Budaya, Kebaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Secara nasional Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023 telah mengakui Kebaya sebagai identitas dan warisan budaya tak benda Indonesia yang perlu dilestarikan.
Melihat Kebaya teringat dengan busana yang dikenakan RA Kartini yang telah mengilhami banyak kaum perempuan dalam berbusana ketika merayakan Hari Kartini setiap tanggal 21 April.

Pada masa dekade 1950-an dan 1960-an, masih banyak dijumpai dalam adegan film atau foto foto kenangan bahwa dalam keseharian perempuan Indonesia mengenakan kebaya. Bahkan ke pasar tradisional pun menggunakan kebaya.
Diakui bahwa pakaian tersebut merupakan pakaian standar budaya yang nyaman dan lazim dipakai oleh semua lapisan masyarakat saat itu. Pakaian kebaya menunjukkan identitas bangsa Indonesia.
Almarhum Ibu Tien Soe

Ibu Tien Soeharto kala itu tampak selalu mengenakan kebaya saat mendampingi Presiden Soeharto (almarhum). Sekarang pakaian /busana Kebaya jarang ditemui sebagai pakaian keseharian. Kecuali dalam momen momen tertentu di acara formal baru kelihatan perempuan berbusana Kebaya.
Namun di desa desa masih dapat dijumpai perempuan perempuan berpakaian Kebaya. Umumnya perempuan perempuan usia dewasa. Sayang, kebiasaan ini sudah sangat jarang dijumpai di kota kota. Kecuali pada hari hari tertentu seperti perayaan, kondangan atau peringatan Hari Kartini dan upacara upacara.
Hari Kebaya Nasional adalah pengingat tentang busana daerah nasional ini untuk melestarikan kebaya sebagai identitas budaya, pemersatu bangsa lintas etnis, dan simbol emansipasi perempuan Indonesia. Peringatan ini sesungguhnya merujuk pada Kongres Wanita Indonesia (Kowani) X tahun 1964 yang dihadiri ribuan perempuan berbalut kebaya.

Sekarang di era modern, ternyata masih ada saja perempuan mengenakan kebaya dalam aktivitas hariannya, misalnya ke kantor dan kegiatan di luar rumah untuk kegiatan sosial dan komunitas.
Busananya natural bukan dekoratif yang dengan sengaja menunjukkan kemewahan. Natural sebagaimana perempuan perempuan tempo dulu. Bersahaja dan sederhana. Gaya ini sungguh mirip dengan cara berpakaian perempuan pada masa lampau yang jujur dan dekat dengan alam.

Pakaian kebaya zaman sekarang mungkin sedikit berbeda dari kebiasaan perempuan zaman dulu berpakaian. Tetapi secara penampilan sama. Misalnya dulu dalam berkebaya dilengkapi dengan stagen. Sekarang tidak lagi memakai stagen tapi terlihat seperti menggunakan stagen. Ini bagian dari model dari kebaya itu sendiri sehingga menjadi praktis ketika digunakan. Termasuk jariknya yang sudah serba simpel/praktis.
Diakui bahwa perkembangan kebaya saat ini menghadirkan inovasi praktis berupa stagen/angkin menyatu pada baju dan jarik instan berkerut karet, yang membuat penggunaan busana tradisional jauh lebih cepat tanpa mengurangi estetika klasiknya.
Mengenakan kebaya untuk zaman sekarang bagai menghadapi tantangan. Secara sosial mungkin masih ada orang yang membuli bahwa di zaman maju masih memakai kebaya kaya orang jual jamu.
Ini karena mengenakan kebaya di zaman modern sering dianggap ketinggalan zaman, namun kini kebaya justru menjadi simbol gaya hidup yang anggun dan kembali dicintai berkat inovasi mode yang segar.
Kebaya adalah identitas bangsa dan terbukti Kebaya telah diakui sebagai busana nasional yang diperingati sebagai Hari Kebaya Nasional.
Di lingkungan Dalem Keraton Yogyakarta dan Surakarta, kebaya masih menjadi kebiasaan. Bagaimana dengan yang di luar wilayah Yogyakarta dan Surakarta?
(PAR/nng)
