Berpikir Jernih Dan Berhati Bersih Di Malam Sura Untuk Śūrabhaya.

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Sepenggal kata, segudang makna”. Ini frasa puitis, yang menggambarkan bagaimana bahasa bekerja: kalimat atau kata singkat seringkali menyimpan filosofi mendalam, emosi yang kuat, atau pelajaran hidup yang luas. Kata itu adalah Śūrabhaya, yang tertulis pada Prasasti Canggu (1358 M).

Nilai filosofi ini sangat penting karena berfungsi sebagai kompas moral, landasan berpikir kritis, dan pemandu arah tujuan hidup. Prinsip ini menjembatani manusia untuk mengambil keputusan secara rasional, tidak mudah terombang-ambing, dan memahami makna mendalam dibalik suatu tindakan. Tidak bersifat asal bertindak, yang akhirnya berdampak buruk pada orang lain. Tetapi, tindakan haruslah bermanfaat bagi orang lain.

Prinsip ini sangat sejalan dengan konsep empati dan tanggung jawab sosial. Yaitu memastikan setiap keputusan tidak merugikan orang lain dan justru memberikan manfaat. Ini sekaligus fondasi dari hubungan sosial yang harmonis dan etis.

Filosofi Jawa. Foto: ist

Sikap dan prinsip inilah, yang layak direnungkan dalam tradisi Jawa tatkala memperingati malam satu Sura. Malam Satu Sura dalam tradisi Jawa memang sarat dengan makna filosofis yang mendalam. Peringatan ini bukan sekadar pergantian tahun kalender, melainkan momentum spiritual untuk melakukan introspeksi diri, menyucikan hati dan fikir serta menyelaraskan diri dengan alam semesta.

Di dalamnya adalah berfikir jernih (logis) dan berhati bersih (tulus ikhlas dan jujur) dalam melihat kembali makna Surabaya, yang berasal dari kata Śūrabhaya sebagaimana tertulis dari sumber primer Prasasti Canggu (1358 M).

Berpikir jernih (logis) adalah kemampuan menilai situasi murni berdasarkan fakta dan penalaran rasional, bukan emosi. Berhati bersih (tulus, ikhlas dan jujur) berarti memiliki keikhlasan, bebas dari niat buruk (iri, dengki, dendam), dan menjaga integritas diri. Keduanya saling melengkapi untuk menghasilkan keputusan yang bijak.

Mari di malam Śūra, yang waktunya persis bersamaan dengan 1 Muharram (Selasa, 16 Juni 2026) ini kita bisa berfikir jernih dan berhati bersih. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *