Tahun Tahun Penting Dalam Lintas Sejarah Mataram Surabaya 

Budaya sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Tahun tahun penting itu adalah:

1625 : penaklukan Surabaya oleh Mataram

1743 : Penetapan Surabaya sebagai ibukota Java van den Oosthoek oleh VOC

1748/9: Surabaya di bawah Raja Pakubuwono II/III

1755 : Surabaya dalam wilayah Mataram Kasunanan Surakarta setelah perjanjian Giyanti 1755.

1812 : Geger Sepehi di Yogyakarta melawan Inggris yang dibantu Sepoy (India)

1945 : Pertempuran 10 November melawan Inggris yang dibantu Gurkha (India)

2026 : Nilai Kejuangan/ Kepahlawanan

Lintas sejarah bersama. Foto: nng

1625

Pada 1625 tercatat sejarah baru bahwa Mataram berhasil menaklukkan Surabaya. Penaklukkan ini dipimpin oleh Sultan Agung.

Surabaya ditaklukkan melalui pengepungan berkala selama lima tahun (1620-1625) serta strategi blokade logistik yang ekstrem. Sultan Agung memotong pasokan makanan dan merusak lingkungan air dengan membendung aliran sungai yang masuk ke Surabaya, dan hal ini menyebabkan kelaparan hebat dan wabah penyakit hingga penduduknya tersisa sangat sedikit dan akhirnya menyerah.

Akibat pengepungan dan pembendungan Sungai Brantas oleh Sultan Agung itu, pengaruh politik dan pemerintahan Mataram mengubah status Surabaya dari pusat kekuasaan mandiri, yang kuat menjadi wilayah taklukan pesisir di bawah kendali pusat Kesultanan Mataram di pedalaman.

Pada tahun itu (1625), pusat pemerintahan Kesultanan Mataram masih berada di Keraton Kerto (Karta). Sultan Agung telah memindahkan ibu kota kerajaan dari Kotagede ke Kerto (terletak sekitar 4,5 hingga 5 kilometer di sebelah selatan Kotagede, kini masuk wilayah Kelurahan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta)

Lokasi bekas Keraton Kerto (atau Keraton Karta) berada di Dusun Kerto, Kelurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya sekitar 12,6 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.

 

1743

Pada November 1743, Raja Mataram Pakubuwono II Surakarta secara resmi menyerahkan kedaulatan wilayah Surabaya beserta pesisir utara Jawa kepada pihak VOC sebagai hadiah dan kompensasi atas bantuan militer memadamkan pemberontakan Geger Pecinan.

Tragedi Geger Pecinan (atau Geger Pacinan) itu terjadi pada tahun 1740 hingga 1743. Peristiwa berdarah ini diawali oleh pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa di Batavia oleh VOC yang meletus pada 9 Oktober 1740, yang kemudian meluas menjadi perang besar gabungan antara pasukan Tionghoa dan Jawa melawan VOC di berbagai wilayah di Nusantara.

Kala itu (1743) Gelar Hamengkubuwono belum ada. Sosok, yang kelak menjadi Hamengkubuwono I, adalah Pangeran Mangkubumi, adik dari Pakubuwono II. Pada masa penyerahan Surabaya tahun 1743, Mangkubumi justru berada di pihak, yang melawan kebijakan kompromi kerajaan terhadap VOC dan kemudian memimpin pemberontakan besar. Tahun

1743 Surabaya menjadi ibukota Oost Java Van den Oosthoek (Ujung Timur Jawa).

Kemarahan Pangeran Mangkubumi (yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I) terhadap Sunan Pakubuwono II dipicu juga oleh pengingkaran janji hadiah sayembara tanah Sukowati serta kekecewaannya atas intervensi dan kelunakan raja (Sunan Pakubuwono II) terhadap VOC.

Kemarahan Pangeran Mangkubumi terhadap Sunan Pakubuwono II itu terjadi pada 1746 yang berujung pada pemberontakan.

Pemberontakan itu disebut Perang Mangkubumen dalam rangkaian Perang Tahta Jawa Ketiga (Perang Suksesi Jawa III), di mana Mangkubumi bergabung dengan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) menentang Surakarta dan VOC.

Pangeran Mangkubumi adalah putra dari Susuhunan Amangkurat IV, yang kemudian menjadi pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Setelah Mei 1746, Pangeran Mangkubumi (kelak Hamengkubuwono I) meninggalkan istana Surakarta dan bergabung dengan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) untuk melawan VOC dan Pakubuwana II. Perang berlanjut hingga Pakubuwana II wafat pada 1749 dan VOC mengangkat Pakubuwana III.

VOC, yang kewalahan akhirnya memakai politik adu domba untuk memecah aliansi Mangkubumi dan Raden Mas Said pada 1752, lalu berunding dengan Mangkubumi hingga tercapai Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

 

Adu Domba

VOC menggunakan taktik adu domba pada tahun 1752 untuk memecah belah kekuatan Pangeran Mangkubumi (kelak raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I) dan Raden Mas Said. Langkah ini berhasil melemahkan aliansi mereka, sehingga VOC dapat mengajak Pangeran Mangkubumi berunding dan berujung pada penandatanganan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

 

1755

Perjanjian Giyanti adalah kesepakatan pada tanggal 13 Februari 1755, yang ditandatangani oleh VOC dan Pangeran Mangkubumi. Perjanjian ini secara resmi membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian besar, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Wilayah timur dikuasai oleh Pakubuwana III dengan pusat di Surakarta (Kasunanan Surakarta). Wilayah barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I (Kesultanan Yogyakarta)

 

Wilayah Surabaya

Berdasarkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, wilayah Surabaya masuk ke dalam kekuasaan Kasunanan Surakarta di bawah kepemimpinan Susuhunan Pakubuwana III.

Dapat diketahui bahwa Pakubuwono II berkuasa dari 1726 hingga 1749.

Pakubuwono III mulai berkuasa dari 1749 hingga 1788.

 

Inskripsi Gapura Ampel

Jika dikaitkan dengan isi prasasti Gapura Ampel yang berbunyi “Kĕrtining paṇḍita winayang ing ratu” yang menunjuk pada angka tahun 1674 tarikh Jawa atau setara dengan kurun waktu antara 2 Desember 1748 hingga 10 Desember 1749 Masehi, berarti pada masa berakhirnya Pakubuwono II dan awal Pakubuwono III. Sedangkan Ratu yang disebut pada inskripsi tersebut bisa mengacu pada Pakubuwono II atau Pakubuwono III.

Perjanjian Giyanti ini mempertegas formal wilayah kekuasaan Mataram Surakarta atas Surabaya.

 

1812

Di wilayah Mataram Kesultanan Yogyakarta terjadi Geger Sepehi yang merupakan perlawanan Hamengkubuwono II (anak Hamengkubuwono I) melawan serdadu Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles yang dibantu oleh tentara Sepoy asal India sebagai wilayah jajahan Inggris.

Ketika wilayah Hindia Belanda jatuh ke tangan Inggris, Kesultanan Yogyakarta tidak mau tunduk, termasuk ketika utusan Raffles meminta kursi Raffles disejajarkan dengan Raja. Raja menolak permintaan protokoler Inggris. Pertentangan pun terjadi, yang ujungnya terjadi penyerbuan ke Keraton Yogyakarta. Tembok Baluwarti yang kokoh dan tebal serta berpengawal dijebol dan Bangsal Srimanganti, bangunan utama di kompleks Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu penting, diduduki.

Sikap itu sangat merusak peradaban keraton dan tata Krama bangsa Jawa.

 

1945

Peristiwa tahun 1812 terulang lagi dimana Inggris dengan Sekutu mencoba mau datang dan menjajah kembali Indonesia namun ditentang mentah mentah oleh arek arek Surabaya. Inggris datang bersama serdadu Gurkha asal India.

Perlawanan dan pertempuran sengit pun terjadi pada 10 November 1945 demi mempertahankan kedaulatan bangsa yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

 

Mataram Kesultanan Yogyakarta dan Surabaya 

Kedua daerah Yogyakarta dan Surabaya dalam sejarahnya memiliki pengalaman serupa tapi beda waktu. Sama sama diserang bala tentara Inggris yang sama sama diperkuat oleh prajurit India.

Dari kedua tempat ini, ada semangat perlawanan dan kepahlawanan demi kedaulatan dan harga diri. Kedua peristiwa ini memperlihatkan benturan antara ambisi kedaulatan asing dan harga diri bangsa, meski terjadi pada era yang berbeda.

 

2026

Perbandingan Peristiwa Sejarah

Secara teritorial tradisional Surabaya bukan wilayah Mataram Kesultanan Yogyakarta (tapi dalam wilayah Mataram Kasunanan Surakarta), tetapi secara teritorial nasional pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, keduanya dibawah naungan NKRI dan dari keduanya menyimpan nilai kejuangan dan kepahlawanan yang menjadi bekal dan semangat dalam mengisi kemerdekaan.

 

Yogyakarta: Geger Sepehi (19–20 Juni 1812)

Pemicu: Penolakan Sri Sultan Hamengkubuwana II terhadap intervensi kekuasaan asing di bawah kendali Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Kekuatan Lawan: Pasukan Inggris yang dibantu oleh ribuan tentara bayaran asal India (prajurit Sepoy/Sepehi).

Dampak: Keraton Yogyakarta diserbu, digulingkannya Sultan HB II, serta terjadinya penjarahan besar-besaran terhadap harta benda dan naskah kuno keraton.

 

Surabaya: Pertempuran 10 November (Oktober–November 1945)

Pemicu: Penolakan rakyat Surabaya atas ultimatum Sekutu untuk menyerahkan senjata serta kedatangan tentara Sekutu yang diboncengi oleh NICA Belanda.

Kekuatan Lawan: Tentara Britania Raya (Inggris) beserta divisi dan brigade Angkatan Darat India Britania.

Dampak: Pertempuran kota terbesar pasca-proklamasi yang menewaskan ribuan pejuang, melahirkan julukan Kota Pahlawan, dan memicu solidaritas nasional. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *