Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Siapa punya dan dukung pemajuan aksara lokal adalah bijak ketika mau berupaya dalam pemajuannya. Di Indonesia setidaknya ada 26 aksara lokal dalam bingkai Aksara Nusantara. Demikian menurut PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia).
Tetapi baru tiga yang terdaftar sebagai nama domain internet yang berbasis aksara lokal. Ketiganya adalah aksara Jawa, Bali, dan Pegon.
PANDI menyiapkan peluncuran Internationalized Domain Names atau IDN Aksara Nusantara dalam forum ICANN 87 di Bali pada Oktober 2026.

Dikutip dari Voice of Indonesia (VOI) bahwa rencana itu telah dibahas dalam pertemuan PANDI dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Rabu, 22 Juli.
Kelak IDN memungkinkan alamat internet ditulis dengan menggunakan aksara daerah selain Latin. Dengan sistem ini, aksara daerah dapat digunakan sebagai alamat digital yang sah dan mudah dikenali.
Selama ini PANDI mencatat ada 44 negara telah memiliki nama domain berbasis aksara lokal. Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar karena sebagian besar aksara Nusantara belum masuk sistem tersebut Terlalu naif bila Indonesia, yang memiliki banyak aksara daerah, ternyata masih memiliki pekerjaan besar dalam pemajuan aksara daerahnya.
Salah satu terobosan dalam pemajuan aksara daerah ini adalah digitalisasi aksara agar penggunaannya bisa lebih masif.
Diakui, digitalisasi aksara daerah merupakan langkah penting untuk melestarikan warisan budaya agar dapat diakses, diketik, dan digunakan secara luas di perangkat digital dan internet.
Tujuan dan Manfaat Digitalisasi Standarisasi Internasional: Mendaftarkan aksara daerah ke dalam standar pengodean global Unicode agar bisa dipakai di komputer dan ponsel.
Kemudahan Akses: Memungkinkan penggunaan papan ketik (keyboard) dan fon khusus di berbagai aplikasi perpesanan serta media sosial.
Relevansi Zaman: Menjadikan budaya tulis tradisional lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda yang lekat dengan teknologi.
Sejauh ini Aksara yang telah digitalisasi adalah Aksara Jawa, Sunda, dan Bali. Mereka sudah memiliki dukungan fon serta standar digital.
Sementara Aksara Nusantara lainnya adalah Aksara Lontara (Bugis), Batak, Lampung, hingga Pegon yang secara bertahap dimasukkan ke dalam ruang digital.
Daftar Aksara Nusantara di Unicode
• Aksara Bugis (Lontara): Blok 1A00–1A1F (Unicode Versi 4.1).
• Aksara Bali: Blok 1B00–1B7F (Unicode Versi 5.0).
• Aksara Sunda: Blok 1B80–1BBF (Unicode Versi 5.1).
• Aksara Rejang: Blok A930–A95F (Unicode Versi 5.1).
• Aksara Jawa: Blok A980–A9DF (Unicode Versi 5.2).
• Aksara Batak: Blok 1BC0–1BFF (Unicode Versi 6.0).
• Aksara Makassar: Blok 11EE0–11EFF (Unicode Versi 11.0).
• Aksara Kawi: Masuk dalam standar Unicode versi lebih baru (dirilis sekitar tahun 2022).
• Aksara Pegon: Termasuk dalam daftar sembilan aksara Nusantara yang sudah terdigitalisasi ke Unicode.
Unicode
Unicode adalah standar industri global, yang memberikan nomor unik, yang disebut titik kode atau code point, untuk setiap huruf, simbol, aksara dari berbagai bahasa di dunia, hingga emoji.
Sistem ini dikelola oleh Unicode Consortium agar komputer dapat menampilkan dan membaca teks secara konsisten di semua perangkat.
Surabaya
Surabaya memiliki aksara tradisional yang telah digunakan sejak lama dan terbukti pada penulisan prasasti, Manuskrip dan artefak penting. Misalnya:
• Aksara Jawa Kuna (Kawi) pada prasasti Canggu (1358 M)

• Aksara Jawa Kuna (Kawi) pada manuskrip Negarakertagama (1336 M)

• Aksara Jawa Baru dan Pegon pada Koin Java (1816 M)


• Aksara Jawa pada Prasasti Masjid Kemayoran (1848 M).

• Aksara Pegon pada Manuskrip Bureng (1850-an M).

Atas dasar historis itu, Surabaya layak berpartisipasi Aktif dalam upaya pemajuan aksara daerah, yang didukung oleh produk produk hukum sesuai Undang Undang 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. (PAR/nng)
