Budaya, Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Hingga hari ini, belum ada narasi sejarah yang menggambarkan kawasan Bungkul sebagai sebuah desa secara alami. Kecuali prasasti Canggu (1358 M) yang menyatakan adanya sebuah deça Bukul (Bungkul).
Sejarawan Adrian Perkasa mengatakan:
“Tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa dijadikan dasar rekonstruksi sejarah masa hidup Mbah Bungkul, sehingga sumber yang didapat hanya berasal dari tradisi lisan atau legenda,” .
Mbah Bungkul adalah nama lain Ki Ageng Supo yang mendiami kawasan hutan Bukul dan dimakamkan di kawasan itu.
Sementara bukti alami adalah keberadaan vegetasi tebal (hutan) di kawasan itu dan kawasan Kebun Binatang, yang memang dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak berkembangnya Surabaya pada awal abad 20.
Ini karena di Bungkul ada makam tokoh yang dihormati dan di Wonokromo menjadi Taman Flora dan Fauna “Planten en Dierentuin”.
Jejak mempertahankan kawasan itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Kawasannya rimbun, yang seolah seperti sebuah kawasan desa atau hutan kota. Kawasan Bungkul dan Wonokromo adalah kawasan paling selatan dari kawasan elit Darmo (Boven Stad).
Vegetasi adalah benteng terakhir kekunoan Bungkul dan Wonokromo secara alami. Lainnya adalah sisa sisa peradaban seperti kuburan dan ada nya sumur tua di komplek pemakaman Bungkul. Belum ada temuan arkeologi lainnya.
Bagaimanakah Pandangan Sejarawan Adrian Perkasa?

Menurut Adrian Perkasa sebagaimana dikutip dari laman https://unair.ac.id/news/ bahwa Ki Ageng Bungkul sebagai penguasa setempat punya peran istimewa sehingga bisa mendapatkan privilege pada masa kejayaan majapahit,
Pada masa itu, letak geografis Bungkul yang strategis dan dekat dengan aliran sungai memicu berbagai keuntungan. Dari sisi ekonomi, sebelum dibangunnya jalur darat oleh Daendels, sungai merupakan kawasan strategis ekonomi karena menjadi jalur utama aktivitas perdagangan.
“Secara religi, daerah Bungkul sangat strategis dalam persebaran ajaran islam, hal itu bisa dilihat dari keberadaan legenda yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Supo sebagai mertua Sunan Giri, serta di komplek makam Bungkul ada makam Tumenggung, Adipati dan Demang,” jelasnya.
Adrian menambahkan bahwa mempelajari sejarah merupakan hal yang penting.
“Dengan mempelajari islamisasi yang terjadi di masa lalu, insyaallah kita bisa mengambil hikmah agar terhindar dari anakronisme sejarah,” tuturnya.
Islam tidak datang begitu saja secara masif dan mengganti seluruh agama di Indonesia, tetapi melalui proses panjang yang dilakukan sejak zaman kerajaan Majapahit.
“Betapa sentral walisongo dan ajarannya menyebarkan islam sehingga bisa menjadi agama yang dominan hingga hari ini,” jelas Adrian Perkasa sebagaimana dikutip dari laman https://unair.ac.id/news. (PAR/nng).
