Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Wah wah wah wah waaahhhh….. tetenger nilai kejuangan di situs Rumah Radio Bung Tomo di jalan Mawar Surabaya itu ternyata dibuat oleh perangkat kelurahan setempat. Informasi ini diperoleh dari keterangan kerabat keluarga Bambang Sulistomo (putra Bung Tomo) dan wartawan senior Surabaya.
Bagaimana seorang perangkat kelurahan kok bisa membuat catatan sejarah penting bagi Surabaya dan tidak akurat lagi? Kok bukan lembaga terkait dari pemerintah Kota Surabaya seperti Tim Ahli Cagar Budaya (TACB)?

Akhirnya, ada data sejarah yang hilang atau bahkan dihilangkan. Contohnya penyebutan lokasi peristiwa sejarah tidak lengkap. Padahal pada SK Walikota Surabaya nomor 188.45/004/402.1.04/1998 tentang Rumah Pak Amin, yang digunakan sebagai Rumah Radio Bung Tomo pada 1945, tidak ditulis. Ini adalah bentuk penghilangan data sejarah Surabaya.

Apakah narasi, yang memuat data sejarah Surabaya itu, telah diketahui oleh pihak yang berwenang terkait kesejarahan dan kebudayaan kota Surabaya?
Tetenger untuk menghargai nilai kejuangan Bung Tomo itu memuat nilai penting tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kok bisa tidak akurat? Kok bisa terjadi? Ada apa dibalik ini semua? Ringkasnya, ini sebuah wujud pengaburan sejarah.
Narasi sejarah atau tetenger (penanda) resmi di Kota Surabaya secara institusional seharusnya dikeluarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP). Lha tetenger perjuangan Bung Tomo kali ini kok tidak?
Menurut keterangan kerabat keluarga Bambang Sulistomo dan wartawan senior Surabaya, tetenger Sejarah kota Surabaya di jalan Mawar itu dikeluarkan oleh pejabat kelurahan setempat. Jalan Mawar 10-12 Surabaya termasuk wilayah administrasi kelurahan Tegalsari.
Jika ternyata ada ketidak akuratan data sejarah seperti ini, siapa yang bertanggung jawab. Pada 31 Mei 2026 dalam acara peluncuran buku “Jejak Perjuangan Bung Tomo di Mawar 10 Surabaya” telah digagas untuk pembuatan tetenger yang representatif dengan mengindahkan desain dan isi narasi, tetapi ternyata sudah terpasang yang isi narasinya tidak akurat dan desainnya ala kadarnya.
Kata seorang warga Surabaya melalui pesan WA nya mengatakan bahwa tetenger itu seperti sebuah nisan.

Komentarnya tidak salah. Bentuk desain dan gaya arsitekturnya jauh berbeda dari tetenger tetenger kepahlawanan yang pernah ada sebelumnya misalnya di RRI Surabaya, Delta Plaza, RS Darmo, dan Balai Pemuda.
Bung Tomo adalah pahlawan nasional dan layak dibuatkan tetenger yang pantas bukan sekedar tetenger asal jadi seperti tetenger di balai RT. Bung Tomo pernah menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran yang juga merangkap sebagai Menteri Sosial (Ad Interim) pada tahun 1955-1956.
Apakah arek arek Surabaya rela tetenger untuknya hanya dibuat ala kadarnya dengan ketidak akuratannya? (PAR/nng)
