Kalimas: Pariwisata, Lingkungan dan Sejarah – Budaya

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Berbekal data primer berupa Prasasti Canggu (1358 M), tersebutlah nama Śūrabhaya, yang sekarang dikenal dengan Surabaya, sebuah kota metropolitan, yang menjelma dari sebuah desa kecil (Naditira Pradesa, sebuah desa di tepian sungai).

Sungai itu hingga sekarang masih ada dan menjadi saksi perkembangan zaman termasuk berubahnya desa Śūrabhaya di tepian sungai menjadi kota besar Surabaya, yang mengcover dan menguasai seluruh badan sungai mulai hulu hingga ke hilir. Sehingga sungainya seolah menjadi tak berdaya oleh banyaknya tangan tangan peradaban modern.

Bagaimanapun Kalimas tidak boleh mati, meski ada beberapa sungai lainnya yang telah mati. Mereka hilang dari peta kota Surabaya, Mereka berubah menjadi jalan seperti di jalan Banyuurip dan Kalidami.

 

Urat Nadi Kehidupan

Jembatan Merah melintang di atas Kalimas di kawasan Kota Lama Surabaya. Foto: ist

Kalimas adalah kehidupan. Kalimas adalah urat nadi sejarah dan denyut kehidupan Kota Surabaya. Ia membentang sekitar 15 kilometer dari Wonokromo sebagai hulu Kalimas hingga Tanjung Perak sebagai hilir sungai, sungai ini telah menjadi pusat peradaban, perdagangan, dan transportasi sejak era kerajaan, kolonial Belanda hingga pasca kemerdekaan.

 

Sejarah Budaya

Suatu ruas Kalimas dengan vegetasi asrinya. Foto: ist

Menyimak usianya yang telah ratusan tahun, Kalimas menyimpan jejak Sejarah dan Peradaban budaya. Ia menjadi tumpuan kehidupan dari zaman ke zaman.

Menyusuri Kalimas memberikan pengalaman unik untuk melihat perpaduan saksi bisu sejarah, budaya dan wajah modern Kota Pahlawan.

Tidak dipungkiri bahwa Kalimas telah menjadi urat nadi peradaban Surabaya sejak era Kerajaan Majapahit. Sungai ini berfungsi sebagai gerbang pelabuhan strategis dan pusat perdagangan. Sungai ini juga bertransformasi menjadi destinasi ikonik yang memadukan jejak sejarah kota dengan rekreasi modern.

Ini semua karena bantaran dan kawasan sungai menjadi tempat tumbuhnya peradaban manusia. Dinamika zaman memang terjadi di sana. Tak heran ketika disana ada perkampungan kuno, makam kuno sebagai bukti pernah adanya populasi manusia, bangunan kuno, struktur kuno dan bahkan tradisi kuno.

 

Tradisi Kuno

Bingkai dimana tradisional bertemu modernisasi. Foto: ist

Tradisi kuno, yang paling ikonik di bantaran Kalimas Surabaya, adalah perdagangan air dan pelayaran tradisional yang menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan. Fakta ini sudah berlangsung sejak era Kerajaan Majapahit (abad ke-13) dan Kalimas menjadi urat nadi distribusi rempah-rempah yang menjadikan Surabaya sebagai pusat ekonomi maritim yang terkenal.

Di sepanjang sungai ini, hingga sekarang masih terdapat pasar pasar seperti Pasar Keputran, Pasar Genteng dan Pasar Pabean, juga pernah ada Pasar Peneleh. Tidak jauh dari titik titik lokasi pasar, terdapat jembatan jembatan yang dulunya berbentuk perahu tambangan (penyeberangan). Namun karena perubahan zaman, maka perahu tambangan digantikan oleh sarana jembatan.

 

Maparahu

 

Alur sungai adalah sarana lalu lintas air. Foto: ist

Maparahu adalah berperahu (Jawa Kuna). Kalimas sendiri juga merupakan jalur utama perahu-perahu pengangkut barang berharga, rempah-rempah, dan kargo yang berperahu dari pedalaman menuju Selat Madura.

Sepanjang tepian Kalimas menjadi, tradisi tempat bermukim dan berdagang yang bercampur antara etnis pendatang seperti kawasan Pecinan dan Arab. Mereka berkembang di sisi timur sungai Kalimas. Sementara di sisi Barat ditandai dengan peradaban Eropa seperti adanya gedung gedung kolonial. Juga pernah ada pemakaman Eropa di Krembangan, lalu berpindah ke Peneleh yang jejaknya masih ada.

 

Lingkungan

 

Lingkungan Sungai Kalimas, sebagai urat nadi Kota Surabaya, selain menyimpan warisan sejarah dan budaya, bantarannya juga memadukan fungsi ekologis dan drainase.

Ada lahan terbuka hijau di bantaran sungai Kalimas yang bisa berfungsi sebagai paru paru kota. Apalagi bantaran sungai Kalimas telah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Surabaya menjadi ruang terbuka hijau (RTH) yang asri. Disana terdapat taman taman. Misalnya di jalan Ngagel, di Keputran, di Kayoon, di Taman Prestasi, di Taman Ekspresi, hingga di Taman Peneleh.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan area hijau kota, mereduksi degradasi lingkungan, dan sebagai destinasi wisata rekreasi serta edukasi. Area ini terintegrasi langsung dengan wisata perahu susur sungai.

 

Pariwisata

Pariwisata memanfaatkan ketersediaan potensi sejarah dan budaya yang ada di dan di sekitar Kalimas.

Sungai Kalimas memang mengintegrasikan warisan sejarah, budaya, dan infrastruktur modern untuk menarik wisatawan. Alur sungai yang dulu menjadi urat nadi perdagangan di era Kerajaan Majapahit dan VOC, kini disulap menjadi destinasi rekreasi bernilai edukasi.

Di antaranya adalah dimana pengunjung dapat menikmati sensasi menelusuri alur sungai dengan rute sepanjang kurang lebih 10kilometer yang melewati berbagai situs cagar budaya dan pusat kota.

Belum lagi di beberapa infrastruktur lama kota Surabaya terdapat bukti bukti perang Surabaya, misalnya adanya benturan dan bekas tembakan yang mengenai beberapa titik sehingga mengakibatkan benda itu penyok. Bekas bekas itu bisa bercerita tentang sejarah pertempuran Surabaya tahun 1945.

Contohnya ada di Jembatan Peneleh dan jembatan Kereta Api di Sulung. Ini bagian dari wisata edukasi sejarah pertempuran Surabaya.

Belum lagi ada wisata Kota Lama Surabaya, yang menawarkan sejarah perkembangan kota dan kota multikultural di kawasan itu.

 

Anambangi

Tambangan di Sungai Kalimas Surabaya. Foto: dok par

Anambangi adalah bahasa Jawa Kuno, yang berarti menambang (menyeberang) sungai. Di sungai Kalimas ini masih ada satu dan satu satunya jasa Tambangan, yang letaknya di Ngagel. Sarana tambangan (penyeberangan) ini bisa menambah wahana rekreasi, edukasi dan sejarah. Karena jasa penambangan inilah, nama Śūrabhaya diabadikan oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk di tahun 1358 M.

Karenanya satu satunya jasa Tambangan yang ada di sungai Kalimas ini harus dirawat dan dipelihara dengan baik sebagai bukti nyata masih adanya jasa Tambangan seperti di era Majapahit. Sarana penyeberangan sungai ini harus dibuat aman dan nyaman bagi masyarakat.

Perahu tambangannya harus diperbaiki hingga aman dan nyaman serta pantas sebagai sarana publik. Di sekitar Marina di dua sisi tepian sungai bisa ditata dan dibuat taman sebagai sarana edukasi sejarah tentang penambangan (penyeberangan sungai tradisional, yang sudah ada sejak era kerajaan Majapahit. Tamannya ditata menjadi taman sejarah penambangan dengan narasi narasi yang didukung oleh historiografi yang memadai sebagai informasi publik.

 

Prasasti

Tulisan Śūrabhaya pada prasasti Canggu. Sumber: museumnasionalindinesia

Sejak Maret 2023 ketika mendapatkan informasi langsung dari pihak Museum Nasional Indonesia di Jakarta bahwa prasasti Canggu dipastikan ada di museum, upaya untuk menggali sejarah peradaban Naditira Pradesa Śūrabhaya semakin kuat.

Prasasti Canggu adalah satu satunya prasasti peninggalan era Kerajaan Majapahit, yang secara jelas, tegas dan otentik menyebut nama Śūrabhaya dan menggambarkan posisi dan letak Śūrabhaya sebagai desa di tepian sungai. Sungai ini tidak lain adalah anak sungai Brantas, yang dikenal bernama Kali Surabaya, karena melewati Desa Śūrabhaya.

Selanjutnya dalam pergantian zaman dikenal dengan nama Kalimas. Kalimas sendiri adalah nama kanal, yang dibuat Belanda pada 1800 an sebagai upaya untuk menghindari banjir di kota Surabaya di zaman pemerintahan Hindia Belanda.

Saling terkenalnya kanal itu, maka nama Kalimas menjadi populer dan menggantikan nama Kali Surabaya, khususnya pada ruas sungai mulai dari hulu di Ngagel Wonokromo hingga ke hilir di Tanjung Perak. Sementara sungai dari Wonokromo hingga ke hulu (ke pedalaman di Tarik) Kabupaten Mojokerto. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *