Jejak Naditira Pradesa Gesang, Bukul dan Śūrabhaya di Kota Surabaya.

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Berdasarkan pada sumber prasasti Canggu (1358 M), ada tiga desa yang berada di pinggiran sungai Kalimas (d/h Kali Surabaya) di wilayah administratif Surabaya, yakni Pagesangan (Gsang), Bungkul (Bekul) dan Śūrabhaya (Surabaya). Posisinya secara berurutan sesuai alur sungai dari selatan ke Utara.

Ketiga desa di tepi sungai ini dikatakan sebagai Naditira Pradesa. Keberadaan mereka sudah sangat jelas dan tegas karena tertulis dalam sebuah catatan resmi Kerajaan oleh seorang raja. Raja Majapahit, Hayam Wuruk.

Nama daerah itu menjadi petunjuk yang hingga sekarang masih ada, yaitu Pagesangan (Gsang), Bungkul (Bekul) dan Surabaya (Śūrabhaya).

Keberadaan daerah daerah itu secara alami berada di tepi sungai Kali Surabaya / Kalimas. Dari ketiga desa atau tempat itu hanya Surabaya, yang belum diketahui secara resmi seperti halnya Pagesangan dan Bungkul. Dimanakah Desa Śūrabhaya?

Namun dari petunjuk arkeologis, seperti temuan Sumur Jobong di Pandean, Peneleh dapat dijumpai. Sumur Jobong adalah sumur kuno yang umum digunakan di era Majapahit. Sumur Jobong dekat dengan sungai Kalimas. Secara historis, kampung Pandean di lingkungan Peneleh adalah kampung bangsawan Surabaya di zamannya.

Belum ada penelitian resmi, yang mengaitkan Peneleh dengan desa Śūrabhaya.

Sekali lagi dari jejak kekunoan, memang ketiga kawasan ini: Pagesangan, Bungkul dan Peneleh memiliki petunjuk itu. Petunjuk itu adalah makam makam kuno atau punden.

 

Punden Pagesangan

Terdapat beberapa punden di wilayah Pagesangan (Kecamatan Jambangan). Berdasarkan penelusuran sejarah, wilayah ini merupakan kampung kuno, yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu (era Kerajaan Medang dan Majapahit).

Prasasti prasasti ini adalah Prasasti Kencana (860 M) di era kerajaan Medang dan Prasasti Canggu (1358 M) di era Kerajaan Majapahit.

Contohnya di Pagesangan terdapat Punden Makam berpasangan. Warga setempat meyakini adanya makam leluhur yang dihormati sebagai punden di lingkungan Pagesangan. Makam ini dihormati dengan sebutan seperti Mbah Gede, Mbah Punosani, dan Mbah Zakaria.

Dari beberapa punden yang dikeramatkan secara turun-temurun, saat ini memang tersisa dua titik. Salah satu punden yang dulunya berbentuk makam berpasangan sudah terdampak oleh pemukiman padat dan kini lokasinya tertimpa bangunan Taman Kanak-Kanak (TK) setempat.

Dahulu, wilayah Pagesangan memang dikenal dengan nama “Gesang” (yang berarti hidup/sumber kehidupan) dan tercatat dalam berbagai prasasti kuno. Punden-punden tersebut menjadi salah satu bukti sejarah kuat mengenai jejak kebudayaan yang ada di perkampungan Pagesangan

 

Pagesangan Kaya Prasasti

Pagesangan ini kaya prasasti dan salah satunya digunakan sebagai penanda hari jadi desa Pagesangan,

yang dirayakan setiap 31 Oktober. Yaitu Prasasti Kencana. Untuk menandai hari jadi itu, Kelurahan Pagesangan membuat replika prasasti Kencana dimana nama Gesang dituliskan.

Menurut pegiat sejarah klasik Tepe Wijoyo bahwa Prasasti Kancana (atau Bungur Lor) merupakan sebuah “Tamra Prasasti” (prasasti lempeng tembaga), yang dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi (Raja Medang / Mataram Kuno) dan ditinulad pada masa Majapahit, di masa pemerintahan raja Dyah Hayam Wuruk pada tahun 1295 saka (1373 M).

Ditambahkan Wijoyo bahwa isi prasasti Kancana adalah penganugerahan status “sima” Kepada Desa Bungur Lor. Di dalam prasasti tersebut menyebut “wanua tepi siring” atau desa sekitar, yang diundang saat penganugerahan sima di Desa Bungur Lor. Salah satunya adalah Gesang (Pagesangan).

Perlu diketahui bahwa eksistensi Pagesangan sebagai kampung kuno sudah terekam dalam lima prasasti dengan masa yang berbeda. Yaitu:

1) Prasasti Kancana (860 M), 2) Prasasti Kakurugan (1023 M), 3) Prasasti Canggu (1358 M), 4) Prasasti Selamandi (1394 M), 5) Prasasti Patapan II (1418 M).

Berdasarkan lima prasasti di atas, dapat disimpulkan bahwa kawasan Pagesangan Surabaya, yang dulu bernama “Gesang”, sudah ada pada abad 9 hingga abad 15, yang terekam dalam Prasasti Kancana sebagai sumber tertua di antara prasasti lainnya.

 

Punden Bungkul

Jejak ketuaan di suatu tempat umumnya dikenal dalam bentuk punden, yakni tetenger (penanda) spiritual dan historis dari proses babat alas (membuka lahan/hutan). Area, yang dikeramatkan ini, biasanya berupa makam cikal bakal atau tokoh pertama, yang mendirikan/membuka desa, sekaligus menjadi pusat penghormatan dan pemersatu warga.

Di Bungkul terdapat tempat yang umum dikenal dengan makam Ki Ageng Bungkul. Ki Ageng Bungkul juga dikenal sebagai Mbah Bungkul

Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair), Adrian Perkasa, S.Hum MA menjelaskan bagaimana legenda atau folklore, serta prasasti meriwayatkan kisah Mbah Bungkul.

Menurutnya dalam legenda yang berkembang tidak diketahui dengan jelas bagaimana kisah Mbah Bungkul memeluk islam dan bagaimana ia menyebarkan ajaran islam di Surabaya. Namun diketahui bahwa Mbah Bungkul mengadakan sebuah sayembara untuk mencari menantu dengan melarung buah delima.

Selain itu kisah Bungkul diketahui secara otentik melalui sebuah prasasti yang bernama Prasasti Canggu, yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk pada 1358 M. Diriwayatkan bahwa ada beberapa desa yang mendapat keistimewaan bebas pajak, mendapat akses ke kerajaan, serta bebas melaksanakan ibadah. Desa desa itu disebut Naditira Pradesa atau desa desa di tepian sungai. Bungkul adalah salah satu desa di tepian sungai.

“Desa-desa itu terletak di daerah aliran sungai besar Jawa Timur, seperti Brantas dan Bengawan Solo,” tambah Adrian Perkasa

Pada masa itu, letak geografis Bungkul, yang strategis dan dekat dengan aliran sungai, memicu berbagai keuntungan. Dari sisi ekonomi, sebelum dibangunnya jalur darat oleh Daendels, sungai merupakan kawasan strategis ekonomi karena menjadi jalur utama aktivitas perdagangan.

Jejak ketuaan utama di daerah Bungkul ini adalah Makam Ki Ageng Bungkul, yang hingga sekarang masih lestari dan banyak dikunjungi peziarah. Letaknya tidak jauh dari sungai Kalimas, di Barat Sungai.

Rerimbunan vegetasi di area pemakaman Bungkul mengingatkan pada alam pedesaan meski letaknya di lingkungan modern di kawasan Darmo.

Di sekitar Bungkul juga terdapat makam tua yang berada di dalam sebuah bangunan eks kolonial. Ini menunjukkan bahwa selain Mbah Bungkul, juga masih ada lagi tetenger atau pepunden lainnya yang terkurung oleh modernisasi.

 

Punden Śūrabhaya

Makam kuno Eyang Kudo Kardono. Foto: ist

Dari Naditira Pradesa Gesang dan Bekul, yang titik keberadaannya dapat diidentifikasi, kini bagaimana dengan Naditira Pradesa Śūrabhaya.

Belum ada penelitian yang mengacu pada titik lokasi dimana desa Śūrabhaya berada, utamanya daerah di pinggiran kali.

Ada toponimi kampung Surabaya, yang sekarang disebut Surabayan di daerah Tegalsari. Tetapi Tegalsari lumayan berjarak dari sungai, tidak sedekat dibandingkan dengan Bungkul dan Pagesangan.

Di kawasan ini terdapat kekunoan yang berupa makam. Yakni makam Kudo Kardono. Kudo Kardono (atau Eyang Yudo Kardono) dipercaya sebagai seorang panglima perang kepercayaan di Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara (1309–1328). Makam ini tidak jauh dari kampung Surabayan.

Ada dugaan tempat lain dimana desa Śūrabhaya berada. Yaitu di kawasan Peneleh dimana ditemukan sumur Jobong dari era kerajaan Majapahit, yang umum ditemukan di Trowulan. Peneleh secara geografis berada di dekat sungai Kalimas.

Jadi desa Śūrabhaya sebagaimana tersebut dalam prasasti yang dikenal sebagai Naditira Pradesa apakah itu Peneleh atau Surabayan. Menarik untuk dikaji.

 

Tambangan

Perahu tambangan adalah jasa penyeberangan sungai yang tidak asing di ketiga lokasi ini: Pagesangan, Bungkul dan Śūrabhaya.

Tambangan masih ada hingga sekarang. Di kawasan Pagesangan di kali Surabaya, jasa Tambangan ada di beberapa titik. Di Kalimas kini hanya tinggal satu jasa Tambangan yang lokasinya di jalan Ngagel dekat Kampung Bagong Ginayan. Dulu ada beberapa titik, misalnya di Peneleh.

Di era pemerintahan Hindia Belanda, semakin ke Utara masih ada beberapa titik jasa Tambangan, seperti misalnya di dekat jalan Bibis.

Di era sekarang penyeberangan dengan perahu tambang ini memiliki peran besar dalam mempermudah mobilitas warga, terutama mereka yang menggunakan sepeda, berjalan kaki, atau bahkan membawa kendaraan roda dua.

Manfaat jasa Tambangan seperti, yang dirasakan warga saat ini, serupa dengan.apa yang dirasakan oleh warga Naditira Pradesa pada masa lalu. (PAR/nng)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *