Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Sebuah gerakan budaya aksara Jawa selangkah naik, meski harus mendaki jalan terjal dan berliku. Ternyata disana masih dijumpai insan insan berbusana Nusantara yang memang tulen Nusantara.
Contohnya ada insan Nusantara di lembaga Rumah Rakyat DPRD Kota Surabaya dan juga ada pula di DPRD Provinsi Jatim. Jumlahnya masih bisa dihitung jari tangan kanan manusia. Tapi telah membuat menyenangkan karena ada uluran tangan dan limpahan hati.
Sebuah gagasan baru akan adanya usulan Raperda Aksara, Bahasa dan Sastra untuk Kota Surabaya. Tentu Raperda ini akan lebih fokus pada pengaturan masing masing objeknya. Yaitu pada Aksara, Bahasa dan Sastra.
Tiga Serangkai Objek Budaya
Gagasan ini adalah pemikiran cerdas dan berangkat dari hati yang tenang. Tiga serangkai Objek Aksara, Bahasa dan Sastra cukup berkesinambungan dan memenuhi teori Sebab Akibat.

Tiga serangkai Aksara, Bahasa, dan Sastra memang membentuk rantai sebab-akibat yang tak terpisahkan dalam peradaban. Ketiganya berjalan beriringan dari bentuk paling dasar hingga menjadi karya yang bernilai estetika tinggi.
Contohnya dari grafik Aksara jika dibaca akan menghasilkan Fonologi Bahasa, sedangkan dalam olah bahasa kelak akan menghasilkan karya Sastra.
Sungguh, bermula dari Grafik atau bentuk aksara yang bila dibaca akan menghasilkan bunyi dan aturan bahasa (fonologi). Selanjutnya jika bentuk-bentuk ini diolah lebih lanjut dengan imajinasi dan diksi, ia berubah menjadi karya sastra, yang indah. Keduanya adalah proses transformasi dari simbol visual (huruf/aksara) menjadi makna.
Contohnya, grafik Aksara Jawa Kuna (Kawi) dalam bentuk prasasti bisa berubah menjadi bunyi Bahasa Jawa Kuna (Kawi), yang kita kenal sebagai bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat Majapahit dan kerajaan kerajaan Nusantara lain sebelum Majapahit. Dari bahasa itu diolah dengan imajinasi dan diksi, lahirlah karya sastra seperti Kakawin Desawarnana atau Negarakertagama.
Karya Sastra

Foto: dok
Karya Sastra kuno lainnya meliputi dokumen keagamaan, undang undang kerajaan, wiracarita (epos), mitologi, kronik (babad), hingga karya filosofis. Di Nusantara, karya ini umumnya ditulis tangan pada bahan tradisional seperti daun lontar atau kertas daluang, dan mencakup sastra klasik Melayu, Jawa Kuno, Sunda Kuno, dan lainnya.
Alangkah bijaknya aturan aturan itu bila meliputi masing masing Aksara, Bahasa dan Sastra. Betapa objek yang terpisah tapi saling terkait dan berkesinambungan.

Pada Kamis (23/7/26) diluncurkan Kartu Aksara Jawa adalah aksi yang berbasis pada kesadaran budaya Nusantara. Kartu Jawa ini diinisiasi oleh kelompok budaya Aksara Jawa dan didukung oleh Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari.
Kartu Aksara Jawa
Menurut Sri Untari dalam sambutan peluncuran Kartu Aksara Jawa bahwa dengan mengetahui aksara daerah kita lebih mengenal dengan bijak budaya Nusantara yang pernah jaya di masanya. Nusantara ini masih ada tapi sifatnya seolah terpuruk, sifat sifatnya memudar. Kini kita bergiat lagi untuk mengembalikan sifat sifat Nusantara.
Menghidupkan kembali sifat-sifat Nusantara di tengah modernitas adalah upaya kolektif yang mendesak. Gerakan ini berpusat pada pemulihan karakter bangsa, seperti gotong royong, toleransi, musyawarah, dan keselarasan alam, melalui revitalisasi nilai luhur yang memudar akibat arus globalisasi.
Langkah Nyata

Langkah nyata dalam mengembalikan jati diri Nusantara, diantaranya melalui Diplomasi Budaya dan Repatriasi. Pemerintah diharapkan terus mengambil langkah strategis dalam mengambil kembali benda benda bersejarah yang sempat hilang atau yang lepas.
Aktualisasi Kearifan Lokal. Yaitu mengintegrasikan nilai spiritual, etika, dan keselarasan hidup dalam tatanan bermasyarakat melalui riset dan pemanfaatan kearifan lokal yang didorong oleh berbagai elemen.
Juga perlunya pemberdayaan komunitas. Memperkuat komunitas budaya, serta edukasi sejarah langsung dari para tokoh sebagai wadah pewarisan nilai kepada generasi penerus. Salah satunya adalah hadirnya komunitas Aksara Jawa, yang terus berjuang menciptakan aksi aksi yang lebih mendekatkan dengan budaya lokal.
Pesan Dewan

Melalui Kartu Aksara Jawa sebagai media pembelajaran Aksara Jawa sebagai muatan lokal (Mulok), Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari, menyerahkan Kartu Aksara Jawa kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jatim agar diteruskan ke sekolah sekolah setingkat SMA/SMK se Jawa Timur seraya berpesan agar meletakkan kembali pelajaran Aksara Jawa di bangku sekolah secara formal.

Upaya pembudayaan belajar Aksara Jawa ini tidak bisa individu tetapi harus kolektif setidaknya secara pentahelix yang melibatkan lima unsur: Pemerintah, Dunia Usaha, Komunitas, Akademisi dan Media. (PAR/nng)
