Selamat Hari Warisan Budaya Dunia 2026.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Hari ini, Sabtu (18/4/26) adalah Hari Warisan Budaya Dunia (World Heritage Day), atau Hari Internasional untuk Monumen dan Situs. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan situs warisan budaya. Peringatan ini diinisiasi oleh UNESCO dan ICOMOS (International Council of Monument and Sites). Momen ini menyoroti keragaman dan kerentanan warisan budaya.

Khususnya di Surabaya ada banyak keragaman warisan dan sekaligus kerentanannya. Kerentanan itu meliputi beberapa aspek utama, yang berakar dari pesatnya pembangunan kota dan perubahan sosial.

 

Alih Fungsi dan Kerusakan Bangunan Bersejarah.

Bangunan cagar budaya bersejarah rata dengan tanah dan telah berdiri bangunan rumah baru. Foto: ist

Banyak cagar budaya, terutama bangunan kolonial dan tradisional di kawasan Kota Lama, terancam oleh alih fungsi menjadi bangunan modern, perkantoran, atau komersial, serta kerusakan fisik karena faktor usia dan kurangnya perawatan.

Rusaknya fisik cagar budaya ini tidak hanya menghilangkan jejak fisik, tetapi juga menghilangkan nilai sejarah dan identitasnya. Itu contoh yang tampak sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan (tangible). Apalagi yang tidak tampak (intangible). Salah satunya adalah aksara sebagai bentuk tulis dari bahasa daerah.

Belum lagi tradisi lokal lainnya seperti Larung Ari-Ari, Sedekah Bumi, dan Temu Manten Pegon yang mulai jarang dipraktekkan dan prosesi manten Jawa yang mengalami penyederhanaan makna. Misalnya acara Temanten yang dalam prosesnya pernah terdapat tradisi jual beli menggunakan kreweng sebagai alat tukar. Dalam adat Jawa kekinian, penggunaan kreweng yang dikenal dengan nama Dodol Dawet ini (Jualan Dawet) jarang dipraktekkan. Sementara di negara Suriname, warga etnis Jawanya masih menggunakan tradisi ini.

Kreweng (pecahan genting), yang telah dimodifikasi berupa koin Terakota. Foto: ist

Karena peringatan Hari Warisan Budaya Dunia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dalam upaya pelestarian dan pemajuan warisan budaya, maka perlu dikenali objek apakah yang perlu mendapat perhatian di sekitar kita. Surabaya adalah lingkup lokal dari masyarakat dunia yang global, maka Surabaya pun bisa berpartisipasi dalam peringatan Internasional yang berfokus pada lokalitas.

Surabaya memang harus berupaya secara aktif memposisikan diri sebagai kota metropolitan, yang menghubungkan kearifan lokal dengan jaringan global, yang ditandai dengan partisipasi dalam berbagai peringatan internasional yang berfokus pada lokalitas. Pendekatan ini menunjukkan komodifikasi budaya lokal dan lingkungan untuk pengakuan dunia. Misalnya turut dalam peringatan itu sendiri.

Selamat Hari Warisan Budaya Dunia (World Heritage Day) 2026. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *