Kalimas Urat Nadi Peradaban 

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada yang sangat identik dengan Surabaya. Yaitu Sungai Kalimas. Ini identitas alami yang menyimpan banyak nilai budaya dan peradaban zaman. Keberadaannya tidak lekang ditelan masa dari zaman ke zaman. Ketika semua berganti, Kalimas tetap tetap terjaga dalam membisu.

Sungai Kalimas adalah urat nadi peradaban Surabaya. Sejak era Kerajaan Majapahit, sungai ini menjadi gerbang maritim, yang vital dan saksi bisu perkembangan kota. Hari ini, sejarah tersebut berpadu dengan modernitas melalui Pemerintah Kota Surabaya, yang menyulap Kalimas menjadi destinasi wisata air yang memukau.

Kalimas dan peradaban kolonial di kota lama Surabaya. Foto: nng

Apakah cuma wisata air? Tidak. Masih banyak yang tersimpan di balik geliat warga yang berdiam di sekitar sungai. Budaya (kebiasaan) yang tersimpan ini (hidden culture) ini perlu dikenali, yang baik perlu dimajukan agar relevan dengan zaman.

Geliat warga, yang hidup di bantaran sungai Surabaya khususnya sungai Kalimas, menyimpan kekayaan budaya kampung (hidden culture) yang otentik. Mengangkat tradisi lokal, mulai dari kuliner, kerajinan, olahraga tradisional hingga sejarah, menjadikan pariwisata kota Surabaya lebih bermakna dan relevan dengan zaman.

Kalimas di kota lama  Surabaya. Foto: nng

Karenanya perlu ada upaya dalam menyingkap dan mengungkap kekayaan budaya yang kiranya masih terpendam (hidden culture) di sana. Tidak bisa seorang diri, tapi harus bersama dalam kerja kolektif dan kooperatif pentahelix. Ada unsur pemerintah, swasta, komunitas, akademisi dan media.

Kelima unsur ini tidaklah asing dengan Kalimas. Apalagi telah ada laui legendaris karya De Gembel’s dengan judul “Balada Kalimas”.

Tiada indah, warna riak airmu yang mengusap tebing-tebingmu

Tiada pernah terpikir oleh insan mengagung-agungkan dirimu

Walau begitu, Kalimas tak kurang pula artimu…Kalimas (kalimas, kalimas)…. Wahai mengapa, mengapa mengapa kau tetap membisu Kau menjadi saksi dalam perang dan damai Insan sekitarmu…

Dahulu kala, Sura dan Baya bertarung berperang memilikimu

Pernah kau tampung darah pahlawan Memerah jembatan, memerah pula airmu.Kalimas (kalimas, kalimas)….

Wahai mengapa, mengapa mengapa kau tetap membisu. Kau menjadi saksi dalam perang dan damai

Insan sekitarmu..Insan sekitarmu…Insan sekitarmu.

Kini, kau mau berbuat apa terhadap Kalimas, yang telah menjadi identitas kotamu.

Penulis di tepian sungai Kalimas (water front). Foto: nng

Akankah tetap kau biarkan membisu?Ataukah akan kau gemakan suaranya sebagai bukti Kalimas bicara?

Kalimas bisa bicara. Kalimas juga bisa menjerit.Bicara dan menjerit tergantung darimu. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *