Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebagai daerah tua, yang sudah ada di tahun 1358 M, berdasarkan Prasasti Canggu (entah dimulai pada tahun berapa, tetapi sejak ditulisnya prasasti Canggu pada 1358, desa Śūrabhaya sudah ada). Berangkat dari desa di tepian sungai (Naditira Pradesa), akhirnya desa Śūrabhaya ini tumbuh dan berkembang menjadi Kota Surabaya sekarang, yang wilayahnya seluas 335 km2.
Tentu di banyak tempat di kota ini tersebar orang orang, yang pernah membuka kawasan menjadi pedesaan atau pedukuhan kala itu. Keberadaan pedukuhan itu kerap ditandai oleh punden punden, yang dikenal sebagai sebagai cikal bakal (pendiri awal) masyarakat pedukuhan atau pedesaan.
Surabaya mempunyai banyak punden dan tersebar di banyak tempat. Untuk mengawali penelusuran punden punden Surabaya, penulis menggunakan acuan kawasan peradaban tua yang keberadaannya alami. Yaitu peradaban maritim sungai.
Kemaritiman Majapahit, kala itu, tidak hanya wilayah lautan tetapi juga sungai sungai, yang menjadi penghubung lautan dan pedalaman. Salah satu sungai itu adalah sungai Brantas dengan anak kalinya, Kali Surabaya yang di percabangan Wonokromo mengalir ke Utara dikenal juga sebagai Sungai Kalimas.
Bahkan Kali ini secara alami sudah ada sebelum peradaban manusia menempatinya. Perlu diketahui bersama bahwa bumi dan alam semesta telah ada jauh sebelum peradaban manusia muncul.
Untuk mengenali peradaban tua Surabaya, sebaiknya kita merunut keberadaan sungai yang mengalir di dalamnya. Salah satunya adalah sungai Surabaya dan Kalimas.
Zaman Purba
Sejak zaman dahulu kala, sungai sudah menjadi tumpuan peradaban manusia, manusia purba. Contohnya ada Trinil dan Sangiran yang letaknya di pinggir Bengawan. Lalu ada desa Tarik yang menjadi lokasi awal Majapahit (1293). Letaknya juga di pinggir kali Brantas tepatnya di kawasan Delta percabangan sungai Brantas dan Kali Surabaya.
Ketika kita menyimak Prasasti Canggu (1358 M), juga disebutkan desa desa di tepian Kali Brantas dan Bengawan Solo (Naditira Pradesa). Ada 77 Naditira Pradesa. Tiga diantaranya berada di pinggiran sungai Kalimas Surabaya (Kalimas) di wilayah administratif Surabaya. Ketiga Naditira Pradesa itu adalah Pagesangan (Gsang), Bungkul (Bekul) dan Surabaya (Śūrabhaya).
Di sepanjang Kali Surabaya sendiri khususnya Kalimas diidentifikasi terdapat pemukiman awal. Yaitu di kawasan Peneleh yang kemudian semakin ke Utara, karena terjadi sedimentasi sungai, yaitu di Ampel Denta yang dikenal kawasan pemukiman dari rombongan yang datang dari Trowulan. Yakni rombongan yang datang bersama Raden Rahmat, yang kelak dikenal dengan sebutan Sunan Ampel (Susuhunan ing Ngampel Denta).
Raden Rahmat
Raden Rahmat membuka lahan baru untuk permukiman dan sekaligus menyebarkan ajaran Islam. Ketika Raden Rahmat meninggal, beliau dimakamkan yang tidak jauh dari Masjid yang didirikannya. Yaitu di sisi Barat Masjid Ampel.
Secara fungsi spiritual dan kultural, Makam Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya bisa disebut sebagai punden. Dalam tradisi Jawa, punden adalah makam tokoh cikal bakal atau pendiri wilayah yang dihormati dan disakralkan. Sunan Ampel sendiri merupakan sosok utama penyebar Islam dan pendiri peradaban di kawasan Ampel Denta.
Namun, secara terminologi sejarah, terdapat perbedaan penting:
Punden Tradisional:
Identik dengan peninggalan era prasejarah atau Hindu-Buddha (sering disebut punden berundak), yang menjadi pusat pemujaan roh leluhur dan penjaga desa.
Makam Sunan Ampel:
Merupakan kompleks makam Islam (wali) yang menjadi pusat wisata religi dan ziarah. Meskipun dihormati dan diziarahi untuk mendoakan leluhur, aktivitas di dalamnya berlandaskan tata cara ziarah Islam, bukan ritual pemujaan punden tradisional.
Bahwa secara faktual makam Sunan Ampel tidak jauh dari sungai Kalimas dan Pegirian. Selain makam Sunan Ampel, masih ada daerah daerah yang merupakan daerah tua di tepian Kalimas. Salah satunya lagi adalah makam Mbah Bungkul yang daerahnya, Bungkul, juga dicatat dalam prasasti Canggu.
Mbah Bungkul

Makam Mbah Bungkul (Sunan Bungkul) di Surabaya dapat dikategorikan sebagai punden. Dalam konteks tradisi Jawa, punden merujuk pada makam atau petilasan tokoh leluhur babat alas (pendiri desa) yang dihormati dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Mbah Bungkul (juga dikenal sebagai Sunan Bungkul atau Ki Ageng Supo) adalah tokoh yang diyakini masyarakat sebagai pembabat alas (pendiri pemukiman awal) di daerah Bungkul, Surabaya.
Dua nama: Mbah Bungkul dan Sunan Ampel dikenal sebagai tokoh yang membuka wilayah. Dua nama ini menjadi penuntun untuk mencari tokoh tokoh serupa yang kehadirannya membuka lahan baru untuk permukiman.
Makam Kuno Lainnya Di tepi Kalimas.
Masih ada lagi makam makam tokoh yang dianggap sebagai punden yang berada di tepian sungai Kalimas. Sebut saja ada nya makam makam tua seperti: Makam Mbah Kusir (juru mudi kepercayaan Sunan Bungkul) yang berlokasi di Jalan Tanggulangin, Kecamatan Tegalsari, Makam Tua Dinoyo yang dikenal sebagai Makam Mbah Joyo Prawiro (atau sering juga disebut Mbah Cagak Joyo Prawiro). Ki Ageng Pengging, Makam Islam Famili Kesambongan, Makam Nyai Rokaya Cempo dan masih ada lagi lainnya.
Kawasan Depan & Pedalaman
Sungai Kalimas dalam perkembangan zaman menjadi wajah (depan) atau muka suatu daerah Naditira Pradesa karena sungai menjadi gerbang/pintu masuk ke Naditira Pradesa. Sehingga dari panduan Sungai secara alami ini, terdapat dua klasifikasi daerah: Depan dan Pedalaman (daerah dalam).
Semakin ke dalam akan ditemukan banyak lagi punden punden yang menjadi awal dibukanya dukuh dukuh (pedukuhan) di kawasan Surabaya. Misalnya di daerah Lakarsantri dan Made. (PAR/nng).
