Budaya
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Berdasarkan sumber prasasti Canggu (1358 M), tersebut nama deça Bukul (Bungkul) yang letaknya antara deça Gsang (Pagesangan) dan deça Śūrabhaya (Surabaya), berdasarkan alur Kali Surabaya di Surabaya.
Deça
Sebagai sebuah deça, tentu ada wilayah administratif yang diatur oleh seorang kepala deça. Yang jelas, berdasarkan prasasti Canggu, di Bukul sudah ada jasa penambangan (penyeberangan) sungai yang kemudian dihargai oleh Raja Majapahit Hayam Wuruk.
Sejak diketahui dan dicatat keberadaannya dalam sebuah prasasti pada 7 Juli 1358 M, daerah ini lantas dikenal sebagai tempat penyebaran Islam oleh Ki Ageng Supo (Mbah Bungkul),

Tempat yang awalnya deça, yang lebat dengan pepohonan itu, berubah menjadi pusat penyebaran agama Islam yang dihormati.
Berdasarkan catatan sejarah, Bungkul merupakan kawasan pemukiman kuno, yang berada di tepi sungai (Naditira Pradeça)
Penyebaran Agama

Karena Ki Ageng Supo lah, area ini menjadi pusat penyebaran Islam awal di wilayah Surabaya sezaman dengan di Ampel Denta. Penguasa di Bungkul dikenal dengan Ki Ageng Supo.
Cuma dimanakah area permukiman pada masa itu? Apakah di sekitar komplek pemakaman? Ataukah ketika Ki Ageng Supo wafat, lantas Beliau dimakamkan di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya? Lalu diikuti oleh warga lainnya sehingga area makam berkembang dan semakin luas?
Seberapa luas wilayah deça Bukul kala itu? Jika pusat deça nya di Bungkul, di sekitar komplek makam, seberapa luas wilayah administrasinya? Adakah jejak jejaknya?

Itu semua pertanyaan yang perlu dicari jawabannya.
Era Kolonial

Di abad 16, bangsa Eropa mulai masuk Surabaya dan semakin banyak peradaban pada abad 17. Tetapi area permukiman yang mulai berkembang ada di wilayah Utara, yang kini dikenal sebagai Kota Lama Surabaya.
Berdasarkan peta peta lama abad 18 baru ada dan tergambar kampung di bagian selatan, tepatnya di Keputran dan Pulo Wonokromo.
Boven Stad
Selanjutnya pada awal abad 20, baru ada pemekaran Surabaya dari kawasan di Kota Lama Surabaya ke arah selatan seperti Darmo, Ketabang, Gubeng, Sawahan, dan Kupang yang disebut sebagai Boven Stad. Sejak itulah kawasan Darmo menjadi pemukiman elit Eropa, yang masih menjaga kawasan Bungkul karena ada makam yang dihormati.
Yang jelas nama Bungkul sekarang teridentifikasi berdasarkan nama komplek makam Mbah Bungkul, yang juga dikenal dengan nama Ki Ageng Supo.
Seiring dengan perkembangan zaman di abad 21, kawasan Bungkul masih menyimpan rerimbunan vegetasi dan jejak kubur. Belum diketahui adanya jejak pemukiman yang dulu bernama sebuah desa. (PAR/nng)
