Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Perkumpulan Ibu ibu Pegiat dan pelestari budaya Surabaya akan ikut ambil bagian dalam lomba Menulis Aksara Jawa dalam rangka peringatan bulan Bahasa dan sastra serta Sumpah Pemuda 2026. Mereka adalah pecinta busana kebaya dan sanggul. Tentunya adalah para perempuan dan ibu ibu Nusantara.
Bagi mereka acara ini dianggap menggabungkan tiga pilar budaya sekaligus: pelestarian Aksara Jawa, kampanye busana adat, Kebaya, dan peringatan bersejarah Hari Sumpah Pemuda serta Bulan Bahasa.
Usia bukan masalah, tetapi semangat kebersamaan dalam bersama memayu Hayuning Bawana Jawa adalah penting.
Semangat kebersamaan dalam “Memayu Hayuning Bawana” ini adalah pondasi utama untuk menjaga harmoni, baik di tanah Jawa maupun di dunia secara luas. Filosofi luhur ini mengajarkan bahwa menjaga, mempercantik, dan menyelamatkan dunia adalah tanggung jawab bersama tanpa memandang sekat usia, latar belakang, atau generasi.
Ketika generasi muda membawa inovasi dan energi, sementara generasi tua memberikan kebijaksanaan dan tuntunan, keselarasan hidup (harmoni) akan lebih mudah tercapai.

Itulah pula dengan ajang lomba, yang mempertemukan berbeda segmen usia ini. Lomba ini terbuka untuk usia SMA/SMK, Mahasiswa, Guru, Umum dan Pegiat Budaya Se Jawa Timur. Ini adalah ajang asah, asih dan asuh.
Berbeda usia dalam satu warna budaya. Perbedaan usia tidak menjadi batasan dalam lomba menulis aksara Jawa ini karena peserta dari berbagai generasi dapat membaur dalam satu kategori yang sama.
Kegiatan ini memandang belajar aksara sebagai proses lifelong education yang merangkul kalangan muda hingga tua. Ajang ini sekaligus menjadi sarana perjumpaan untuk mengenalkan warisan leluhur sebagai bagian dari identitas masa kini dan masa depan bangsa.
Acara Lomba, yang digelar dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda nanti, adalah ajang berbusana daerah sambil secara aktif dan empiris mengguratkan aksara Jawa. Ini sangat menarik, karena sarat makna, dan kreatif untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Acara ini mencoba memadukan dua simbol identitas budaya yang sangat kuat: ekspresi visual lewat pakaian adat dan pelestarian literasi leluhur lewat goresan aksara. Kata “empiris” di sini juga menegaskan bahwa peserta tidak hanya tampil secara estetik, tetapi benar-benar mengalami langsung proses merajut kembali tradisi yang mulai langka.
Anda mau ambil bagian? (PAR/nng)
