Komparasi Śūrabhaya Vs Bukul

Budaya, Sejarah

Rajapatni.com: SURABAYA – Kawasan Bungkul (Surabaya sisi Selatan) tampak lebih rural dibandingkan Śūrabhaya (Surabaya sisi Utara) yang posisinya lebih ke hilir sungai.

Terbaca Śūrabhaya dalam aksara Jawa Kuno (Kawi). Foto: nng

Berdasarkan Prasasti Canggu (1358 M), wilayah Śūrabhaya (Surabaya kuno) diidentifikasi sebagai desa di titik paling hilir Sungai Brantas (Kalimas), yang dekat dengan muara laut dan menjadi pusat perdagangan Masyarakat.

Buku karya GH von Faber. Foto: ist

Menurut GH Von Faber dalam bukunya “Eer Werd Een Stad Geboren” (1953) menghipotesis bahwa Surabaya sudah ada pada 1275, yang letaknya di Utara Peneleh alias di kawasan Pengampon, Semut, Pandean dan Sulung.

Lalu berdasarkan Peta Pertahanan Trunojoyo (1677) yang dibuat VOC, di kawasan Sulung (seberang Pandean) pernah ada jejak bangunan kuno sebelum era Kepangeranan, yang dimanfaatkan sebagai pos pertahanan Trunojoyo.

 

Semut Kalimeer

Hipotesis peta Śūrabhaya 1276 oleh GH von Faber. Foto;: von faber

Di kawasan yang tersebut sebagai Surabaya (1275) itu digambarkan ada petak dermaga sungai dengan bibir dermaga yang terbuat dari konstruksi batu (batu bata atau batu andesit). Petak ini seperti konstruksi Kolam Segaran di Trowulan Mojokerto namun berukuran lebih kecil.

Secara toponimi di kawasan itu ada nama kampung. Namanya Semut Kalimeer (Kalimir). Kata “kalimeer” (atau lebih sering ditulis Kalimir) adalah istilah atau nama tempat dalam bahasa Jawa dan Belanda yang merujuk pada area di dekat sungai.

Secara harfiah, istilah ini berasal dari gabungan dua kata: Kali (Bahasa Jawa) yang berarti sungai, dan Meer (Bahasa Belanda) yang berarti danau, air, atau genangan air, yang luas.

Hipotesis peta Śūrabhaya 1275. Foto: faber
Semut Kalimir. Foto: google.

Jika ada nama Semut Kalimir, berarti ada Kampung Semut di dekat Air. Semut Kalimeer ini berada pada lokasi petak kolam di tempat yang bernama Śūrabhaya

 

Pengalaman Nyata

Pernah pada tahun 1979, ketika penulis masih SD, Bapak membuat sumur bor (sumur pompa) yang mengambil air tanah. Ketika sedang mengebor dan sampai di kedalaman sekitar 2,5 meter, mata bor membentur benda keras. Karena tidak bisa ditembus, kemudian berpindah ke titik lainnya, yang berjarak 50 cm.

Pada kedalaman yang sama (2,5 meter), mata bor membentur benda keras lagi. Kedalaman yang sama itu diukur dengan kedalaman bor yang dimasukkan dalam lobang pengeboran.

Kemudian Bapak bertanya,

  • “ada benda apa di dalam sana?”

Pertanyaan bapak ini terkait dengan mata bor yang sengaja dibenturkan dan menyebabkan mata bor bengkok.

Cik atose (Kok keras sekali”

Kemudian Bapak mencari titik yang berbeda yang berjarak sekitar 1 meter. Di sana terbebas dari benturan keras di kedalaman yang sama. Tanahnya cukup gembur.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “benda apa itu kok keras dan datar?”

 

Masuknya Bangsa Asing

Peta VOC 1677 M. Foto: ist

Sejak masuknya bangsa asing di akhir abad 16 dan mulainya VOC di awal abad 17, kawasan hilir sungai ini (Śūrabhaya) berkembang lebih maju daripada kawasan yang lebih ke hulu (Bukul).

Akibatnya kawasan hilir menjadi lebih metropolitan di eranya dan meninggalkan jauh peradaban yang lebih ke pedalaman termasuk deça Bukul (Bungkul) dan Wonokromo.

Stasiun Kereta api Wonokromo saja berkonstruksi ala kedaerahan, yang terbuat dari kayu. Tidak seperti Stasiun Gubeng dan Surabaya Kota.

Termasuk konstruksi sungainya lebih alami dengan pinggiran (bibir sungai) yang melandai ke sungai dengan pinggiran dari tanah (alami) . Sementara di kawasan yang lebih ke hilir / kota, tepian sungai sudah berbentuk struktur bangunan modern dari batu bata. Apalagi di kawasan Kota Lama yang diselesaikan dengan bibir terbuat dari batu granit hitam.

Itulah perbandingan pembangunan atau konstruksi sungai yang dibuat oleh tangan manusia (man-made) versus alami (natural).

 

Matrix

Komparasi dalam matrix..Foto: pae

Dari petunjuk itulah: konstruksi tepian sungai dan vegetasi, yang bisa dipakai sebagai petunjuk awal tentang kekunoan kawasan selatan. Maklum selama ini belum ada berita naratif, kecuali berita tutur tentang kawasan Bungkul yang dikaitkan dengan Mbah Supo.

Barangkali pembaca budiman memiliki sumber dan pertunjuk untuk penelusuran ini, sumbangsihnya akan sangat bermanfaat. ( PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *