Kalung Koin Gobog Aksesoris Etnis Artis.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Ada kelompok masyarakat, yang meyakini bahwa koin gobog kuno memiliki energi tertentu sehingga dijadikan sebagai barang sakral dan jimat. Bahkan ada sebagian orang menjadikannya sebagai kalung untuk perlindungan atau pembawa keberuntungan (jimat).

Pada zaman dulu kalung dengan mata koin gobog adalah perhiasan. Di era 1970 dan 1980 An, masih ada anak anak kampung yang menggunakan kalung dengan liontin dari koin gobog.

Kalung dengan liontin koin gobog. Foto: ist

Kalung dari uang gobog (sering disebut juga koin kepeng atau uang bolong) memang salah satu jenis aksesoris kuno, yang sarat akan nilai sejarah dan mistis. Uang gobog ini umumnya berasal dari zaman kerajaan di Nusantara, terutama Majapahit, yang dibawa dari Tiongkok.

Orang zaman dahulu, khususnya pada masa Kerajaan Majapahit hingga masa sesudahnya di Jawa, mengenakan kalung dari koin gobog terutama karena alasan kepercayaan mistis (jimat), bukan semata-mata sebagai perhiasan atau alat tukar.

Kini jika dipakai sebagai perhiasan tergantung bagaimana cara mengemasnya (mengkreasinya). Dahulu orang menggunakan tali sebagai kalungnya. Sesuai dengan perkembangan zaman dan gaya, bisa saja talinya dari bahan yang fashionable. Misalnya kalung emas dan sejenisnya untuk mode zaman sekarang.

Menilik benda gobognya sendiri sudah tampak etnic dan klasik. Ada ornamen tulisan yang menambah eksotika tampilan. Apalagi jika dipadu padankan dengan pakaian yang bergaya ethnic misalnya gaya tradisional berbahan kain batik. Kalung gobog bisa menambah penampilan.

 

Dikenakan Artis

Artis Ariel dengan kalung koin gobog. Foto: ist

Artis kenamaan Ariel Peterpan juga terlihat dalam beberapa penampilan menggunakan kalung bermata koin gobog. Kalung gobog memang sempat menjadi ciri khas gaya Ariel di masa lalu, namun alasan di balik penggunaannya, apakah karena fesyen atau alasan lain, tidak diketahui. Selain Ariel juga ada artis lainnya seperti Raffi Ahmad.

Rafi Achmad juga berkalung koin gobog. Foto: ist

Apapun di balik alasan alasan pribadi bahwa penggunaan koin gobog sebagai kalung menjadi cara dan alat dalam menghargai warisan budaya.

Penggunaan koin gobog, uang koin kuno peninggalan era Majapahit (sekitar abad ke-14 hingga ke-16), sebagai liontin kalung memang merupakan cara unik untuk menghargai warisan budaya. Terlepas dari alasan pribadi seperti fashion atau kepercayaan magis, tindakan ini memiliki dampak pelestarian budaya yang signifikan.

Banyak ditemukan koin koin gobog yang sangat berpotensi dijadikan barang komersial sebagai antikan. Antikan umumnya disimpan sebagai barang pajangan. Jika dikreasi menjadi aksesoris maka akan memberikan dampak double impact. Yaitu tetap dijaga dan sekaligus dipamerkan sebagai kalung.

Uang koin kepeng dan gobog punya karakteristik yang hampir sama. Yakni dengan lubang berbentuk persegi di tengah koin yang berbentuk lingkaran pipih. Lobang ini bisa difungsikan sebagai ikatan tali kalung Umumnya, diameter uang gobog lebih besar ketimbang uang kepeng. Yakni sekitar 5 sentimeter dibanding 3 sentimeter.

Tebal uang gobog sekitar 2-6 mm, diameter 29-86 mm, dan berat antara 16-213 gram. Di gambar bagian depan, terdapat relief berupa gambar wayang, alat-alat persenjataan berbentuk cakra, dan pohon beringin. Sementara di bagian belakang, uang standar Majapahit ini memiliki gambar belakang berupa relief pohon, peralatan berbentuk senjata dan berbentuk sesaji.

Dan pada uang kepeng, tertulis aksara Cina sesuai dinasti atau kerajaan yang berkuasa saat itu. Kemungkinan, mata uang ma dan kepeng ini dari luar Majapahit. Namun uang koin gobog diyakini diproduksi di wilayah Majapahit. Meski begitu, uang koin tersebut dicetak pada periode akhir kerajaan. Uang gobog dicetak melalui proses metalurgi. Campuran bahan tembaga dilelehkan di atas api dengan suhu lebih dari 1.000 derajat yang lantas dituang ke dalam cetakan. Bahkan, desain uang gobog disebut meniru uang kepeng produksi Cina.

Pada zaman dahulu, koin ini digunakan sebagai alat tukar atau bayar pajak, namun karena simbolismenya, koin ini sering dijadikan jimat/azimat. Saat ini, banyak yang merangkai koin kuno temuan tersebut menjadi kalung aksesoris atau koleksi sejarah.

Kalung yang menggunakan uang gobog asli biasanya bersumber dari hasil temuan di situs-situs arkeologi (sering ditemukan oleh penambang pasir) dan memiliki patina (lapisan karat) khas perunggu/tembaga kuno.

Kalung ini kini populer di kalangan kolektor benda antik atau sebagai aksesoris etnik unik. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *