Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Tradisi (lokal) tidak boleh hilang. Harus ada praktek praktek nyata yang harus dilakukan sebagai bentuk pertahanan (benteng) dan pelestarian budaya. Surabaya juga punya benteng. Budaya Surabaya masih ada. Benteng Budaya Surabaya harus terus dijaga, apalagi di era modern ini agar budaya yang ada tidak tergerus zaman dan hilang.
Benteng budaya itu umumnya bernama tradisi sedekah bumi. Sedekah Bumi adalah salah satu benteng tradisi Nusantara, yang paling kuat dan masih lestari. Ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki, (hasil panen/kerja) dan keselamatan lingkungan, yang biasanya disatukan dengan doa bersama dan kenduri (makan bersama).
Surabaya tidak tercipta menjadi kota besar. Kota ini berkembang dari bentuk desa yang secara faktual beritanya tertulis pada dokumen resmi yang dibuat Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 1358 M. Yaitu Prasasti Canggu. Surabaya tertulis Naditira Pradeça Śūrabhaya (sebuah deça di tepi sungai). Sungai itu dikenal dengan nama sungai Surabaya (Kalimas).
Dalam keterangan/catatan peta peta lama di abad 17, Kalimas menjulur dari selatan ke Utara melewati lingkungan Jembatan Merah, lalu di belakang JMP (Jembatan Merah Plaza) membelok ke kiri menjadi ke sungai (yang berubah menjadi jalan Kalisosok), lalu ke Kali Pesapen dan ke muara melewati kawasan Bozem di Morokrembangan.
Sebuah lagu dari Wieteke van Dort yang berjudul Ajoen Ajoen (Ayun Ayun) bercerita tentang Kali Pesapen
“Jangan mandi Kali Pesapen, Kali Pesapen banyak lintahnya. Jangan main Nonik Pesapen, Nonik Pesapen banyak tingkahnya”
Itulah petikan dari lagu Ajoen Ajoen oleh Wieteke van Dort, penyanyi Belanda kelahiran Surabaya.
Kali yang mengalir melewati Surabaya tidak hanya Kalimas, tapi ada juga sungai sungai lainnya. Jumlahnya banyak. Diantaranya Kalianak, Kali Pegirian, Kali Greges dan Kali Branjangan termasuk Kali Lamong.
Masyarakat (asli) yang tinggal di tepian kali hidupnya lebih alami dan ramah terhadap lingkungan. Keramahan terhadap lingkungan ini biasanya terkait dengan budaya lokal. Mereka sering kali menerapkan kearifan lokal, yang memadukan kelangsungan hidup dengan pelestarian lingkungan. Budaya seperti ini membuat interaksi mereka dengan alam menjadi lebih selaras dan berkelanjutan.
Keramahan ini tercermin pula terhadap praktik praktik budaya seperti bersih desa yang secara kultural dilaksanakan dalam bulan Śūra (malam.Sura atau tutup Sura).
Tradisi Bersih Desa atau Sedekah Bumi di bulan Śūra (Suro) merefleksikan nilai luhur seperti gotong royong dan kerukunan warga. Di Surabaya, praktik kultural ini diwujudkan melalui kirab budaya, pertunjukan kesenian (tari remo, reog), dan makan tumpeng bersama, yang memperkuat identitas komunal di tengah masyarakat perkotaan.
Tambak Asri

Di lapangan Tambak Asri RW 6 Kelurahan Morokrembangan, Surabaya misalnya digelar Sedekah Bumi pada Minggu (19/7/26) dengan serangkaian acara mulai dari arak arakan tumpeng, wayang kulit dan tontonan rakyat Reog Singo Azka Wiyono dari Sidotopo Wetan Surabaya.
Hadir dalam acara tradisi Bersih Desa ini adalah Jajaran Muspika, unsur Kelurahan, RW , RT, PKK, Toga, Tokoh Masyarakat dan Masyarakat umum termasuk anggota DPRD Kota Surabaya, dr Zuhrotul Mar’ah dari Komisi D.
dr. Zuhrotul Mar’ah, yang merupakan kader dari Partai Amanat Nasional (PAN) kota Surabaya ini, didapuk membuka acara.
“Saya buka acara Sedekah Bumi, ada Gunungan dan Reog. Dalam sambutan saya, pesan saya ke Generasi Muda untuk melestarikan budaya daerah dan harus nguri uri budaya untuk menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi dan untuk memajukan ekonomi kreatif sehingga ekonomi rakyat semakin berkembang”, jelas dr Zuhrotul Mar’ah, yang menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda Pemajuan Kebudayaan di DPRD kota Surabaya.
Sedekah Bumi pada bulan Suro (Muharam) adalah ritual turun-temurun masyarakat Jawa sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil panen (rezeki), dan keselamatan. Biasanya acara ini dimeriahkan dengan arak-arakan tumpeng, pagelaran budaya, dan doa bersama (selamatan).
dr Zuhrotul Mar’ah menambahkan bahwa dirinya juga penggemar wayang kulit.
“Saya dan bapak saya penggemar wayang kulit juga”, tutur dr Zuhrotul Mar’ah.
Umumnya tradisi sedekah bumi ada kaitannya dengan adanya punden di sekitarnya. Menurutnya punden yang dipercaya masyarakat ada di sekitar Bozem Morokrembangan
“Punden yang dipercaya masyarakat yaitu ada di sekitar bozem”, tuturnya.
Memang ada punden di sekitar Bozem Morokrembangan dan punden ini erat kaitannya dengan tradisi Sedekah Bumi warga Kampung dan pesisir utara Surabaya. Selain lokasi sakral punden, wilayah ini juga lekat dengan kawasan bersejarah seperti Makam Mbah Darmo, makam para sesepuh setempat, dan pelestarian budaya larung sesaji.
Di lingkungan Tambak Asri juga diaktifkan kegiatan seni budaya dalam upaya turut melestarikan budaya lokal.
“Di RW saya juga ada sanggar tari, yang mandegani anak anak muda karang taruna RW” kata dr Mar’ah.
Acara Sedekah Bumi ini menjadi agenda tahunan yang diadakan dalam bulan Śūra. Sebelumnya perayaan dalam bulan Śūra dalam wadah Sedekah Bumi juga diadakan di Kupang Baru Surabaya yang terkenal dengan punden lokalnya, Punden Sonokwijenan. (PAR/nng)
