Punden Punden Surabaya Awal Peradaban Kota

Budaya Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), punden adalah tempat terdapatnya makam orang, yang dianggap sebagai cikal bakal (pendiri awal) masyarakat desa.

Secara bebas menurut rangkuman dari beberapa sumber, punden dapat dimengerti bahwa punden adalah tempat keramat, makam leluhur atau cikal bakal pendiri desa, atau objek/sesuatu yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat.

Ada kata kunci “cikal bakal” dari dua definisi di atas. Cikal bakal adalah asal mula, pendiri, atau orang yang mula-mula merintis dan menurunkan generasi baru di suatu tempat

Dari pemahaman Cikal Bakal itu maka ada kaitan dengan suatu tempat. Ketika dikaitkan dengan suatu daerah, misalnya Surabaya, maka di Surabaya ini pastilah ada cikal bakal daerah daerah yang ada di wilayah administratif Surabaya.

Sementara kota Surabaya sendiri berdasarkan sumber primer Prasasti Canggu (1358 M) diyakini bermula dari sebuah desa di tepian sungai (Naditira Pradesa) yang bernama Śūrabhaya. Nama ini dicatat dalam sebuah prasasti yang diterbitkan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M.

Prasasti ini mencatat keberadaan Śūrabhaya dengan jelas dan tegas tentang suatu wilayah di pinggiran sungai (di bagian hilir dari Kali Surabaya). Dapat diidentifikasi berdasarkan prasasti Canggu bahwa secara alami letak Śūrabhaya berada di Utara Desa Bekul (atau Bungkul).

 

Sumur jobong

Sumur Jobong Peneleh dikunjungi mahasiswi Australia. Foto: dok nng

Di Utara Bungkul ini atau di kawasan muara atau hilir diduga adalah kawasan Peneleh dimana terdapat artefak yang masih insitu dan merupakan bagian dari kehidupan domestik masa lalu di era Majapahit. Yaitu sumur yang dikenal Sumur Jobong.

Sumur Jobong adalah situs cagar budaya berupa sumur kuno peninggalan Kerajaan Majapahit (diperkirakan sudah ada sekitar tahun 1430-an) yang ditemukan di perkampungan padat Peneleh, tepatnya di Jalan Pandean Gang I, Surabaya. Sumur serupa banyak terdapat di Trowulan Mojokerto yang diketahui sebagai pusat ibukota Majapahit.

Keberadaan Sumur Jobong di kawasan Peneleh ini jika dikaitkan dengan sumber buku “Eer Werd Een Stad Geboren” (Lahirnya Sebuah Kota) karya GH von Faber (1953), disana disebutkan sudah ada desa yang bernama Surabaya pada 1275 M.

Juga bila dikaitkan dengan Prasasti Canggu, yang dikeluarkan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M, bahwa ada nama Śūrabhaya yang lokasinya di Utara Bungkul.

Peneleh dalam perkembangan zaman sebagaimana dicatat dalam beberapa literasi di zaman Hindia Belanda sudah merupakan kawasan padat penduduk yang berada di kawasan delta diantara sungai Kalimas dan Pegirian.

 

Persebaran Punden

Seiring dengan perkembangan zaman pula bahwa wilayah yang sekarang bernama Surabaya ini memiliki cakupan yang luas baik ke arah barat dan ke selatan. Pun demikian ke arah Timur meski dibatasi oleh garis pantai. Bahkan ke Utara sekalipun dimana disana terdapat jejak jejak ketuaan yang ditandai oleh punden. Seperti punden Buyut Krembangan dan punden Sunan Ampel.

Ternyata di kawasan Surabaya, yang luasnya 335 km2 ini, memiliki titik titik awal secara lokal. Yaitu desa desa atau bahkan dukuh dukuh yang telah diawali oleh para pembuka daerah. Kemudian makamnya menempati daerah itu. Karenanya di banyak titik di Surabaya terdapat punden punden.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) punden adalah tempat terdapatnya makam orang, yang dianggap sebagai cikal bakal (pendiri awal) masyarakat desa. Siapakah mereka? Dimanakah letak nya? Ini pertanyaan yang harus dijawab dan ditelusuri. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *