Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Event Lomba Menulis Aksara Jawa di Masjid Kemayoran Surabaya adalah ruang interaksi sejarah. Peserta tidak hanya menulis tetapi juga “membaca”. Bukan membaca buku sebagaimana kita kenal. Tetapi membaca fakta sejarah yang masih ada di Masjid Kemayoran Surabaya.
Ya, membaca sejarah masjid adalah salah satu tujuan dari penyelenggaraan event lomba, selain melestarikan budaya dan belajar Aksara Jawa.
Home Tour

Dalam rangkaian lomba ini, ada sesi home tour dimana peserta diajak untuk melihat artefak prasasti pembangunan Masjid yang dipajang di tembok dalam bangunan masjid. Para peserta dan undangan termasuk anggota komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, yang juga dikenal sebagai Ketua Pansus Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya.

Dengan pemandu Nanang Purwono dari Puri Aksara Rajapatni, peserta diberikan penjelasan tentang prasasti yang bertulis dalam aksara Jawa dengan kemasan bingkai kuningan berukuran panjang 2 meter dan lebar (tinggi) 75 cm.

Menurut pemandu, prasasti ini dibuat atas nama Pemerintah kala itu (Hindia Belanda) dengan atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Jacob Rochussen, Residen Śūrapringga (Surabaya) Daniel Francois Willem Pietermaat dan Bupati Śūrapringga Raden Tumenggung Kromodjoyodirono.

Disebut dalam prasasti ini bahwa prasasti ini diberikan kepada segenap umat Islam di Surabaya pada 1773-1776 tahun Jawa atau relevan dengan tahun 1848-1852 Masehi. Dalam sebuah sumber koran di zamannya ketika ada perluasan pada 1934/5, bahwa pembangunan perluasan itu dibangun secara gotong royong. Bagi mereka yang memiliki dana, mereka menyumbang uang, yang punya materialan bangunan, menyumbangkan pasir, batu bata atau lainnya. Yang tidak punya apa apa menyumbangkan tenaga. Itulah gambaran kegotongroyongan (kebersamaan) dalam pembangunan.
Setelah mendapat paparan sejarah masjid berdasarkan prasasti, para peserta kembali ke tempat masing masing untuk mengikuti jalannya lomba.
Kunjungan ke Bangunan Utama

Kecuali dr Zuhrotul Mar’ah, yang ditemani oleh Ketua Takmir Masjid KH. Abdul Bari, melanjutkan melihat kondisi bangunan masjid utama yang didirikan pada 1848 M. Bentuk bangunan itu persegi delapan (heksagonal). Bentuk heksagonal ini mengingatkan pada bentuk Masjid Masjidil Aqsa di Jerusalem, yang pernah menjadi kiblat umat Islam di zaman Nabi Muhammad SAW, sebelum dipindahkan menghadap Ka’bah di Masjidil Haram.

dr. Mar’ah melihat langsung kondisi bangunan utama yang masih berdiri sejak dulu (1848 M). Tidak banyak perubahan kecuali pada bagian atap yang awalnya berbentuk Meru Jawa telah diubah menjadi bentuk kubah. Kubahnya pun tidak merubah konstruksi Meru. Jadi konstruksi Meru masih ada di dalam (tertutup) kubah.
Dalam rencana renovasi masjid bahwa kubah itu akan dibuka sehingga konstruksi Meru dapat terlihat kembali.
Untuk melihat bagaimana bentuk asli dari masjid ini, Takmir masjid Kemayoran juga melengkapi foto foto lama masjid termasuk pembangunan masjid pada 1934/35. Dengan demikian, para jamaah yang datang beribadah juga bisa belajar sejarah masjid.
“Ini pilar pilarnya masih asli ya?” tanya dr Mar’ah kepada Ketua Takmir Masjid, Abdul Bari.
Pilar atau saka guru yang berjumlah empat ini menopang konstruksi atap yang menjadi kerangka atap Meru.
Secara filosofis, saka guru ini melambangkan kekokohan, pusat orientasi, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kepemimpinan dan ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama atau Wali Songo sebelumnya.
Setelah melihat dari dekat dan langsung di dalam bangunan masjid utama, dr Mar’ah juga melihat titik asal dimana prasasti masjid Kemayoran pernah berada. Yaitu di atas pintu utama tengah yang menghadap ke Timur.

Karenanya dr Mar’ah dalam sambutan pembukaan lomba mengatakan bahwa Lomba Menulis Aksara Jawa ini harus berlanjut demi menjaga sejarah dan melestarikan budaya. (PAR/nng).
