Pengetahuan budaya (tekstual) akan terasa hampa jika tidak diterapkan dalam perilaku, perirasa dan interaksi nyata menjunjung tinggi leluhur. Pengetahuan budaya atau tekstual ibarat peta, sementara perilaku, perirasa, dan interaksi nyata adalah perjalanan itu sendiri. Memahami nilai-nilai luhur di atas kertas tidak akan bermakna tanpa pengamalan langsung dalam kehidupan bermasyarakat.
Memahami budaya tidak hanya soal mengetahui sejarah atau mencatat kebiasaan sebuah kelompok. Hal ini memerlukan dua pilar utama: perilaku (tindakan nyata dan ekspresi fisik) dan perirasa (penghayatan emosi dan empati mendalam) untuk benar-benar merasakan makna di balik suatu tradisi. (PAR/nng)
