Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Memperkenalkan budaya daerah (Nusantara) tidak bisa sendirian. Upaya ini harus dilakukan dengan berjejaring alias kolaborasi. Pengalaman sudah mengajarkan demikian.
Kini pengalaman itu harus diulang untuk kesekian kalinya demi memperkenalkan budaya lokal ke lingkup lebih luas agar tidak seperti Katak Dalam Tempurung.
Arti peribahasa “seperti katak dalam tempurung” adalah menggambarkan seseorang yang memiliki wawasan, pengetahuan, atau pandangan yang sangat sempit dan terbatas. Orang dengan sifat ini diibaratkan seperti katak yang hidup di bawah tempurung kelapa, ia mengira dunia ini hanya sebesar ruang di dalam tempurung tersebut dan tidak tahu betapa luasnya dunia di luar sana.
Itulah yang disadari oleh Puri Aksara Rajapatni bersama mitra mitra yang relevan. Salah satu mitra Puri Aksara Rajapatni adalah lembaga pendidikan luar sekolah Belanda Erasmus, yang segera mempersiapkan Dutch Week.
Dutch Week
“Dutch Week” ini merujuk pada beberapa acara yang berbeda, tergantung pada konteksnya, terutamanya adalah Dutch Design Week, sebuah festival desain tahunan, atau perayaan budaya yang diselenggarakan secara internasional, termasuk di Indonesia.

Makna utama “Dutch Week” meliputi Dutch Design Week (DDW), yaitu acara desain terbesar di Eropa Utara yang diadakan setiap tahun di Eindhoven, Belanda (acara ini berlangsung dari 17 hingga 25 Oktober 2026, menampilkan karya dari lebih dari 2.500 desainer di lebih dari 100 lokasi).
Dutch Week juga masuk dalam konteks festival budaya, yaitu festival komunitas tahunan yang merayakan warisan, kuliner, bahasa, dan budaya Belanda di luar negeri (seperti acara yang diadakan di Surabaya oleh Erasmus Training Centre.
Keterkaitan dengan Warisan Bahasa dan Budaya inilah, Erasmus Surabaya akan menyelenggarakan Onlinetaalfest: Taal in Beweging in Azie.Week Van Het Netherland. (Festival Bahasa Daring: Bahasa yang Bergerak di Asia – Pekan Bahasa Belanda).
Bulan Bahasa dan Sastra
Perayaan ini sangat pas dengan Bulan Bahasa dan Sastra di Bulan Oktober. Karenanya melalui Puri Aksara Rajapatni bersama mencari ide untuk memperkenalkan bahasa Jawa dalam jaringan acara tersebut. Yang dipilih adalah seni pedalangan karena budaya pedalangan ini menekankan pada penggunaan bahasa daerah Jawa yang tentu saja disertai dengan iringan musik gamelan dan kostum budaya Jawa. Meski diselenggarakan secara daring, tapi media yang digunakan bisa menampilkan visual dan audio. Melalui Onlinetaalfest, akan jadi media belajar.
Acara ini akan digelar pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 14.30 WIB atau 09.30 waktu Belanda. Menurut Ana Maria Van Valen dari Erasmus Training Centre Surabaya atau NINA Surabaya akan menampilkan Seni pedalangan Wayang Kulit yang diperagakan oleh dalang muda bertalenta Raflie Handono, S.Ars putra budayawan Surabaya yang dikenal dengan Cak Ries Handono.
Dalam acara ini ada kombinasi dua bahasa dan bahkan tiga. Yaitu Belanda, Indonesia serta Jawa melalui seni pedalangan. Tidak cuma bahasa Jawa, Tetapi ada pula perangkat seni yang menyertai yaitu busana, jejeran wayang kulit serta tarian. Dutch Week menjadi ajang kultural lintas budaya dan negara. (PAR/nng)
