Kalimas Icon Surabaya 

Budaya Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sungai Kalimas bukti peradaban paling tua di Surabaya. Sungai ini merupakan urat nadi dan titian peradaban tertua di Surabaya. Kalimas bersifat alami. Ia mengalir dari Selatan ke Utara membelah kota, Kalimasi telah menjadi pusat kehidupan, perdagangan, transportasi, dan permukiman sejak abad ke-13, yang berakar dari era Kerajaan Majapahit hingga masa kolonial VOC, Belanda dan sekarang. Bahkan keberadaannya bisa lebih awal dari abad 13.

Kalimas ibaratnya orang tua yang patut dihormati dan dihargai. Sebagai urat nadi Kota Surabaya, sungai ini menyimpan nilai sejarah yang besar sejak zaman Majapahit dan menjadi saksi pertumbuhan kota. Menjaganya sama dengan menghormati warisan dan identitas peradaban masyarakat Surabaya.

Surabaya adalah kota maritim di mana istilah kemaritiman itu tidak hanya bertumpu pada wilayah lautan, tetapi juga sungai sungainya yang menjadi penghantar pedalaman dan perairan (lautan). Peran historisnya, yang juga pernah sebagai bandar perdagangan Kerajaan Majapahit dan VOC, kini bertransformasi menjadi ruang publik dan wisata air perkotaan yang ikonik.

Sungai Kelalimas dengan pelabuhan rakyat. Foto: ist

Karenanya keberadaan Kalimas perlu dijaga. Baik dijaga secara fisik, juga dijaga memori kolektifnya. Menjaga Sungai Kalimas sangat vital bagi identitas Kota Surabaya. Pelestarian fisik memastikan alirannya bersih dan fungsional, sedangkan menjaga memori kolektif adalah mempertahankan narasi sejarahnya sebagai nadi perdagangan era Majapahit dan Kolonial, sehingga warisan budaya ini terus hidup bagi generasi mendatang.

Narasi tentang Kalimas juga perlu dibangun dan dihidupkan. Menghidupkan kembali narasi Sungai Kalimas sangat krusial untuk mengembalikan identitas Surabaya sebagai kota maritim dan pusat perniagaan yang sarat sejarah. Narasi ini bisa dibangun melalui tiga pilar utama: wisata sejarah, ruang kreatif budaya, dan revitalisasi fungsi sungai.

Sebuah gagasan tentang ekspedisi Kalimas sangat berpotensi untuk menggali ketiganya: sejarah, budaya dan lingkungan yang dari ketiganya akan bisa membuka potensi pariwisata.

Susur sungai itu secara holistik merangkum sejarah kejayaan Majapahit dan kolonial, akulturasi budaya multikultural, serta kampanye pelestarian lingkungan air. Integrasi ketiganya memang bisa membuka peluang besar bagi pariwisata edukatif dan berkelanjutan.

Ayo berekspedisi. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *