Śūrabhaya (Prasasti Canggu 1358) & Śūrabhaya (“Er Werd Een Stad Geboren” 1953) Berkorelasi.

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Mencari buku yang menuliskan / menggambarkan Surabaya di abad 13, tidaklah mudah. Ada satu sumber primer yaitu Prasasti Canggu, yang berangka tahun 1358 M, yang mengisahkan secara umum bahwa Śūrabhaya adalah sebuah deça di pinggiran sungai. Di deça Śūrabhaya telah ada jasa Tambangan (penyeberangan) sungai, yang karena jasa itu, Raja Majapahit Hayam Wuruk menuliskan nama Śūrabhaya pada sebuah piagam resmi, yang kita kenal sebagai Prasasti Canggu atau Trowulan I.

Ada satu buku karya legendaris sejarawan GH von Faber (Godfried Hariowald von Faber), yang lahir di Surabaya pada 1 Desember 1899 dan keturunan Jerman-Belanda. Ia adalah penulis buku sejarah monumental “Oud Soerabaia” (1931), “Nieuwe Soerabaia” (1935) dan “Er Werd Een Stad Geboren’ (1953) serta dikenal sebagai pendiri museum pertama di kota Surabaya “Stadelijk Museum Soerabaia” pada tahun 1933, yang gedungnya kini dikenal menjadi sekolah SMA Trimurti Surabaya.

Sebagai jejaknya, di sekolah Trimurti masih ada peninggalan museum yang berupa patung setengah badan GH von Faber, patung setengah badan Pangeran Diponegoro, Simbol kota Surabaya dan lonceng sekolah.

 

GH von Faber

Sejarawan Surabaya pasti tidak asing dengan nama Godfried Hariowald Von Faber atau biasa dikenal dengan GH Von Faber. Karya GH Von Faber menjadi rujukan banyak kalangan sejarawan dalam menggali Surabaya tempo doeloe.

Von Faber menulis tiga serangkai buku: Oud Soerabaia, Nieuwe Soerabaia dan Er Werd Een Stad Geboren. Semuanya berkisah tentang Surabaya. Salah satunya yang berjudul “Er Werd Een Stad Geboren” (Telah Lahir Sebuah Kota) menggambarkan Surabaya di tahun 1275 M.

Dalam buku itu sejarawan G.H. Von Faber berhipotesis bahwa Surabaya didirikan pada tahun 1275 oleh Raja Kertanegara (Singasari). Daerah ini awalnya dibuka sebagai permukiman bagi para “jawara” atau pasukan elite, yang berjasa menumpas pemberontakan Kanuruhan pada tahun 1270 M.

Patung setengah badan GH von Faber. Foto: ist

Von Faber mendeskripsikan Surabaya pada masa itu sebagai sebuah kawasan delta yang dikelilingi oleh empat aliran air alami dan buatan: Sisi Barat: Kalimas, Sisi Selatan: Kanal air (saat ini wilayah Jalan Jagalan), Sisi Timur: Sungai Pegirian, dan Sisi Utara: Kanal air (wilayah Jalan Stasiun)

 

Permukiman Tua

Permukiman tertua ini diyakini bermula di kawasan sekitar Pengampon, Semut, Kalianyar, Pandean Lor, dan Bunguran, yang menjadi tempat para pelindung kerajaan dan mengamankan wilayah delta strategis tersebut.

Dari gambar hipotesis Von Faber tahun 1275 bahwa di Śūrabhaya pernah ada kolam segi empat berdinding batu sebagai emplasement. Kolam atau danau persegi empat ini terkoneksi dengan Kalimas di sisi Barat.

Dalam perkembangan zaman, danau (bahasa Belanda danau adalah Meer) hilang namun menyisakan kampung kampung dengan toponimi Meer seperti Semut Kalimeer, Pengampon Kalimeer dan Kalianyar Kalimeer. Nama nama kampung Semut, Pengampon dan Kalianyar ini memang beririsan dengan gambar emplasement danau/Dermaga dalam hipotesis GH von Faber, Er Werd Een Stad Geboren (1953).

Maka, nama Meer menjadi petunjuk pernah adanya kubangan air yang luas atau danau (Meer = Danau) di Śūrabhaya pada 1275. Diduga kubangan/danau ini menjadi dermaga (pelabuhan) Śūrabhaya.

Dalam konteks geografi dan transportasi, sebuah pelabuhan menjadi petunjuk utama adanya jalur perdagangan, konektivitas ekonomi, dan pusat aktivitas manusia. Itulah fakta tentang Surabaya tempo dulu.

 

Surabaya Kota Pelabuhan

 

Patung setengah badan Hayam Wuruk. Foto: ist

Surabaya memang dikenal sebagai pusat maritim yang vital. Sejak era Majapahit, muara Sungai Kalimas berfungsi sebagai pelabuhan utama, menghubungkan kerajaan di pedalaman dengan Lautan.

Pada masa kolonial, pergerakan komoditas seperti rempah dan gula melahirkan Kota Bawah (Beneden Stad) yang lokasinya di kawasan Jembatan Merah & Kembang Jepun, sebagai pusat konektivitas yang memadukan pedagang dari berbagai bangsa. Kawasan Jembatan Merah ini berada sedikit ke Utara dari kawasan Pengampon, Semut dan Kalianyar sebagaimana tergambar pada peta hipotesis GH Von Faber 1275 pada buku Er Werd Een Stad Geboren.

Śūrabhaya (1275 M) ini ditulis dalam buku Er Werd Een Stad Geboren, yang dibuka oleh Raja Singasari Kertanegara (1268 – 1292 Masehi).

Selain itu Śūrabhaya juga dikenal sebagai tempat permukiman khusus sebagai anugerah dan tempat tinggal bagi para Jawara (pasukan atau ksatria yang tangguh), setelah sukses mengalahkan pemberontakan Kanuruhan pada 1270 (Faber)

 

Lokasi Permukiman: 

Para jawara atau ksatria pemberani ini ditempatkan di kawasan strategis yang dikelilingi aliran air (sungai), yang saat itu meliputi wilayah Pengampon, Semut, Pandean Lor, Kalianyar dan Bunguran.

 

Kondisi Geografis:

Oleh Von Faber, kawasan kuno Surabaya ini disebut sebagai kota yang berkalang air karena diapit oleh empat sungai: Sungai Kalimas (barat), Kanal Jagalan (selatan), Sungai Pegirian (timur), dan Kanal Stasiun/Waspada (utara,).

Menurut hipotesis sejarawan Von Faber, kawasan ini diyakini sudah menjadi permukiman sejak tahun 1275 M. Bila dikaitkan dengan catatan Raja Majapahit Hayam Wuruk yang ditulis pada piagam resmi Prasasti Canggu pada 1358, nama Śūrabhaya ada korelasinya.

Jadi nama Śūrabhaya pada Prasasti Canggu 1358 dengan Śūrabhaya dalam buku “Er Werd Een Stad Geboren” (1953) memiliki korelasi. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *