Konsistensi Adalah Strategi 

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Presiden Pertama Soekarno pernah mengingatkan sebuah pesan kewaspadaan dengan mengatakan:

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Kutipan legendaris dari Presiden pertama RI, Soekarno, itu menyuarakan peringatan nyata bahwa menjaga keutuhan sebuah entitas (bangsa) seringkali lebih berat daripada merebut kemerdekaan (membangun entitas). Musuh utama kita saat ini bukanlah entitas asing, melainkan perpecahan, egoisme, dan konflik antar-kelompok yang mengancam sebuah persatuan (Tanah Air).

Termasuk adanya konsistensi (visi yang kuat) terhadap keutuhan entitas. Ini diperlukan komitmen yang kuat dan berkelanjutan dari seluruh elemen bangsa dan pemerintah dalam mengawal kedaulatan.

Karena tantangan dan cobaan akan selalu ada dan menggoda. Kuncinya adalah membangun ketahanan mental dan spiritual. Serta dapat menggunakan rintangan tersebut sebagai sarana untuk bertumbuh, bukan sebagai alasan untuk menyerah atau menyimpang dari tujuan.

Menghadapi tantangan dalam hidup (entitas) adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuju kesuksesan. Tantangan ini dapat datang dari berbagai aspek, baik dalam kehidupan pribadi, karir, maupun hubungan sosial.

 

Kunci Utama

Konsistensi adalah kunci. Foto: ist

Menghadapi masalah dengan kepala dingin dan kesabaran memang merupakan kunci utama untuk menemukan solusi terbaik, baik dalam hubungan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Emosi yang meluap seringkali justru mengaburkan akar masalah yang sebenarnya.

Ingat, Raja Kertanegara dalam menghadapi Ekspedisi Pamalayu (1275–1286) melalui diplomasi kewibawaan militer yang malah menggalang aliansi dengan Kerajaan Melayu (Dharmasraya). Langkah ini merupakan strategi pertahanan preventif guna membendung pengaruh ekspansionis Kekaisaran Mongol (Dinasti Yuan) di bawah Kubilai Khan serta menyatukan Nusantara untuk menghadapi tantangan yang lebih besar yang mengancam kedaulatan.

Ini sebuah pemikiran dan strategi besar yang bijak. Yakni berpikir yang lebih strategis untuk sesuatu yang lebih besar dan umum. Karenanya gagasan Wawasan Nusantara pun terlahir darinya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *