Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sri Sultan Hamengku Buwono II hidup di 1750 hingga 1828 (lahir pada 7 Maret 1750 dan wafat pada 3 Januari 1828) {Wikipedia}.
Pada masanya Beliau sudah kenal dengan perlawanan terhadap bangsa kolonial, yang hendak menjajah kedaulatan kerajaan. Apalagi ketika beliau bertahta di Kerajaan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono II dengan menghadapi imperial Inggris setelah mengambil alih kekuasaan dari Hindia Belanda pada 1811.
Maka datanglah Raffles ke keraton Yogyakarta Hadiningrat. Tujuan utamanya datang dan berhubungan dengan Keraton Yogyakarta adalah untuk menegakkan kekuasaan penuh pemerintah kolonial Inggris di Pulau Jawa, menguasai wilayah-wilayah kerajaan lokal, serta menundukkan kekuatan politik Sultan Hamengkubuwono II, yang dianggap membahayakan posisi dominasi Inggris. {Kompas.id}

Sri Sultan Hamengkubuwono II pun menentang kesewenang-wenangan kolonial Belanda dan Inggris secara konsisten dan pantang menyerah. Apalagi kedatangannya hendak pula merusak tatanan tata Krama Keraton. Yaitu sang tamu Raffles tidak mau duduk di bawah singgasana Raja. Karena keberaniannya menolak intervensi asing yang merugikan kedaulatan serta kewibawaan Kesultanan Yogyakarta, Ia pun bersitegang dengan Raffles, yang berujung pada penyerbuan ke Keraton (Geger Sepoy).
Tahta kerajaan jadi taruhannya dan bahkan ancaman kematian pun mengintai. Terbukti Sultan Hamengku Buwono II naik turun tahta sebanyak tiga kali (1792–1810, 1811–1812, dan 1826–1828).
Sri Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh) wafat pada tanggal 3 Januari 1828 dalam usia 77 tahun ketika sedang menjalani masa pemerintahan (bertahta) ketiganya (1826–1828) di Kraton Jogja.
Sri Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh) dibebaskan dari pengasingan dan kembali bertahta pada 18 Agustus 1826 dengan harapan dapat membantu meredam Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
Beliau dikukuhkan oleh Du Bus de Gisignies di Buitenzorg pada 18 Agustus 1826 sebelum kembali ke Keraton Yogyakarta pada September 1826.
Kehadiran kembali Sultan HB II sempat sedikit melemahkan kekuatan pasukan Diponegoro, meskipun sang sultan sendiri bersikap dilematis dan kerap mencari alasan untuk menolak tuntutan pihak Belanda.
Sri Sultan Hamengku Buwono II wafat pada tanggal 3 Januari 1828 karena sakit akibat faktor usia senja {kratonjogja.id}. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Kotagede, bukan di Imogiri karena situasi tidak memungkinkan dibawa ke Imogiri karena saat itu sedang berkecamuk Perang Jawa (Perang Diponegoro) dalam periode 1825-1830. (PAR/nng)
