Awal Mula Sistem Pemerintahan Surabaya: Kadipaten Surabaya

Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Awal mula sistem pemerintahan Surabaya berakar dari Kadipaten Surabaya, sebuah monarki Jawa yang berdiri sekitar tahun 1549 hingga 1625

Itulah Cikal bakal Surabaya secara administratif (yang bisa dicatat) diawali dengan sistem pemerintahan tradisional kadipaten (kerajaan bawahan), yang keberadaannya di bawah Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Penguasanya disebut Adipati.

 

Adipati Jayalengkara

Tersebut nama Adipati terkenal, yaitu Adipati Jayalengkara (Joyolengkoro). Kadipaten Surabaya saat itu dikenal berpusat di Bungkul pada abad 16 sebelum ditaklukkan oleh Mataram pada 1625.

Itu yang namanya Perang Surabaya – Mataram, yang dimulai dari 1620 dan berakhir tahun 1625, dengan kemenangan Mataram. Kesultanan Mataram secara resmi berkuasa atas Surabaya pada tahun 1625, setelah pasukan Mataram, yang dipimpin oleh Sultan Agung, berhasil menaklukkan dan menguasai Surabaya melalui pengepungan yang panjang dan blokade sungai yang ketat.

Adipati Jayalengkara adalah penguasa Kadipaten Surabaya, yang saat itu masih berpusat di daerah Bungkul.

Adipati Jayalengkara sendiri meninggal tahun 1630 karena usia tua dan digantikan oleh putranya, Pangeran Pekik.

 

Pangeran Pekik

Pangeran Pekik sebetulnya sudah mulai berkuasa di Surabaya pada tahun 1614 sampai 1672 (sebelum ayahnya meninggal). Pada masa pemerintahannya, Surabaya berkembang menjadi sebuah kawasan perdagangan yang makmur. Kemakmurannya bahkan menggantikan Gresik, yang telah menjadi kota pelabuhan sejak era Raja Airlangga.

 

Adipati Mas Jangrana Anggawangsa

Pangeran Pekik kemudian digantikan oleh putranya yaitu Adipati Mas Jangrana Anggawangsa / Jayengrono / Jayo ing Lago, yang menjadi menantu dari trah Sunan Giri yaitu Pangeran Lanang Dangiran.

Beberapa penguasa yang berasal dari keluarga ini (penerus Pangeran Pekik 1614 – 1672) antara lain :

Area pemakaman Bungkul. Foto: Oudsoerabaia.

Jangrana I : Jayengrana Anggawangsa (berkuasa mulai tahun 1672 – 1706)

Jangrana II : Jaka Tangkeban / Prabujaka bin Jayengrono Onggowongso (berkuasa mulai tahun 1706 – 1709 kemudian pindah ke Malang)

Jangrana III : Surodirono bin Jayengrono Onggowongso (berkuasa mulai tahun 1709 – 1714)

Jangrana IV : Jayapuspita bin Jayengrono Onggowongso (berkuasa mulai tahun 1714 – 1722)

Peta denah dari Oud Soerabaia, GH Von Faber
Makam kedua dari tembok adalah makam Jangrana. Foto: ist

Nama Jangrana (Jayengrono) ini kemudian diabadikan menjadi nama Taman Jayengrono di kawasan Jembatan Merah. Berdasarkan buku Oud Soerabaia (GH von Faber), makam Jangrama berada di Bungkul di bawah satu bangunan cungkup yang sama dengan Mbah Bungkul.

Sementara Jangrana IV atau Jayapuspita adalah sosok yang berperang melawan gabungan pasukan Kerajaan Kartasura (di bawah pemerintahan Amangkurat IV) dan pasukan kolonial VOC. Peperangan ini dikenal sebagai bagian dari Perang Surabaya. (PAR/nng)

 

Sumber :

Oud Soerabaia, GH Von Faber

Wikipedia

IG Surabayapunyacerita

https://disbudporapar.surabaya.go.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *