Kok, Jadi Begitu di Peneleh?

Rajapatni.com: SURABAYA – Seiring dengan revitalisasi makam Eropa Peneleh pada 2024, wilayah Peneleh bergerak. Apalagi sebelumnya sudah ada gelar festival Peneleh yang menjadi wadah dinamika sosial budaya dan ekonomi warga yang harus siap siap menjadi tuan rumah ketika dapat kunjungan wisatawan.

Wal hasil, datang juga kunjungan dari tamu tamu Kapal pesiar yang membawa tamu tamu manca negara. Kala itu di tahun 2024, penulis menjadi salah satu guide dari rombongan tamu tamu Kapal Pesiar. Penulis yang juga memiliki latar belakang pemandu wisata (guide) membandingkan pengalamanya ketika membawa rombongan tamu tamu kapal pesiar di tahun 1990-an dengan pengalaman terbarunya di tahun 2023-2024.

Pengalaman penulis dalam perbandingan mengenai rute wisata untuk rombongan tamu tamu kapal pesiar itu diutarakan kepada koordinator/perwakilan guide Surabaya, HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Surabaya. Bahwa rute spot wisata di tahun 1990-an adalah sama dengan tahun 2023-2024.

Padahal ada selang waktu 30 tahunan (1990 – 2023). Dalam kurun waktu itu apakah tidak ada hal menarik lainnya selain Kayoon, Kebun Binatang, Pura dan plaza plaza yang dikunjungi pada 1990-an dan menjadi objek kunjungan tahun 2024.

Disampaikan kepada koordinator guide dan pimpinan tour operator kapal pesiar bahwa di Surabaya ada kampung yang menarik dikunjungi karena selain menawarkan wisata sejarah juga menawarkan dinamika perkampungan yang otentik. Perkampungan itu di kampung Peneleh. Tentu perkampungan ini total berbeda dan kontras dengan perkampungan komunitas di Eropa dimana tamu tamu berasal. Tentu pemandangan kontras itu memberikan informasi yang menarik, dan bahkan edukasi yang luar biasa bagi mereka.

Maka ditawarkanlah Peneleh sebagai spot kunjungan dimana di kawasan Peneleh ada satu rumah yang bisa bernarasi tentang Surabaya karena dekorasi informatifnya melalui foto foto koleksinya. Selain itu, rumah itu menjadi tempat pemberhentian sambil menikmati kulineran Surabaya.

Warga lokal turut membantu menarasikan sumur Jobong sebagai bentuk peradaban domestik di masa Majapahit. Foto: ist

Akhirnya spot Peneleh dengan rumah lodji, yang informatif menjadi jujugan. Sejak itu (2024) hingga sekarang (2026) sudah banyak bus bus membawa tamu kapal pesiar ke lokasi Peneleh. Di Peneleh memang ada jejak peradaban kuno dengan sumur Jobong nya, selain rumah rumah bergaya kolonial dan yang penting dan otentik adalah dinamika masyarakat nya yang bisa menjadi pembelajaran mengenai Cross Cultural Understanding (CCU).

Saking banyaknya kunjungan wisatawan dari Kapal Pesiar, maka muncul gejolak (kerikil) kecil yang mengganggu. Menurut koordinator guide yang melayani rombongan kapal pesiar, Tina, bahwa muncul tindakan tindakan kecil yang seharusnya tidak terjadi.

Contohnya agent yang telah mengagendakan loji sebagai Starting point dan stopping point untuk refreshment muncul wacana digantikan dengan tempat yang dikelola oleh Pokdarwis”, kata Tina.

Menurutnya memperkenalkan Peneleh untuk membawa masuk tamu tamu dari kapal Pesiar ini tidak gampang dan tentu saja pihak agent melakukan survey untuk destinasi kunjungan sebelum ditawarkan ke pihak pengelola wisata kapal pesiar. Salah satu hasil survei itu adalah rumah Lodji yang representatif untuk stopping point.

Seorang wisatawan mencoba membersihkan beras dengan Tempeh. Foto: ist

Terlalu sayang jika pihak agent sampai mengetahui persoalan ini dan kemudian mengalihkan kunjungan ke kampung Surabaya lainnya.

Sayang jika tamu tamu beralih kunjungan ke kampung lainnya dan sekarang sudah ada gambaran kampung sebagai pengganti kampung Peneleh” tandas Tina.

Pada hari Jumat (17/4/2026) ada 20 bus pariwisata dengan tamu tamu yang turun dari Kapal Viking Orion. Bahkan pernah ada sampai 30 bus.

Perlu diketahui bahwa Peneleh menyimpan lapisan peradaban dan sejarah mulai dari peradaban klasik Majapahit, Kolonial hingga Kemerdekaan serta Pasca Kemerdekaan. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *