Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Punden dikenal sebagai tetenger (penanda) spiritual dan historis dari proses babat alas (membuka lahan/hutan). Area yang dikeramatkan ini biasanya berupa makam cikal bakal atau tokoh pertama, yang mendirikan desa, sekaligus menjadi pusat penghormatan dan pemersatu warga.
Hasil dari proses babat alas (membuka lahan/hutan) ini umumnya secara luas menjadi kawasan permukiman. Istilah babat alas (dalam bahasa Jawa, babad berarti menebang dan alas berarti hutan) mengacu pada proses membuka lahan atau hutan belantara. Hasil dari proses ini umumnya memang dikonversi menjadi kawasan non-hutan, terutama permukiman.
Secara tradisional kita mengenal kawasan, yang namanya pedukuhan, pedesaan atau bahkan kota, adalah hasil pembangunan dan modernisasi serta kemajuan peradabannya.
Dalam konsep geografi dan pengembangan wilayah, pedukuhan (dukuh/dusun) merupakan sub-unit dari desa. Sementara itu, pedesaan sendiri dicirikan oleh aktivitas agraris, dan perkotaan yang merupakan pusat modernisasi dengan penggunaan lahan non-pertanian yang kompleks. Ketiganya saling berinteraksi melalui mobilitas penduduk dan ekonomi.
Dalam perjalanan sejarah, kota Surabaya (wilayah administratif Surabaya) ini, kita mengenal jejak dukuh, desa/kelurahan dan kota. Misalnya ada kampung kampung dengan toponimi Dukuh (Dukuh Kupang, Dukuh Pakis dan Dukuh Menanggal serta Dukuh Setro).
Juga ada nama nama desa atau dalam administrasi modern menjadi kelurahan. Misalnya kelurahan Made, kelurahan Waru Gunung dan Kelurahan Pagesangan.
Sementara toponimi Surabaya sendiri berasal dari nama Naditira Pradesa (desa di tepian sungai) Śūrabhaya.
Kota Lama Surabaya

Surabaya awalnya adalah pemukiman kecil di tepi sungai, yang terdiri dari bermacam macam etnis. Ada kampung (permukiman) etnis Tionghoa yang selanjutnya disebut Pecinan. Ada kampung (pemukiman) etnis Arab yang kemudian disebut Kampung Arab. Termasuk ada kampung (permukiman) Eropa yang selanjutnya disebut Kampung Eropa.
Ketiga kampung etnis ini berada di pinggiran sungai Kalimas. Sebagai perbandingan, juga ada perkampungan tua di Eropa, seperti di Belanda. Ada kampung tua yang bernama Nijmegen yang berada di tepi sungai Wall. Contoh lainnya adalah kampung tua Paramaribo yang berada di tepi sungai Suriname. Juga kota kota lain di pulau Jawa seperti Jakarta di tepi sungai Ciliwung dan Semarang di tepi sungai Semarang.
Di Surabaya dengan peradaban Kota Lamanya, yang berisi kampung Eropa, Kampung Pecinan dan Kampung Arab. Pada awalnya setiap kampung ini pasti ada yang mengawali. Contohnya kawasan Ampel, secara historis termasyhur di buka oleh Raden Rahmat Kuburannya ada di barat dari Masjid Ampel
Pun. demikian dengan Kampung Tionghoa (Pecinan), yang disana masih dijumpai makam tua dari keluarga keluarga Han Bwee Kong (1727–1778). Ia adalah Kapiten Tionghoa (Kapitein der Chinezen) pertama di Surabaya, yang ditunjuk oleh VOC dan memiliki pengaruh besar atas wilayah tersebut. Masih ada sisa makam keluarga Han di pekarangan rumah keluarga Han di jalan Karet.
Hal yang sama adalah dengan kampung Eropa, yang sayangnya jejak makam pendahulunya sudah hilang. Dulu pernah ada makam di sekitar gereja protestan di sekitar jalan Heerenstraat (kini Rajawali), lalu pindah ke makam Krembangan (lantas ditutup) dan pindah lagi ke Peneleh yang dibuka pada Desember 1847.
Di kawasan kota lama Surabaya ini, kita hanya bisa melihat hasil perkembangan peradabannya. Ada kampung Eropa, Kampung Pecinan dan Kampung Ampel.
Punden Ampel Denta (tokoh yang membuka kawasan Ampel Denta) masih dapat dijumpai yang tidak lain adalah makam Raden Rahmat (Sunan Ampel). Namun untuk kawasan Eropa tidak dikenal sosok yang pernah membuka kampung Eropa ini.
Secara kelembagaan dari catatan sejarah dan berdasarkan sumber sumber seperti dari narasi Asia Mayor dan GH von Faber, bahwa kawasan ini dibuka oleh VOC, yang masuk Surabaya pada awal abad 17.
Kampung Eropa adalah sebuah contoh perkembangan kawasan yang tumbuh dari desa di pinggiran sungai (Naditira Pradesa) menjadi kota. Bahkan wajah kota Surabaya pada masa itu adalah bagian yang menghadap ke sungai Kalimas. Dalam lukisan tua, yang dibuat Johannes Rach pada paruh kedua abad 18, dituliskan wajah Surabaya, yaitu gambar yang memperlihatkan deretan bangunan di tepian sungai Kalimas yang dipandang dari Timur ke arah Barat.
Itulah peradaban Kota Lama Surabaya, yang sejarahnya dapat ditelusuri berdasarkan sumber dan data historis yang ada.
Andai peradaban kampung kampung di Surabaya memiliki data sejarah yang jelas, maka kehadiran punden punden yang ada tidak hanya berdasarkan sumber tutur lisan saja. (PAR/nng)
