Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Pasar adalah tempat sirkulasi uang. Secara umum, pasar memang berfungsi sebagai pusat bertemunya penjual dan pembeli untuk menukar barang/jasa dengan uang.
Pasar di era Majapahit, khususnya di Trowulan, merupakan pusat ekonomi agraris dan maritim yang ramai, sering kali terletak di timur laut perempatan jalan. Transaksi menggunakan barter hasil bumi (seperti beras) dan koin, serta memperdagangkan rempah, keramik, dan jajanan tradisional (wajik, lepet)
Pasar pada masa Majapahit, khususnya di ibu kota Trowulan dan pelabuhan (seperti Canggu/Bubat), dikabarkan sangat ramai dan menjadi pusat ekonomi, perdagangan, serta interaksi budaya yang diatur secara tertib. Transaksi dilakukan menggunakan koin gobog/kepeng untuk memperjualbelikan beras, rempah-rempah, hasil pertanian, kain, hingga kerajinan logam.
Pasar di Trowulan tersebar di berbagai titik, terutama di persimpangan jalan, tepi jalan raya, dan pelabuhan.
Pasar pasar ini mulai sibuk sejak pagi hari dengan pedagang yang menjajakan hasil bumi, rempah rempah (lada, cengkeh, pala), kain, dan alat-alat logam. Transaksi sudah menggunakan mata uang, seperti koin gobog (dari tembaga/perunggu) dan koin kepeng yang dibawa dari China.
Di pasar pasar ini menyediakan beras, buah-buahan, palawija, ikan, gading, dan barang ekspor lainnya. Suasananya ramai dengan perniagaan, di mana pedagang lokal berinteraksi dengan utusan dari berbagai negeri.
Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, terdapat patroli prajurit Bhayangkara untuk memastikan ketertiban pasar dan jalur dagang. Pasar tradisional masa Majapahit menjadi bukti berkembangnya sistem agraris dan maritim, yang kuat di nusantara.
Hingga sekarang jejak jejak pasar masih bisa diidentifikasi dengan lokasi lokasi di tepian jalan dan jalur sungai.
Pasar Keramat
Pasar tradisional utama di Trowulan, Mojokerto, adalah Pasar Rakyat Trowulan, yang terletak di area bekas terminal dan diresmikan untuk mendukung ekonomi lokal dengan nuansa bangunan Majapahitan.

Selain itu, juga terdapat destinasi wisata belanja kuliner unik yaitu Pasar Keramat yang berlokasi di dekat Trowulan/Pacet, yang menggunakan koin gobog untuk transaksi dan hanya buka pada Minggu Wage & Kliwon. Ini upaya mengingat tradisi lama di era modern.
Pada masa itu (lama), pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk bertransaksi barang atau jasa, sekaligus menjadi ruang interaksi sosial, budaya, dan ekonomi yang penting bagi masyarakat. Di pasar tradisional, terjadi interaksi sosial asosial seperti tawar-menawar yang hangat dan personal, serta pertukaran informasi di luar aktivitas jual-beli.
Sebaliknya sekarang ada pasar modern seperti swalayan Indomaret dan Alfamart yang tidak basa basi, mau ambil (beli), tidak mau (harga tidak cocok) ditinggal pergi. Tidak ada tawar menawar karena setiap barang telah terpasang bandrol harga. Ini berbeda dengan pasar tradisional yang masih terjaga proses interaksinya. Bahkan dalam interaksi sosial itu pembeli bisa minta “imbuh” (tambahan gratis)..
Pasar tidak sekadar tempat transaksi, tetapi juga tempat sosialisasi dan interaksi sosial terutama dalam konteks pasar tradisional di Indonesia. Pasar berfungsi sebagai ruang sosial-ekonomi yang kompleks.
Lebih dari sekadar tawar-menawar, pasar menjadi tempat berbagi informasi, bertukar cerita, dan menjalin relasi sosial. Interaksi ini membangun ikatan komunitas yang kuat.
Warung

Bahkan di pasar pasar tradisional terdapat warung tempat makan dan minum. Di kesempatan itulah antar pelanggan bisa punya waktu cukup untuk saling berbagi cerita dan informasi tentang berbagai hal.
Pertemuan rutin antar pelanggan sering kali berlanjut pada hubungan bisnis atau kekeluargaan yang lebih erat. Suasana kekeluargaan, harga yang terjangkau, dan keramahan pemilik warung membuat tempat ini menjadi “ruang publik” yang krusial di tengah hiruk-pikuk aktivitas ekonomi pasar tradisional.

Tradisi masyarakat di warung pasar tradisional umumnya ditandai dengan interaksi sosial yang erat, seperti obrolan santai sampai informasi tentang harga barang serta pekerjaan, serta penggunaan bahasa daerah. Warung juga menjadi tempat menikmati kuliner tradisional dan jajanan serta minuman kopi teh. Konteks aktivitas ini adalah jalan melestarikan budaya lokal yang natural melalui interaksi hangat antara sesama pelanggan dan termasuk antara pelanggan dan penjual. (PAR/nng)
