Sudahkan Kita Menghargai Budaya dan Warisan Budaya Sendiri?

Budaya

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Tepe Wijoyo, pegiat sejarah dan budaya Surabaya, pernah mengatakan berdasarkan sumber yang ia peroleh bahwa janganlah mengganggu satu kawasan di Ampel Denta ketika ada penyerbuan VOC ke Surabaya pada 1677.

Kedatangan VOC ke Surabaya pada 1677. Foto: ist

Juga ada seorang kawan dari Belanda Michiel Eduard Donkersloot yang pernah mengatakan agar tidak naik atau berjalan di atas makam di Pemakaman Eropa Peneleh. Termasuk aktivis cagar Budaya dari komunitas TiMe Amsterdam, Max Meijer, agar tidak mengekspos kerangka dari kuburan di Peneleh (2024).

Penulis (kanan) bersama Michiel Eduard Donkersloot (dua dari kanan) di Fak F. Foto: par

Pesan dari Michiel Eduard Donkersloot dan Max Meijer mengenai Makam Peneleh Surabaya ini menegaskan pentingnya menjaga kesakralan dan nilai cagar budaya makam tersebut.

Sama juga sebagaimana pesan pejabat VOC, Speelman, (1677) saat menyerang Trunojoyo di Surabaya pada 1677.

Hal itu terulang lagi pada awal abad 20 ketika ada pemekaran Surabaya dari Kota Lama (Benedenstad) ke arah selatan menjadi Kota Baru (Boven Stad).

 

Menghormati Tradisi Lokal

Keluarga ahli waris Donkersloot ziarah makam Foto: nng

Sikap menghormati budaya dan kepercayaan lokal itu seperti halnya mereka menghargai tradisi tulis lokal, yang menggunakan aksara daerah. Termasuk masih adanya benda benda budaya, yang masih disimpan di mancanegara (Belanda dan Inggris). Mengapa mereka masih menyimpannya? Karena mereka menghargai benda benda budaya itu.

Negara seperti Belanda dan Inggris menyimpan benda budaya Indonesia karena mereka mengakui nilai sejarahnya yang tinggi, sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi. Walaupun begitu, melalui diplomasi budaya, sudah banyak artefak yang kini direpatriasi (dikembalikan) ke Indonesia untuk memulihkan keadilan sejarah dan memperkuat identitas nasional kita.

Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita sebagai warga negara, sudahkan kita menghargai budaya dan warisan budaya sendiri?

Sebuah aturan, yang didesain untuk menjaga warisan budaya sendiri saja, masih setengah mati sulitnya. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *