Wisma Jerman Surabaya Mewarisi Nilai Persahabatan & Perdamaian Yang Diperkenalkan Raden Saleh.

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Wisma Jerman, secara umum, dahulu dikenal dengan nama Goethe Institut. Sekarang layanan Goethe-Institut di Surabaya ini diselenggarakan melalui kemitraan dengan Wisma Jerman. Kampusnya terletak di Jalan Taman A.I.S. Nasution No.15, Surabaya. Mereka menyediakan kursus Bahasa Jerman terstandarisasi, pendaftaran ujian Goethe-Zertifikat (A1-C2), sertifikasi tanpa batas waktu, serta lokakarya kebudayaan dan informasi studi ke Jerman.

Termasuk informasi tentang budaya dan pendidikan di Jerman. Siapa yang tahu bahwa Jerman dan Indonesia pada pertengahan abad 19 sudah ada koneksi di bidang budaya melalui seorang seniman lukis legendaris, Raden Saleh.

Pelukis legendaris Indonesia, Raden Saleh ini, dikenal memiliki ikatan sejarah yang sangat erat dengan kota kecil Maxen di Jerman. Antara tahun 1839 dan 1849, ia pernah menetap di wilayah ini dan bersahabat dengan bangsawan Jerman, Mayor Friedrich Anton Serre. Karya-karya dan peninggalannya masih dilestarikan serta dikenang oleh warga setempat hingga saat ini.

Raden Saleh memang sangat dikenang oleh masyarakat di Maxen, Jerman, karena ia pernah tinggal di sana selama 10 tahun dan sangat dihormati sebagai sosok yang ramah. Warga setempat mengenangnya sebagai pelopor yang menjembatani kebudayaan Timur dan Barat, sang “Pangeran dari Jawa”, dan duta perdamaian yang membawa dampak besar.

Raden Saleh dianggap sukses memadukan kehalusan budaya Jawa dengan seni lukis Romantisme Eropa. Ia menjadi simbol dialog dan penghubung kultural yang diabadikan oleh warga setempat. Ini menjadi jembatan emas antar budaya.

Karenanya masyarakat Maxen secara rutin memperingati hari kelahiran sang maestro, menjadikannya ikon sejarah lokal yang dihormati.

Pameran lukisan tentang Raden Saleh di Jerman. Foto: isibali

Dikutip dari ISI Bali, bahwa pada 25 Mei 2011 sebanyak 15 lukisan karya Heri Dono mengenai Raden Saleh dan pemikiran serta pengalamannya digelar dari bulan Mei hingga September 2011 di Istana Maxen, Jerman.

Selain itu pada setiap hari kelahiran Raden Saleh, warga kota Maxen merayakan Hari Ulang Tahunnya di lokasi dimana Raden Saleh pernah tinggal. Yaitu di tempat yang bernama Blue House di kota Maxen.

Blue House di kota Maxen. Foto: ist

Meski sudah lebih dari 175 tahun, persahabatan antar masyarakat Kota Maxen dan Indonesia masih terjalin dan terawat dengan baik. Jembatan persahabatan itu adalah melalui jalur budaya. Secara visual wujud budaya yang bisa dilihat hingga sekarang adalah Aksara Jawa yang membawa pesan perdamaian.

Pesan bertuliskan aksara Jawa di Blue House di kota Maxen Jerman. Foto: ist

Pesan itu tertulis di atas pintu Blaues Häusel (Rumah Biru) di kota Maxen, Jerman, dan berbunyi “Ehre Gott und liebe die Menschen”. Kalimat ini ditulis dalam dua bahasa, yakni Bahasa Jerman dan Aksara Jawa, yang memiliki arti:”Muliakanlah Tuhan dan Cintailah Sesama Manusia”. Pesan ini sangat kuat dan manusiawi yang seolah menembus ruang dan sekat serta jarak. Yang ada adalah manusia sebagai ciptaan Tuhan yang universal.

Raden Saleh penjembatan budaya. Foto: ist

Kehidupan dan karya pelopor seni lukis modern Indonesia ini memang selalu memancarkan semangat kemanusiaan yang menembus batas ras, agama, dan geografis. Rumah Biru di Maxen, Jerman adalah bukti nyata toleransi dan persahabatan sejati antara seorang priayi Jawa Muslim dan sahabat Jermannya, Mayor Friedrich Anton Serre.

Masyarakat Maxen merayakan Hari Ulang Tahun Raden Saleh di depan Blue House. Foto: ist

Ketika masyarakat Jerman masih menyambung dan mewarisi nilai persahabatan dan perdamaian yang telah diperkenalkan oleh Raden Saleh, di Surabaya ada lembaga budaya dan pendidikan Wisma Jerman (Goethe Institut) menyambung dan mengingatkan generasi muda Surabaya dengan ikatan budaya Aksara Jawa. Para siswa Wisma Jerman pasti tahu bahwa di setiap kelas terdapat tulisan Aksara Jawa yang menuliskan nama nama kelas seperti kelas Berlin, kelas Hamburg dan kelas Munchen.

 

Puri Aksara Rajapatni mendampingi penulisan aksara Jawa di Wisma Jerman. Foto: dok par
Salah satu nama kelas, Hamburg. Foto: dok par

Nama-nama ruang kelas itu diambil dari kota-kota besar serta tempat ikonik di Jerman, dan uniknya bahwa setiap papan namanya ditulis menggunakan kombinasi aksara Jawa dan Latin. Ini adalah bentuk jembatan budaya yang masih relevan dalam mewarisi pondasi persahabatan antara Jerman dan Indonesia yang diperkenalkan Raden Saleh.

Buku baru oleh Puri Aksara Rajapatni yang didukung Wisma Jerman. Foto: par

Alasan ini yang juga membuat Wisma Jerman mendukung komunitas budaya Puri Aksara Rajaptni dalam hal penerbitan buku ŚŪRABHAYA yang mengangkat makna asli dan asal yang bersumber dari prasasti yang bertulis aksara Jawa Kuno (Kawi), Prasasti Canggu (1358 M).(PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *