Ancaman Genosida Budaya Ada Di Sekitar Kita.

Budaya, sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Ada tiga pengingat akan bahaya hadirnya genosida budaya. Yaitu 1). kaburkan sejarahnya; 2). hancurkan situs, artefak dan bukti bukti pendukungnya; 3). putuskan hubungan dengan leluhur.

Semua itu dirasa nyata adanya. Siapakah mereka?

Dalam berbagai peristiwa sejarah dan konflik modern, “mereka” ini umumnya adalah kekuatan rezim opresif, yang berniat menghapus identitas sebuah bangsa atau kelompok etnis tertentu dari muka bumi.

Tujuan dari ketiga tahapan tersebut adalah untuk menciptakan amnesia sejarah, agar generasi masa depan dari kelompok, yang ditargetkan, lupa akan akar budaya mereka sendiri dan berasimilasi secara paksa.

Ini yang menyebabkan bangsa ini (Nusantara) tercabut dari akarnya (budayanya). “Mereka” ada disekitar kita, yang tampak luar serupa dengan kita.

 

Awas !!!.

Fenomena ini dinilai telah memutus sebagian masyarakat dari akar budayanya sendiri, menciptakan krisis identitas, yang mendalam di tengah masyarakat modern.

Kita, secara akar budaya, adalah masyarakat yang beridentitas pada keragaman budaya daerah yang kemudian menjadi fondasi kebudayaan nasional. Jati diri kita dibentuk oleh nilai-nilai luhur seperti gotong royong, ramah tamah, sopan santun, dan penghargaan terhadap sesama.

Sementara, akar budaya Jawa merupakan perpaduan nilai-nilai animisme/dinamisme asli Nusantara, yang kemudian mengalami akulturasi mendalam dengan ajaran Hindu-Budha dan Islam. Sinkretisme ini melahirkan filosofi hidup yang menjunjung tinggi keharmonisan, sopan santun (seperti unggah-ungguh bahasa), dan spiritualitas seperti Kejawen.

Namun akar budaya ini memiliki ruang sebagai batasan identitas. Akar budaya memang memberikan batasan dan arah bagi identitas dengan menyediakan nilai, tradisi, dan pandangan hidup. Ruang ini menjaga jati diri agar tidak luntur oleh modernisasi, sehingga identitas tetap relevan dan memiliki karakter yang jelas.

Secara nasional, akar budaya adalah kebudayaan daerah, yang tumbuh dan berkembang di berbagai suku bangsa seluruh wilayah Indonesia. Berbagai tradisi, aksara, bahasa, nilai luhur, dan adat istiadat setempat tersebut saling berinteraksi, dipersatukan oleh nilai-nilai Pancasila dan menjadi identitas serta jati diri bangsa Indonesia.

 

Budaya Asing

Seiring dengan masuknya budaya asing dalam ruang Nusantara dan lokal, dikhawatirkan akan mempengaruhi eksistensi budaya lokal/setempat. Orang yang lemah dalam berwawasan budaya lokal, akan mudah dimasuki (disusupi) untuk tujuan tujuan yang mengganggu eksistensi budaya lokal maupun nasional

Kekhawatiran itu sangat nyata. Tanpa pondasi wawasan dan kecintaan yang kuat terhadap budaya lokal, masyarakat, terutama generasi muda, rentan tergerus oleh budaya asing. Hal ini dapat membuka celah masuknya nilai-nilai yang bertentangan dengan kepribadian bangsa dan mengancam identitas nasional.

Fakta itu telah ada dan nyata, maka waspadalah. Apalagi ancaman itu juga berjaket budaya lokal. Kewaspadaan adalah benteng utama. Ancaman yang menyusup menggunakan kedok kearifan atau tradisi lokal sering kali mengecoh karena terasa akrab. Untuk menangkalnya, kenali dan saring setiap nilai baru agar tidak melunturkan jati diri dan norma dasar.

Presiden Pertama Soekarno pernah mengingatkan kewaspadaan itu dengan mengatakan:

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Ini seiring dengan ancaman Genosida budaya (ethnocide) atau pemusnahan sejarah (pembungkaman memori kolektif). Cara ini memiliki metode sistematis dan biasanya dilakukan dengan cara cara:

Tiga cara melemahkan suatu negara. Foto: ist

Pengaburan Narasi:

Memanipulasi atau menulis ulang catatan sejarah, kurikulum, dan literatur agar sesuai dengan kekuasaan tertentu.

 

Vandalisme Budaya:

Menghancurkan situs suci, monumen, dan artefak sejarah untuk menghilangkan bukti fisik keberadaan suatu peradaban.

 

Putus Regenerasi: 

Melarang penggunaan aksara dan bahasa ibu, tradisi, dan praktik adat agar generasi penerus teralienasi dari akar budayanya sendiri.

Awas, mereka ada di sekitar kita. Waspadalah, Waspadalah, Waspadalah. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *