Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Menjaga punden di suatu daerah sangat penting karena punden menjadi simbol identitas kultural, pusat sejarah permukiman, dan pengikat nilai sosial kemasyarakatan. Secara spesifik, keberadaan punden berfungsi sebagai:Penanda Cikal Bakal.
Punden umumnya merupakan makam atau petilasan tokoh pembabat alas (pendiri pertama) suatu pedukuhan, desa dan daerah. Punden menjadi bukti otentik sejarah awal mula terbentuknya wilayah tersebut.

Merawat punden bukan merawat mitos tetapi menjaga sejarah. Punden bukan sekadar ruang mistis atau mitos, melainkan situs cagar budaya dan penanda peradaban masa lalu. Menjaganya adalah bentuk penghormatan terhadap identitas leluhur.
Membersihkan area punden (seperti batu menhir atau struktur bata kuno) tanpa merubah bentuk aslinya bisa dinamakan Restorasi Fisik.
Sementara mencatat dan mendokumentasikan keberadaan punden seperti dalam bentuk penulisan ini (oleh rajapatni.com) agar memiliki nilai edukasi yang valid dan bisa dikategorikan pendataan arkeologis
Lantas mengubah narasi dari cerita mistis menjadi sejarah edukatif bagi generasi muda adalah edukasi budaya.
Kolaboratif

Dalam upaya itu semua akan lebih bagus bila dilakukan secara kolaboratif. Setidaknya antara unsur pemerintah daerah dengan pegiat sejarah dan media. Dalam proses itu, hasil kolaborasi bisa segera diinformasikan ke publik.
Punden adalah milik bersama. Apalagi kolaborasi itu bisa melakukan pendokumentasian punden punden di suatu wilayah kota, misalnya Kota Surabaya. Maka kesadaran bersama bisa dibangun secara kolaboratif (gotong royong) untuk kepentingan bersama menjaga ingatan kolektif kota.
Mendokumentasikan punden secara kolaboratif adalah langkah terpuji untuk menjaga ingatan kolektif bersama (Kota Surabaya). Dengan pendekatan crowdsourcing (gotong royong), kita bisa memetakan berbagai bentuk punden, mulai dari makam leluhur, pohon besar, hingga punden air, yang tersebar di berbagai sudut kampung.Surabaya. Mereka memiliki sejarah panjang terkait punden yang tersebar di wilayah seperti Lakarsantri (misalnya Punden Pesapen dan Punden Sigit) dan Balas Klumprik.
Aset Budaya Dan Pariwisata
Punden bisa menjadi Pusat Ritual dan Tradisi seperti dengan Punden Singojoyo di desa/kelurahan Made. Punden ini menjadi titik atau pusat berbagai kegiatan komunal seperti bersih desa (barikan), nyadran, atau sedekah bumi guna mempererat tali silaturahmi antar warga.
Secara langsung kegiatan semacam ini menjadi upaya bersama dalam pelestarian nilai budaya. Yaitu menjaga jati diri dan kearifan lokal agar tidak tergerus modernisasi sehingga nilai-nilai luhur leluhur tetap lestari.
Objek ini juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan wisata. Banyak punden, seperti Punden Pesapen di Surabaya, kini dikelola sebagai cagar budaya untuk mengenalkan sejarah lokal.
Di kawasan Surabaya dan sekitarnya sendiri terdapat banyak punden bersejarah yang dilindungi, seperti halnya Punden Kudo Kardono di jalan Cempaka Surabaya.
Menurut Walikota Surabaya Eri Cahyadi merawat dan melestarikan punden bukanlah melestarikan mitos tetapi merawat dan melestarikan sejarah. Karenanya pemerintah Kota Surabaya sedang giat merawat punden punden dengan membangun dan menata lingkungan punden. Demikian kata Walikota ketika bertemu dengan pegiat Sejarah Surabaya di Balai Kota pada Jumat, 19 Juni 2026. (PAR/nng).
