Sejarah
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Akhirnya Monumen TRIP di jalan Gunungsari Surabaya diresmikan pada Sabtu, 26 September 2026. Monumen ini tidak hanya mengenang jasa pahlawan TRIP pada perang Surabaya 1945 ketika pejuang pejuang mundur dari kota Surabaya. Monumen ini sekaligus mengenang jasa inisiator dan pembuat (seniman) patung.
Mereka adalah Gunafi (pematung), Enny Wardhani (penggagas dan sekaligus putri Pahlawan Mastrip) dan Marbai (Pejuang Mastrip, Narasumber). Mereka sudah berpulang tanpa bisa menyaksikan peresmiannya pada Sabtu (26/9/26)..
Gagasan
Sebelum ada gagasan pembuatan Monumen, kala itu tahun 2018, bermula dari isu rencana perubahan nama jalan Gunungsari menjadi Jalan Prabu Siliwangi atas kesepakatan tiga Gubernur: Jawa Timur, DIY dan Jawa Barat.
Karena jalan Gunungsari memiliki sejarah lokal Surabaya, yaitu tempat terjadinya clash pejuang Surabaya yang mundur dari kota oleh desakan Sekutu, sebagaimana banyak dinarasikan dalam catatan sejarah perjuangan, maka perubahan nama jalan ini ditolak oleh sejumlah pegiat sejarah Surabaya. Salah satu pihak penolak itu adalah Keluarga Mastrip Surabaya (Jatim). Lainnya adalah sekelompok pegiat sejarah termasuk ada unsur media.
Dari pihak Media inilah, yang terus mengikuti perkembangan perjalanan hingga munculnya gagasan pembangunan Monumen dan pembangunan monumen.
Mula Mula Perubahan Nama Jalan
Bermula dari rencana perubahan nama jalan (dari Gunungsari ke Prabu Siliwangi), maka almarhumah Enny Wardhani dan seorang jurnalis dari grup Jawa Pos (JTV), menginisiasi gagasan pembangunan Monumen.
Pembangunan Monumen adalah bentuk tawar menawar dengan perubahan nama jalan. Sampai sampai pihak gabungan Enny Wardhani (Mastrip) dan Pegiat Sejarah (penulis) harus menghadap Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang kala situ sempat diliput oleh wartawan koran Jawa Pos, Salman.
Dalam pertemuan dengan Gubernur, Pihak penolak mengajak serta almarhum Marbai dan sekaligus bersaksi di hadapan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.
Ringkas cerita bahwa ruas jalan yang bisa dirubah adalah potongan jalan yang tidak berpenduduk dan atas potongan (perubahan potongan jalan itu) dikompensasi dengan pembangunan Monumen Mastrip. Permintaan tawaran itu disetujui.

Ruas jalan yang diganti menjadi jalan Prabu Siliwangi adalah sebatas jalan di depan jembatan Bumi Gunungasi hingga ke barat sebatas di bawah jembatan Layang Tol.
Sementara dari batas jembatan Bumi Gunungasi ke arah Timur hingga Wonokromo tetap bernama Jalan Gunungsari. Mengapa demikian dan kuat sekali mempertahankan nama jalan Gunungsari? Karena Jurnalis grup Jawa Pos, JTV, telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak RT dan RW setempat dan warga akan gagasan perubahan nama jalan tersebut.
Mereka tidak setuju karena menyangkut alamat dan usaha dagang mereka serta administrasi kependudukan. Data itulah yang sempat disampaikan dalam pertemuan dengan gubernur.
Titik Lokasi Monumen Awal

Atas kesepakatan perubahan sebagian ruas jalan dengan pembangunan monumen, lantas dinas terkait, Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Timur, Sinarto, S.Kar., MM (menjabat dari tahun 2018 hingga akhir masa jabatan Soekarwo di awal 2019) dan tim melalñkukan tinjauan lapangan. Di dapatkan rencana pembangunan di lahan di depan Yani Golf. Peletakan batu pertama sempat dilakukan disana (bukan pada titik dekat jembatan Rolak Gunungsari.
Peletakan batu pertama itu dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada 3 Februari 2019 dan dihadiri oleh pematung Gunafi, Pejuang Marbai, salah satu penggagas Enny Wardhani dan jurnalis JTV (penulis) serta tamu undangan lainnya.
Dalam progresnya titik lokasi pembangunan bergeser (berpindah) karena masalah kepemilikan lahan. Maka dicarilah titik yang menjadi penguasaan pemerintah. Yaitu di pulau jalan dekat jembatan Rolak. Titik ini sempat juga ditinjau oleh anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vincentius Awey sambil diikuti oleh jurnalis JTV.
Di titik itulah selanjutnya dibangun monumen. Tenaga pembangun dipercayakan kepada seniman Gunadi yang tinggal di jalan Gunungsari. Proses pembuatan rangka patung sempat juga dikunjungi anggota DPRD Kota Surabaya, A. Hermana Thony (2019-2024) yang juga sempat mengundang Marbai ke kantornya (DPRD Kota Surabaya) untuk diminta kesaksiannya atas peristiwa bersejarah tahun.1945.
Sampai kemudian rangka monumen itu diboyong dan dipasang pada posisi di dekat Rolak Gunungsari. Pembangunan ini berproses selama 2019. Disana ada lima patung pejuang karena sang pematung (Gunapi) bermimpi bahwa yang gugur dalam peristiwa disana ada lima orang kawanan. Untuk menghargai pesan mimpi itu maka dibuatlah miniatur patung yang menggambarkan lima orang, yang salah satunya membawa keris.
Desain patung ini pun juga sudah dikonsultasikan ke bagian terkait di DPU Cipta Karya dan Tata Ruang, yang berkantor di jalan Gayung Kebonsari.
Monumen Mastrip Berganti Menjadi Monumen TRIP.

Monumen ini awalnya bernama Monumen Mastrip, tapi karena ada beberapa pihak di internal Mastrip yang “merasa” tidak dilibatkan dalam proses pembuatan monumen, maka mereka pun tidak menyepakati penggunaan nama Mastrip. Karena itulah maka monumen ini menjadi Monumen TRIP.
Tidak hanya itu, ada pula sejumlah orang yang bahkan “berpendapat” bahwa pihak penggagas “curang” dalam hal pembiayaan pembuatan monumen.
Hembusan “penyelewengan” pun kemana mana sehingga menjadikan nama Mastrip diganti menjadi TRIP. Dari balik itu semua ada seorang jurnalis yang mengikuti proses mulai dari NOL belum terbentuk hingga menjadi angka NOL, hingga NOL pecah menjadi angka SATU hingga seterusnya.
Dalam proses pembangunan pun penggagas almarhumah Enny Wardhani diikuti oleh sang Jurnalis hingga monumen berdiri.
Memang hasilnya kurang proporsional sebagai bentuk anatomi manusia, tapi itulah nilai seni. Monumen atau patung esensinya adalah makna sejarah atau makna di balik monumen.
Dalam dunia seni rupa, terutama seni patung dan monumen publik, estetika tidak selalu harus tunduk pada keakuratan anatomi.
Banyak seniman sengaja mengubah proporsi tubuh (memperpanjang kaki, memperbesar tangan, atau mendistorsi otot) untuk memunculkan kesan heroik, penderitaan, perjuangan, atau keagungan yang tidak bisa dicapai jika hanya meniru tubuh manusia apa adanya.
Sebuah patung merekam emosi dan nilai sejarah pada momen ia dibuat. Esensi utamanya adalah menjadi “pengingat abadi” bagi generasi penerus tentang peristiwa besar, pengorbanan, atau ideologi tertentu.
Peresmian Monumen TRIP

Itulah sosok monumen TRIP di jalan Gunungsari Surabaya, yang akhirnya diresmikan pada Sabtu, 26 September 2026 oleh Ketua Umum Mastrip dari Jakarta, Destry Damayanti.
Peresmian memang sempat tertunda beberapa tahun. Selesai pembangunan tahun 2020 dan Baru secara terbuka diresmikan pada 26 September 2026 ketika tokoh tokoh di balik pembangunan sudah berpulang. Yaitu Veteran Marbai (pejuang veteran), Enny Wardhani (salah satu penggagas) dan Gunapi (pematung).
Peresmian Monumen TRIP Gunungsari ini bagai nyala api yang terus berkobar dan tak pernah padam karena hujan dan angin. Kini Monumen itu melengkapi dan memvisualkan pesan narasi sejarah kepahlawanan Surabaya dan Bangsa.
Monumen TRIP untuk jasa para pahlawan dan penggagas yang sekarang secara resmi melengkapi Kota Pahlawan. (PAR/nng)
