Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Fakta berbicara bahwa Nusantara pernah menjadi pusat perdagangan internasional pada masanya. Buktinya adalah digunakannya aksara-aksara asing pada pecahan mata uang koin dan kertas di Nusantara mulai zaman kerajaan hingga kolonialisme barat. Ini menunjukkan akulturasi budaya di Nusantara.
Penggunaan aksara asing pada mata uang di Nusantara ini memiliki sejarah panjang, dan mencerminkan pengaruh budaya, perdagangan, dan kolonialisme. Beberapa aksara asing yang pernah dan umum ditemukan meliputi:

Aksara Arab (Arab-Melayu/Jawi): Aksara Arab banyak digunakan pada koin kesultanan Islam di Nusantara seperti Aceh, Banten, Sumenep, Banjarmasin. Contohnya, koin asing yang diberi cap “Sumenep” menggunakan huruf Arab.
Lalu ada Aksara Tiongkok dengan karakter Han. Uang Tiongkok, yang sering disebut Kepeng Cina, digunakan secara luas dalam transaksi masyarakat, terutama di era Majapahit.
Juga ada Aksara Latin yang digunakan secara intensif pada masa kolonial Belanda, seperti pada koin Gulden dan uang kertas keluaran De Javasche Bank.
Satu lagi lainnya adalah Aksara Jepang selama masa pendudukan Jepang, yang dikeluarkan oleh Dai Nippon atau De Japansche Regeering). Huruf Jepang Katakana atau Kanji ini ditemukan pada uang kertas.
Sebagai tuan rumah ada juga aksara Jawa, yang berevolusi dari aksara induknya dari India, yang justru paling tua ada di Nusantara di era Syailendra.
Aksara aksara itu menjadi beragam yang sempat menjadi identitas mata uang yang terbit dan beredar di Nusantara. Pada zamannya uang uang yang terbit memang beragam secara lokal sesuai namanya masing masing sampai pada saatnya ada penyatuan mata uang Nusantara (Indonesia) yang bernama Rupiah. Nama Rupiah pun merupakan kata serapan dari Rupyakam dari India yang berarti Perak. Kata Perak juga sering menggantikan Rupiah Seperti Seratus Perak untuk menggantikan penyebutan Seratus Rupiah.
Keberagaman (Kebhinekaan) Indonesia ini juga dipengaruhi oleh keberadaan bangsa asing yang pernah berdiam di Nusantara selain juga dipengaruhi secara internal lokal. Dalam hal bahasa juga dipengaruhi oleh kosa kata yang berasal dari bahasa asing.
Diakui bahwa Bahasa Indonesia menyerap banyak kosa kata dari bahasa asing seperti Belanda, Inggris, Arab, Portugis, Sansekerta dan Tionghoa) melalui proses adopsi, adaptasi, atau penerjemahan. Contohnya: buku (Belanda: boek), kamera (Inggris: camera), kabar (Arab: khabar), meja (Portugis: mesa), raja (Sansekerta: rājā), dan pisau (Tionghoa).
Selain itu Bahasa Indonesia secara dinamis menyerap kosakata dari berbagai bahasa daerah untuk memperkaya perbendaharaan kata, terutama untuk konsep budaya yang unik. Penyerapan ini didukung karena banyak konsep daerah tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Indonesia. Jawa, Sunda, Batak, Minang, dan Betawi adalah penyumbang terbesar.
Adalah kebanggaan tersendiri bahwa Nusantara pernah menjadi tumpuan dan pertemuan peradaban dunia pada masa lalu. Hal serupa menjadi harapan dengan upaya menjadikan Indonesia sebagai ibukota budaya Dunia.

Hal ini mencerminkan satu visi strategis untuk mengembalikan peran historis Indonesia di panggung global. Nusantara, dengan sejarah kerajaan maritim seperti Sriwijaya dan Majapahit, pernah menjadi titik temu perdagangan dan pertukaran budaya dunia, khususnya melalui Jalur Rempah. Mengapa di era yang berkemajuan ini tidak? Percaturan dunia itu secara historis diwakili dengan sejarah mata uang.
Visi strategis untuk mengembalikan peran historis Indonesia sebagai poros maritim global, layaknya masa keemasan Sriwijaya dan Majapahit, merupakan upaya rekontekstualisasi posisi Indonesia di abad ke-21. Nusantara di masa lalu (abad ke-7 hingga ke-14) menguasai perdagangan dunia bukan hanya karena hasil buminya, melainkan karena kemampuan mengendalikan Selat Malaka dan memfasilitasi pertukaran budaya. (PAR/nng)
