Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Aksara Daerah ada di Surabaya. Secara sosial dan kultural, aksara daerah ini didominasi oleh Aksara Jawa (Hanacaraka/Carakan). Tapi Surabaya sudah menjadi rumah bagi keberagaman etnis dan budaya yang masyarakatnya kemungkinan memiliki tradisi tulis sendiri, misalnya warga etnis Sunda, Bali dan lainnya Maka aksara di Surabaya bisa meliputi Aksara Jawa (Carakan), aksara Sunda dan Aksara Bali.
Namun pada dasarnya Aksara Jawa yang voice based script (aksara yang ditulis berdasarkan suara) bisa dipakai dalam berbagai bahasa misalnya bahasa Bali, Cirebonan dan bahkan Madura. Bila mengatur Aksara Jawa (Carakan), pengajaran aksara ini bisa lintas bahasa (bisa dipakai bahasa Jawa, Indonesia, Madura dan lainnya). Apapun bahasanya, secara umum tata bahasanya (tata tulisnya) sama.
Misalnya mengenal aksara dasar (Nglegena), Sandhangan, Pasangan, ditambah mengenal penulisan angka dan huruf huruf Murda serta pembentukan aksara Rekan.
Ini menunjukkan bahwa aksara Jawa itu fleksibel dan adaptif. Bahkan aksara Jawa bisa dipakai untuk menuliskan bahasa asing. Ini cocok untuk kota Surabaya yang sudah Metropolis yang warganya sudah multikultural.
Misalnya menulis kata kata asing:

• Francois /Frankoa/ adalah ꦥ꦳ꦿꦤ꧀ꦏꦺꦴꦮ. Kunjungan

• City Corner /Siti Korner/ adalah ꦱꦶꦠꦶꦏꦺꦴꦂꦤꦼꦂ
• Welcome /welkam/ adalah ꦮꦺꦭ꧀ꦏꦩ꧀
• Ik Houd van jou /Ik hau fan yau/ adalah ꦆꦏ꧀ꦲꦻꦴꦥ꦳ꦤ꧀ꦪꦻꦴ
• Khalifah adalah ꦏ꦳ꦭꦶꦥ꦳ꦃ
Jadi pengaturan aksara dalam Peraturan Daerah (Perda) bertujuan untuk melindungi, melestarikan, dan meneguhkan jati diri budaya lokal.
Secara rinci, tujuan tersebut meliputi:
• Melindungi dan merawat warisan budaya
• Meneguhkan jati diri daerah
• Meningkatkan penggunaan aksara daerah
Ketika diterapkan di Surabaya dan melalui institusi pendidikan, hendaknya pemberlakukan itu tidak hanya pada lingkungan SD dan SMP tetapi juga lingkungan SMA dan SMK karena menyangkut zona wilayah administrasi Kota Surabaya. (PAR/nng)
