Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Saya lahir di kampung Pengampon XII Surabaya lebih dari setengah abad yang lalu. Pada tahun 1979 masih duduk di Sekolah Dasar (SD). Ketika itu Bapak saya (almarhum) membuat sumur bor.
Ketika sedang mengebor di kedalaman sekitar 2,5 meter, mata bor membentur benda keras yang tidak bisa ditembus. Pengeboran gagal. Karena tidak bisa ditembus, kemudian berpindah ke titik pengeboran lainnya, yang berjarak 50 cm. Saya melihatnya sendiri titik titik pengeboran itu karena saya ikut membantu.
Pada kedalaman yang sama (2,5 meter) pada titik yang berbeda, mata bor membentur benda keras lagi. Kemudian Bapak bertanya, “ada benda apa di dalam sana?” Pertanyaan bapak ini terkait dengan mata bor yang sengaja dibenturkan ke bawah dan menyebabkan mata bor bengkok. “Cik atose (Kok keras sekali)”.
Namun tidak ada bekas materialan yang menempel pada ujung mata bor. Kecuali ujung mata bor bengkok. Diduga benda itu semacam benda datar dan keras. Bisa jadi itu adalah batu alam (watu item/andesit) yang cukup padat dan keras.
Kemudian Bapak mencari titik yang berbeda yang berjarak sekitar 1 meter. Di sana terbebas dari benturan keras di kedalaman yang sama (2,5 meter). Tanahnya cukup gembur.

Kalau melihat peta hasil hipotesis GH von Faber dalam buku “Eer Werd Een Stad Geboren”, digambarkan ada sebuah dermaga yang berbentuk kotak persegi dengan permukaan datar mengingatkan seperti kolam Segaran di Trowulan. Kolam itu adalah infrastruktur dari Śūrabhaya 1275 M.
Kalimeer
Secara faktual pada area gambar petak dermaga itu ada kampung kampung yang bernama Semut Kalimeer, Pengampon Kalimeer dan Kalianyar Kalimeer.
Secara harfiah, istilah/kata Kalimeer ini berasal dari gabungan dua kata: Kali (Bahasa Jawa) yang berarti sungai, dan Meer (Bahasa Belanda) yang berarti danau, air, atau genangan air, yang luas. Bisa jadi genangan air luas ini adalah kolam atau dermaga seperti yang digambarkan oleh HG Van Faber dalam bukunya “Eer Werd Een Stad Geboren”.

Dalam bahasa Belanda, kata meer memiliki arti “danau“.
Jika mengamati gambar hipotesa GH von Faber lebih lanjut, bidang petak kolam dermaga dengan permukaan datar itu bersinggungan dengan Semut, Pengampon dan Kalianyar serta Pandean. Cuma kampung Pandean di kawasan itu telah hilang dari peta Surabaya sekarang. Nama Pandean tidak lagi di kawasan itu tetapi ada di kawasan Peneleh seperti di Pandean I sampai IV.



Kampung Semut, Pengampon dan Kalianyar itulah yang kini dikenal dengan nama Semut Kalimeer, Pengampon Kalimeer dan Kalianyar Kalimeer, yang dulunya diduga sebagai pusat Surabaya 1275.


Jika dihubungkan antara permukaan keras, yang menjadi benturan pada proses pembuatan sumur bor (1979) dan peta hipotesis GH von Faber sebagai sebuah dermaga Śūrabhaya (1275), bisa diduga benda keras di kedalaman 2,5 meter itu adalah sebuah struktur. Entah struktur apa? Yang jelas, di atas dugaan struktur itu sekarang telah menjadi jalan baru, yang bernama jalan Semut. (PAR/nng)
