Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Sekelompok pemandu wisata (guide) Surabaya menggali dan menimba ilmu (wawasan sejarah) di Kota Lama Surabaya zona Eropa pada Minggu (19/4/26). Ini adalah sikap baik dari para pemandu muda untuk mau belajar dan menambah wawasan tentang Kota Lama Surabaya yang sudah menjadi kemasan kawasan bersejarah Surabaya. Menyadari bahwa semakin banyak kunjungan wisatawan, utamanya yang datang dengan kapal pesiar. Kawasan Kota Lama Surabaya bisa merepresentasikan Surabaya yang memiliki lapisan sejarah yang tidak hanya pada lapisan sejarah kolonial.

Mengawali jalan jalan edukatif sore itu, mereka berkumpul di Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali sebagai starting point. Di tempat ini diisi dengan overview Kota Lama sebelum masuknya bangsa Eropa di abad 17 hingga kedatangan bangsa Eropa dan seterusnya yang diiringi dengan perkembangan dan pembangunan Surabaya (d/h Soerabaia).
Ada 6 orang guide muda. Mereka adalah Ali Ridho, Imam Machmudi, Katherine Ayu, Putri Revita, Rara dan Nurul Yanti, yang didampingi oleh seniornya Agustina (Tina).
Hotel Horison Arcadia Heritage Rajawali menjadi meeting point dan sekaligus starting point karena di tempat ini deskripsi general tentang Kota Lama Surabaya diberikan oleh Nanang Purwono, yang berlatar belakang guide dan jurnalis yang bernaung di bawah komunitas aksara Jawa Puri Aksara Rajapatni.
Selain membicarakan tentang kisah Kota Lama Surabaya utamanya zona Eropa, Nanang juga mengajak guide guide muda mengamati beberapa karya sketsa yang dipamerkan di hotel. Melalui sketsa sketsa ini, para pemandu wisata muda ini bisa mengamati beberapa sudut kota lama dan termasuk sketsa wajah kota Surabaya pada abad 18. Melalui sketsa itu, mereka bisa mengimajinasikan kota lama Surabaya pada masa lalu.
Walking Tour
Setelah mendapatkan orientasi tentang Kota Lama Surabaya, mereka selanjutnya diajak kunjungan lapangan (walking tour) ke poin poin Kota Lama Surabaya. Dalam walking tour itu, mereka mengamati nama nama jalan yang ditulis dalam bahasa Belanda (nama lama). Menurut Nanang bahwa nama nama Belanda (lama) memberikan informasi tentang pernah adanya fasilitas dan utilitas kota pada zamannya.

Misalnya jalan Stadhuis Steeg (sekarang jalan Gelatik) berarti gang Balai Kota, yang diduga merupakan kawasan perumahan pejabat Balai Kota Surabaya pada era VOC. Kawasan perumahan Balai Kota ini terbuktikan dengan rumah rumah di sepanjang jalan (gang) yang bangunannya berupa rumah rumah berbentuk atap pelana lancip dengan facade simetris, yang merupakan desain khas abad 18 dan bahkan abad 17. Jalan (gang) ini berada persis di belakang Kantor Balai Kota, yang sekarang sudah dibongkar untuk akses jalan yang menghubungkan jalan Rajawali (Heerenstraat) dan Jalan Kembang Jepun (Handelstraat).

Dari jalan Gelatik yang menuju ke jalan Mliwis ini, mereka mengamati bentuk bentuk arsitektur bangunan mulai dari bangunan abad 18, 19 dan 20.
“Ya, kota lama Surabaya ini bagai laboratorium dan museum hidup arsitektur karena menyimpan gaya arsitektur abad 20, 19 hingga 18. Arsitektur abad 20 adalah bangunan yang bergaya garis garis horizontal dan vertikal, arsitektur abad 19 ditandai dengan pilar pilar di teras bangunan. Sedangkan arsitektur abad 18 ditandai dengan bangunan beratap pelana runcing ke atas yang pada ujung gawelnya terdapat mahkota piron”, demikian jelas Nanang kepada semua peserta.
Aksara Jawa

Masih di jalan Mliwis, mereka memperhatikan peta lama Surabaya yang masih tergambar kawasan tembok kota. Mereka juga memperhatikan penggunaan aksara Jawa sebagai simbol bahwa sebelum bangsa Eropa masuk, di kawasan ini telah tinggal warga lokal yang terdiri dari Jawa dan Madura.
“Bagi orang Jawa, bicaranya ya bahasa Jawa. Bagi orang Madura, bicaranya menggunakan bahasa Madura. Jika mereka menulis menggunakan Aksara Jawa”, jelas Nanang.
Karenanya Nanang dan komunitasnya Puri Aksara Rajapatni mempromosikan penulisan aksara Jawa di kampung ini.
Gedung Singa

Dari jalan Gelatik dan Mliwis, mereka bergerak ke jalan Jembatan Merah dan berhenti di depan gedung istimewa. Yaitu gedung Singa yang diarsiteki oleh tiga seniman: HP Berlage (arsitek), Mendes Da Costa (pematung) dan Jan Toorop (pelukis keramik).
Gedung ini sangat monumental karena ketika di awal abad 20 semua bangunan di Surabaya termasuk di jalan Rajawali (Heerenstraat) dan Jalan Jembatan Merah (Willems Kade) masih berarsitektur grandeur berpilar dan berwarna hitam putih (monokrom), gedung Singa dibangun dengan gaya berbeda (penuh seni) dan bermain warna warni dengan hiasan patung singa dan lukisan keramik. Keberadaan ini menjadi banyak perhatian ketika melewati depannya.
Roode Brug

Dari gedung Singa, mereka menuju Jembatan legendaris Roode Brug atau Jembatan Merah. Persis di atas jembatan ini mereka berhenti dan bernarasi. Diceritakan Nanang Purwono bahwa sebelum ada jembatan, dulunya adalah berupa tambangan yang kemudian di era Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels dibangun jembatan kayu, yang tengahnya bisa diangkat (ophaalbrug) untuk akses perahu perahu yang lewat di bawahnya.
Kemudian pada kisaran tahun 1860 an jembatan angkatnya diubah menjadi jembatan statis yang masih berkonstruksi kayu yang bercat mani warna merah. Pada tahun 1890 diubah menjadi konstruksi besi hingga akhirnya menjadi jembatan berkonstruksi beton pada pasca kemerdekaan.
Dalam perkembangan zaman jembatan merah menjadi koneksi kawasan Eropa dengan kawasan kawasan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen yang terdiri dari Pecinan, Melayu dan Arab).
Di tempat inilah, jembatan Merah, walking tour selesai. (PAR/nng)
