Lebih baik mana jika anak anak Nusantara piawai dalam menulis aksara Jawa atau aksara Korea?

Budaya Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Melihat karya seni tulis aksara Jawa seperti ini siapa yang tidak senang dan bangga. Ini adalah salah satu dari hasil tulis anak SMP, yang berhasil memenangi lomba menulis indah aksara Jawa di Masjid Kemayoran Surabaya pada Minggu (6/9/26). Dari 4 pemenang untuk kategori SD-SMP nilainya hanya terpaut setengah. Termasuk 4 pemenang lainnya untuk kategori SMA/SMK.

Salah satu tulisan tangan hasil dari sebuah lomba.. Foto: nng

Tulisan tangan indah itu tidak hanya untuk 8 pemenang (kategori SD-SMP dan SMA-SMK). Tetapi peserta lainnya dari jenjang SD, SMP dan SMA/SMK juga memiliki keterampilan yang kompetitif. Padahal ada, yang mengaku hanya dengan persiapan latihan satu Minggu dan ada pula yang hanya tiga hari. Namun mereka mampu menunjukkan hasil yang membanggakan.

Sang juara. Foto: par

Lomba ini hanya menunjukkan hasil yang bersifat teknis, buah dari keterampilan siswa. Keterampilan ini tidak luput dari daya juang individu baik dari hasil pembelajaran di sekolah maupun tidak. Namun melihat hasil faktual, mereka layak untuk dilindungi. Artinya keterampilan menulis aksara Jawa perlu dilindungi secara struktural. Yaitu terprogram dalam kurikulum resmi sekolah, yang merupakan implementasi dari peraturan yang ada di atasnya baik itu Perda maupun Perwali.

The power of girls. Foto: nng

Anak anak ini memiliki potensi besar yang terlalu sayang jika dibiarkan. Komunitas budaya yang berada di luar ring formal akan hanya bisa menyelenggarakan kegiatan kegiatan yang bersifat mewadahi kreativitas siswa di luar jalur sekolah.

Hal ini menunjukkan dan berarti bahwa banyak potensi luar biasa dari anak-anak yang belum terfasilitasi secara maksimal oleh sistem formal, sehingga komunitas budaya independen mengambil peran untuk menjadi wadah kreativitas mereka.

Indah. Foto: nng

Inilah kejelian komunitas dalam melihat potensi siswa sebagai penopang masa depan bangsa. Melalui lomba menulis indah aksara Jawa seharusnya membuka mata dan hati kita betapa layak mereka diayomi dalam berkebudayaan yang luhur ini.

Indah tapi belum beruntung karena kompetitifnya. Foto: nng

Kita mendorong anak anak atau siswa untuk mencintai budaya sendiri tapi budaya itu justru luput dari pengayoman hukum alias tidak ada arahan dan cara serta upaya dalam perlindungan dan pelestarian serta pemajuannya.

Mari melihat fakta dan hal hal yang praktis bahwa aksara Jawa bukan aksara asing. Mengatur dan menata aksara Jawa tidak berlawanan dengan hukum.

Lebih baik mana jika anak anak piawai dalam menulis aksara Jawa atau aksara Korea? (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *