Sudahkah Cultural-Based Development ini diterapkan di negeri Culturally Based Megadiversity ini?.

Budaya, Aksara

Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Lomba Menulis Aksara Jawa di Surabaya dalam rangka bulan bahasa dan sastra dibuat berdasarkan data. Adapun data itu adalah fakta sejarah dan budaya yang pernah ada di Surabaya. Data itu adalah prasasti dan inskripsi yang ada dan bisa didapat secara faktual di Surabaya dan di luar Surabaya sebagai pengayaan dan pengembangan latar belakang sejarah dan budaya Nusantara.

Data faktualnya adalah prasasti yang secara historis masih ada secara insitu di Surabaya. Yaitu Prasasti tembaga di Masjid Kemayoran Surabaya (1848), Prasasti Canggu (1358), Prasasti beraksara Jawa di komplek pemakaman para Bupati Surabaya di Boto putih Pegirian Surabaya dan Inskripsi pada Gapura Sunan Ampel Surabaya.

Secara sastrawi yang terkait dalam bulan Bahasa dan sastra adalah Serat Wulangreh pupuh Dandanggula dan Pangkur oleh pujangga Sri Susuhunan Pakubuwono IV. Pupuh Pupuh ini mengajarkan berbahasa (bertutur kata) yang baik.

Dari data historis dan kultural yang ada, maka kiranya cukup untuk menggelar lomba Menulis Aksara Jawa di Surabaya yang bertujuan untuk melestarikan warisan budaya lokal, memperkuat identitas sejarah Arek, dan meningkatkan literasi generasi muda terhadap aksara daerah.

Prasasti dan inskripsi itu adalah sebagian dari apa yang dapat dikumpulkan komunitas Puri Aksara Rajapatni. Berikut data dan statistik yang dikumpulkan Puri Aksara Rajapatni.

Berdasarkan dat Aini Lomba Menulis Aksara Jawa dibuat. Foto par

Itulah pentingnya data sebagai latar belakang pelaksanaan Lomba Menulis Aksara Jawa di Surabaya.

Secara umum data statistik digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan, perencanaan, dan evaluasi berdasarkan fakta angka yang akurat.

Suatu perencanaan pembangunan, misalnya oleh Pemerintah, umumnya menggunakan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai acuan dalam membuat kebijakan publik dan program kerja.

Tentunya data statistik itu digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Termasuk dalam membantu pebisnis atau pemimpin organisasi melihat peluang pasar, mengukur kinerja, dan menentukan strategi.

Dalam skala kecil adalah perhelatan lomba yang diharapkan bisa berdampak besar. Yakni dari Surabaya, Jawa Timur untuk bangsa.

Pentingnya data dan statistik ini diperingati sebagai Hari Statistik Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 26 September di Indonesia.

Adapun sejarah singkatnya adalah bahwa tanggal 26 September dipilih karena merujuk pada diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1960 tentang Statistik pada tanggal 26 September 1960.

Tanggal tersebut kemudian ditetapkan secara resmi sebagai Hari Statistik Nasional sejak tahun 1996.

Lantas ada lembaga terkait di Indonesia yang bermula dari Kantor Penyelidikan Perangkaan Umum Republik Indonesia (KAPPURI) pada tahun 1945, yang kini dikenal sebagai Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.

Tujuan peringatan adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran statistik serta mendorong budaya sadar data dan pemanfaatan data yang akurat untuk perencanaan pembangunan.

Pelaksanaan Lomba Menulis Aksara Jawa bisa menjadi perumpamaan pembangunan berskala besar di negeri ini. Misalnya pembangunan yang berkonsep kebudayaan (Cultural Based Development).

Cultural-Based Development (Pembangunan Berbasis Budaya) adalah pendekatan pembangunan, yang menjadikan nilai, tradisi, identitas, dan ekspresi budaya lokal sebagai landasan utama dalam merencanakan serta melaksanakan pertumbuhan ekonomi, sosial, dan wilayah.

Misalnya pemanfaatan potensi lokal: Mengintegrasikan unsur seni, ritual, sejarah, dan tradisi masyarakat setempat ke dalam program pembangunan.

Paradigma ekonomi. Memandang budaya bukan sekadar pelengkap, melainkan modal sosial dan ekonomi (seperti pariwisata budaya atau industri kreatif) yang mempengaruhi pilihan serta kesejahteraan masyarakat.

Negeri yang megadiversity sudahkah dimanfaatkan secara maksimal? Foto: ist

Keberlanjutan: Menjaga keaslian dan kelestarian warisan budaya agar tetap hidup seiring berjalannya proses modernisasi.

Sudahkah Cultural-Based Development ini diterapkan di negeri yang kaya culturally Based Megadiversity ini?. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *