Grahana, Raksasa Nguntal Mbulan.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – – Setiap tanggal 20 Juli diperingati sebagai Hari Bulan Internasional. Peringatan ini ditetapkan oleh PBB untuk memperingati hari bersejarah pendaratan pertama manusia di Bulan melalui misi Apollo 11 pada tahun 1969. Pada saat itulah masyarakat dunia lebih dekat mengenal Bulan, benda antariksa yang jauh di langit.

Dalam tradisi Jawa, orang sudah pula mengenal bulan dengan cara yang berbeda. Dalam tradisi Jawa itu, bulan dikenal melalui peristiwa alam mitos yang bernama gerhana bulan. Dalam bahasa Jawa disebut Grahana /ꦒꦿꦲꦤ/ yang dipercaya gerhana sebagai peristiwa alam berbau mitos di mana Bulan sedang ditelan oleh raksasa Batara Kala /ꦧꦠꦫꦏꦭ/.

Untuk menyelamatkan Bulan, masyarakat secara turun-temurun melakukan ritual penolakan bala seperti memukul lesung (tradisi othok-othok), memasak nasi liwet (sego rogoh), dan melarang ibu hamil keluar rumah.

Pada saat itu, juga banyak orang yang keluar rumah untuk melihat bagaimana wujud bulan ditelan raksasa itu. Dalam tinjauan ilmiah astronomi, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan dalam satu garis lurus. Hal ini menyebabkan Bumi menghalangi cahaya Matahari yang biasanya dipantulkan oleh Bulan, sehingga Bulan tertutup oleh bayangan Bumi dan tampak redup.

Gerhana bulan secara astronomis. Foto: ist

Namun terhadap objek bulan, orang Jawa secara tradisional sudah terkoneksi dengan bulan meski mengamati dengan tradisional mata telanjang. Ada mitos di sana.

Mitos bulan ditelan raksasa ini bersumber dari kosmologi Hindu-Jawa kuno tentang Batara Kala. Leluhur Jawa tidak hanya mengamati langit, tetapi juga menggunakan pendekatan sastra dan simbolik untuk menjelaskan fenomena astronomi.

Di balik ini ada ilmu astronomi. Yaitu Niteni (Memahami Pola Alam). Walau dengan mata telanjang, leluhur Jawa sangat tekun niteni (mencatat dan mengingat pola) pergerakan benda langit untuk pertanian dan penanggalan.

 

Simbolisme Batara Kala:

Gerhana bulan. Foto: ist

Gerhana dijelaskan melalui metafora pewayangan. Kala, yang hanya berupa kepala, mengejar Bulan. Ini adalah cara nenek moyang menggambarkan presisi mekanika benda langit sebelum ditemukannya teleskop modern.

Disaat tengah terjadi gerhana bulan, ada tradisi memukul lesung atau kentongan yang bertujuan menciptakan kegaduhan. Secara budaya, ini adalah bentuk ikhtiar manusia untuk “mengusir” raksasa agar memuntahkan bulan kembali, yang juga berfungsi menjaga kewarasan dan keselamatan sosial.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, gerhana Bulan tidak dipandang hanya sebagai fenomena astronomi, melainkan juga sering diwarnai oleh kisah-kisah mitologis dan kepercayaan.

 

Bulan Ditelan Raksasa

Salah satu mitos, yang paling populer, adalah keyakinan bahwa Batara Kala, sosok raksasa dalam pewayangan Jawa, sedang menelan Bulan saat gerhana.

Cerita ini menggambarkan konflik antara kekuatan gelap dan para dewa dalam kala langit, sehingga Bulan tampak hilang.

 

Ibu Hamil Harus Bersembunyi

Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa saat gerhana terjadi, wanita hamil harus bersembunyi di bawah meja atau tempat tidur, dengan tujuan agar si bayi tidak terkena “nasib buruk” atau mengalami cacat.

Ritual perlindungan ini merupakan simbol ketakutan dan harapan pada kondisi genting di alam kala itu.

Mitos “bulan dimakan raksasa” (Batara Kala) membuktikan bahwa masyarakat Jawa memiliki akulturasi budaya yang kuat. Di tengah sains modern, mitos ini bukan lagi dianggap kebenaran harfiah, melainkan warisan identitas sosial, sarana pelestarian tradisi, dan simbol penghormatan terhadap leluhur.

Termasuk pada saat kita di tanggal 20 Juli ini dimana kita memperingati Hari Bulan Internasional. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *