Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Aroma Hari Kartini sudah semerbak. Menyeruak di antara bayang bayang belantara gedung berotot baja. Sosok perempuan berotot kawat tulang besi. Bisa jadi ia salah satu dari “reinkarnasi” Kartini. Ia perempuan Bali. Namanya Gusti Ayu Soli.
Gusti Ayu Soli, atau yang akrab dipanggil Niang Soli (106 tahun), adalah penari Legong legendaris asal Desa Saba, Gianyar, Bali. Ia dikenal sebagai satu penari Legong tertua yang masih hidup dan tetap lincah menari meski berusia lebih dari satu abad. Niang Soli adalah the living legend sebagai simbol dedikasi budaya Bali.

Sebagai seorang penari, Niang Soli tidak hanya energik secara motorik, tapi juga cerdik dalam hal ingatan terhadap urutan gerak gerik tari yang cenderung cepat. Ia dikenal memiliki ketahanan fisik dan daya ingat luar biasa di usianya yang telah melampaui satu abad. Ia bagai sosok yang berotot kawat bertulang besi
Tari Legong dikenal sebagai salah satu tarian klasik Bali, yang memiliki ciri khas gerakan yang dinamis dan terikat erat dengan irama gamelan pengiringnya. Namun demikian Tari Legong masih menekankan pada keluwesan, kelenturan, dan kecepatan gerakan tubuh, yang seringkali dikombinasikan dengan gerakan mata yang hidup.
Meskipun memiliki momen yang anggun, tarian ini sering kali menampilkan tempo yang cepat, energik, dan pukulan instrumen gamelan yang serempak (ngebyar).
Gerakannya kompleks dan terikat dengan struktur tabuh pengiring, menuntut penguasaan wiraga (raga), wirama (irama), dan wirasa (rasa) yang tinggi dari penarinya.
Itu semua masih bisa ditampilkan oleh Niang Soli di usianya yang lebih dari satu abad (100 tahun). Bahkan ia masih sanggup tampil di panggung Roadshow Kebudayaan 2025 yang berlangsung di Living World Denpasar pada Sabtu 6 Desember 2025.
Hidup Niang Soli bak penuh tradisi tari Bali. Perjalanan seni Niang Soli dimulai sejak ia masih berusia lima tahun. Sejak kecil, dunia tari sudah menyatu dalam kesehariannya. Ia tumbuh bersama irama gamelan dan gerak tradisi yang diwariskan turun-temurun. Namun, saat memasuki usia remaja dan menikah, ia sempat berhenti menari untuk fokus menjalani kehidupan rumah tangga.
Dikutip dari sightseeingbali.id bahwa setelah memiliki anak, kecintaannya pada seni tari kembali menariknya ke panggung. Dalam penuturannya sebelum pentas, ia menjelaskan bahwa dorongan untuk menari tidak pernah benar-benar hilang. Ia kembali berlatih dan tampil dalam berbagai kegiatan di desanya.
Di usia senja ini, Niang Soli, maestro penari Legong, masih bernaung dan aktif menari di Sanggar Seni Saba Sari yang berlokasi di Desa Saba, Gianyar, Bali.

Niang Soli pada suatu hari juga masih menyempatkan menemui Ita Surojoyo, pendiri komunitas aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni, yang kebetulan datang ke Bali menyaksikan ritual Nyepi beberapa Minggu lalu. Menurut Ita, Niang Soli di usia lanjut masih cekatan dan antusias menceritakan pengalaman hidupnya dalam tari.
Wajah ceria dan bersinar memancar dari rautan wajahnya. Bahkan Soli masih mampu bercerita kepada Ita yang seusia cucu cucunya. Soli dikaruniai enam orang anak ( 3 orang sudah meninggal) dan cicit sebanyak 25 orang, sebagaimana dikutip dari baliexpress.jawapos.com.
Sambil duduk lesehan di bale yang berarsitektur khas Bali, Ita juga mengamati foto foto koleksi Soli ketika menari. Bagi Ita, Soli adalah pelestari tradisi tari Bali yang patut menjadi patrun. Adalah semangat dan dedikasinya dalam melestarikan budaya. Ita Surojoyo sendiri adalah pelestari budaya Aksara Jawa yang bernaung di bawah komunitas aksara Jawa Surabaya, Puri Aksara Rajapatni.
Adalah kesempatan yang beruntung bagi Ita Surojoyo dapat bertemu Niang Soli secara pribadi di kediamannya. Sebuah oleh oleh berupa pengalaman yang dibawa pulang ke Surabaya. (PAR/nng).
