Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – “Paham Aksara, Bijak Berbahasa” adalah seruan bersama bagi kita untuk memahami huruf (aksara) atau tulisan tradisional agar dapat menggunakan bahasa yang santun, benar, dan bermakna. Ungkapan ini merangkum pentingnya literasi budaya dan etika komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Hubungannya Aksara Dan Bahasa
Pemahaman aksara memang bisa membuat seseorang bijak dalam berbahasa karena proses membaca dan menulis dapat melatih ketelitian, kejelasan makna, serta penguasaan kaidah, yang meredam kesalahan ucap dan emosi.
Membaca dan Menulis adalah tujuan dari suatu Pembelajaran dasar. Membaca dan Menulis dikenal dengan singkatan Calis + (Tung) menjadi (Calistung = Membaca, Menulis dan Berhitung).
Istilah ini merujuk pada tiga kemampuan dasar akademik, yang diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, terutama pada masa prasekolah, taman kanak-kanak (TK), atau awal sekolah dasar (SD).
Tak terkecuali adalah belajar Aksara (latin, Jawa, Bali, Sunda, dan lain nanya). Pada dasarnya, belajar huruf (aksara) atau lambang bunyi dapat melatih otak untuk berpikir runtut, teliti, dan sabar. Dari proses belajar, akhirnya sampailah kepada titik pemahaman.
Titik Pemahaman
Titik pemahaman adalah puncak dari proses belajar yang mengubah informasi mentah menjadi makna nyata, ditandai oleh kemampuan menjelaskan, mengaplikasikan, dan melihat hubungan antar-konsep.
Hakikat Pemahaman adalah bukan sekadar hafalan. Tapi mengerti alasan dan cara kerja suatu hal.
Dengan paham huruf (aksara) dan ejaan sekaligus dapat menghindarkan kekeliruan arti kata, yang bisa menyinggung perasaan orang lain.
Tulisan itu menuntut bentuk pertimbangan etika sebelum diungkapkan, sehingga dapat memunculkan kesantunan berbahasa.
Paham Aksara adalah mengerti membaca, menulis dan melestarikan warisan tulisan Nusantara seperti Aksara Jawa, Sunda, atau Batak sebagai identitas bangsa.
Bijak Berbahasa berarti menggunakan perkataan yang sopan, santun, serta sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.

Bahasa Baik dan Benar
Bahasa baik dan benar adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi atau konteks komunikasi (baik) serta taat pada kaidah tata bahasa dan ejaan yang berlaku (benar).
Konsep ini memadukan ketepatan situasi sosial (Sosiolinguistik) dan kepatuhan aturan baku (Gratical).
Konsep Berbahasa “Baik”.
Sesuai konteks (Sosiolinguistik) Memilih ragam bahasa yang pas dengan siapa kita berbicara dan di mana tempatnya.
• Memperhatikan lawan bicara: Menyesuaikan gaya bahasa dengan usia, status sosial, atau tingkat keformalan situasi.
• Pilihan kata tepat: Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan sopan agar pesan tersampaikan dengan baik.
Konsep Berbahasa “Benar”:
Mengikuti aturan tata bahasa resmi seperti struktur kalimat yang jelas
• Ejaan dan tanda baca: Menulis kata dan memakai titik koma sesuai pedoman ejaan resmi.
• Kosakata baku: Memakai pilihan kata yang terdaftar di Kamus Besar Bahasa Indonesia
Semuanya adalah semata mata untuk Pelestarian warisan budaya. Yaitu menjaga Identitas, merawat akar budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Berdasarkan pengamatan empiris, didapati bahwa paham aksara, menjadi wujud visual atau tulisan yang memandu bagaimana suatu ucapan. Kesalahan ucap berarti kesalahan makna. (PAR/nng)
