Pecahan Mata Uang Dengan Empat Aksara.

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Pecahan mata uang, yang pernah beredar di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), menggunakan 4 aksara dan 4 bahasa. Empat aksara itu adalah Jawa, Arab, China dan Latin. Sedangkan Empat bahasa itu adalah Jawa, China, Melayu dan Belanda.

Bicara tentang mata uang Gulden, pihak Kolonial Belanda, pada uang-uang kertasnya yang terutama diedarkan di teritori Hindia Belanda sejak medio abad XIX atau tahun 1800-an, ada bagian yang tampak dihiasi beberapa larik tulisan dalam empat aksara dan sekaligus empat bahasa.

Pecahan uang kertas Gulden dengan empat aksara. Foto: ist

Itu tepatnya berupa aksara Latin untuk menuliskan keterangan berbahasa Belanda, aksara Jawa untuk menuliskan keterangan berbahasa Jawa, aksara Pegon untuk menuliskan keterangan berbahasa Melayu, juga aksara China untuk menuliskan keterangan dalam salah satu bahasa dialek China.

Menurut laman ullensentalu keterangannya sendiri secara umum bicara soal larangan berikut ancaman pidana terhadap praktik pemalsuan uang, pengedaran, maupun penyimpanannya. Hal demikian ini contohnya dapat ditemukan di lembaran-lembaran uang kertas Gulden keluaran De Javasche Bank pada akhir abad XIX hingga pertengahan abad XX.

 

Setidaknya dari 1895

Koin keluaran di masa Inggris dengan tulisan Surapringga (Surabaya). Foto: ist

Dalam hal ini, Lintasan Masa Numismatika Nusantara Koleksi Museum Bank Indonesia, yakni katalog yang diterbitkan Museum Bank Indonesia pada 2015 sebagai hasil kurasi dari fotografer senior Oscar Motuloh, sangat membantu mengenali tenggara penting dari uang-uang kertas Gulden Hindia Belanda tersebut.

Menurut Ullensentalu, bahwa dalam katalog 516 halaman itu, keberadaan cetakan empat aksara dan empat bahasa pertama-tama ditunjukkan dari isi halaman 61-68. Itu meliputi pecahan 5 Gulden keluaran 1895, 10 Gulden keluaran 1900, 25 Gulden keluaran 1895, dan 50 Gulden keluaran 1911.

 

Penggunaan aksara Jawa untuk masyarakat Jawa. Foto: ist

Empat pecahan uang kertas Gulden ini digolongkan dalam kelompok sebagai kelompok uang kertas Gulden seri bingkai yang dicatat beredar pada kurun 1870-1922.

Masih dari kurun tadi, ada pula seri uang kertas Coen – Mercurius, yang menampilkan larangan dan ancaman pidana terhadap pemalsuan dalam empat aksara serta empat bahasa. Disebut seri Coen dan Mercurius karena memang menampilkan potret Gubernur Jenderal JP Coen dan gambar sosok Dewa Mercurius.

Keterangan empat aksara dan empat bahasa dalam uang kertas seri Coen – Mercurius diwakili oleh pecahan 100 Gulden keluaran 1913 dan pecahan 5 Gulden keluaran 1920.

Praktik mencetak dan mengedarkan uang kertas berisikan keterangan dalam beberapa aksara serta beberapa bahasa sekaligus dipertahankan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda hingga pecahnya Perang Dunia II, yang berakibat jatuhnya Hindia Belanda kepada Jepang. Itu juga masih diteruskan lagi pada sepanjang Perang Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-1949.

Berikut ini adalah contoh selanjutnya dari pecahan-pecahan uang kertas Gulden berikut serinya yang dimuat dalam katalog Lintasan Masa Numismatika Nusantara Koleksi Museum Bank Indonesia, dengan menampilkan pencantuman larangan dan ancaman pidana terhadap pemalsuan dalam empat aksara serta empat bahasa.

Ada pecahan 40 Gulden seri Gedung De Javasche Bank keluaran 1921. Lalu, ada pecahan 5 Gulden keluaran 1930, 10 Gulden keluaran 1926, 25 Gulden keluaran 1930, 50 Gulden keluaran 1926, 100 Gulden keluaran 1939, juga 200 Gulden keluaran 1925 dari seri JP Coen II.

Pecahan gambar JP Coen. Foto: ist

Kemudian, ada pecahan 5 Gulden, 10 Gulden, 25 Gulden, 50 Gulden, 100 Gulden, 200 Gulden, 500 Gulden, juga 1000 Gulden dari seri Wayang Wong keluaran 1938. Masih ada pula pecahan 5 Gulden, 10 Gulden, 25 Gulden, 100 Gulden, serta 1000 Gulden dari seri Federal I keluaran 1946. (PAR/nng)

 

Pustaka:

Thttps://www.bi.go.id/id/layanan/museum-bi/koleksi-museum/default.aspx

https://www.bi.go.id/id/layanan/museum-bi/koleksi-museum/default.aspx

https://www.ullensentalu.com/kajian/kisah-empat-aksara-dan-empat-bahasa-pada-lembaran-uang-era-kolonial-belanda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *