Barter Sebagai Model Transaksi 

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Di era modern ini, kita mengenal mall dan pusat pusat perbelanjaan. Di dalamnya dilengkapi AC, yang menyejukkan. Meski tidak belanja, ada juga pengunjung mall yang memanjakan diri menikmati hawa sejuk dan kulineran.

Suasana zaman modern ini berbeda jauh dari zaman tradisional, yang sangat tradisional. Suasana zaman modern saat ini memang memiliki perbedaan, yang sangat kontras dibandingkan dengan zaman tradisional dulu. Perubahan dari pola tradisional ke modern ini terjadi secara menyeluruh, yang mencakup teknologi, organisasi sosial, pola pikir, hingga gaya hidup. Sekarang, jangan berfikir, yang tradisional di wilayah rural itu, tidak punya HP sebagai alat komunikasi. Atau tidak punya mesin cuci. Perangkat elektronik antara di desa (rural) dan di kota (urban) kini relatif sama.

Berbeda dengan dahulu kala. Perbedaan perangkat rumah tangga dan fashion jelas berbeda antara desa dan kota. Tapi sekarang tidak. Apalagi di bidang teknologi komunikasi, jembatan digital semakin menipiskan batasan antara desa dan kota.

 

Perbedaan Secara Historis

Namun ada perbedaan yang mencolok jika dilacak secara historis. Dalam aktivitas transaksional misalnya di pasar, pasar zaman dulu kelihatan sekali tradisionalnya.

Aktivitas transaksi di pasar tradisional tempo dulu memiliki karakteristik yang sangat khas dan mencolok dibandingkan dengan pasar modern saat ini. Pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual-beli, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial, kebudayaan, dan budaya barter.

Suasana pasar tradisional. Foto: ist

Situasi pasar di zaman Majapahit misalnya, terlihat sangat aktif, tersebar di berbagai penjuru, mulai dari pinggir jalan hingga dekat pelabuhan sungai seperti Bubat. Sistem perdagangan menggunakan barter hasil bumi (terutama beras) dan mata uang, dengan komoditas unggulan meliputi rempah-rempah, keramik, intan, kain dan hasil pertanian.

Ekonomi Majapahit, yang maju didorong oleh dua pilar: agraris dan maritim. Perekonomian inilah di abad ke -13 hingga ke-16 bertumpu pada keseimbangan dua sektor utama: agraris (pertanian) dan maritim (perdagangan laut).

Kombinasi ini, yang menjadikan Majapahit sebagai salah satu kerajaan terbesar dan paling makmur di Nusantara.

Pasar pasar tersebar di berbagai penjuru, sering ditemukan di tepi jalan atau persimpangan jalan. Pusat-pusat perdagangan juga berkembang di pesisir dan sungai penting seperti Bubat, yang menjadi pusat perdagangan di pedalaman.

Kita mengenal Naditira Pradesa (desa di tepian sungai), seperti Śūrabhaya, yang selanjutnya dikenal dan dikenang karena jasa penyeberangan (tambangannya) sehingga nama Śūrabhaya dicatat oleh Raja Hayam Wuruk dalam prasasti Canggu (7 Juli 1358 M).

 

Tambangan

Jasa Tambangan (anambangi) ini memungkinkan terjadinya koneksi perdagangan, perekonomian, keagamaan, kebudayaan dan sosial. Tumpuan keramaian secara massal terjadi di pasar pasar. Hingga sekarang di desa desa dekat pinggiran sungai di beberapa tempat di Kabupaten Gresik, yang dikenal dengan Naditira pradesa sebagaimana tersebut dalam prasasti Canggu, hingga sekarang masih terdapat pasar pasar. Pun demikian dengan pasar pasar di Surabaya, yang berlokasi dekat Sungai seperti Pasar Keputran, Pasar Genteng hingga Pasar Peneleh.

Suasana pasar tradisional dengan sistem barter. Foto: ist

Memang barter adalah model transaksi kuno, yang pernah ada di Nusantara. Barter memang sangat penting dalam sejarah ekonomi di Nusantara sebelum mengenal alat tukar uang. Sistem ini didasarkan pada pertukaran langsung barang dengan barang (atau jasa) yang disepakati oleh kedua pihak.

Sistem barter di Nusantara ini diperkirakan sudah ada sejak masa prasejarah, bahkan dalam catatan lain disebutkan dimulai sekitar 6000 SM, yang diadopsi dari peradaban lain.

Dalam perdagangan kuno Nusantara, barang yang sering dipertukarkan meliputi hasil bumi, hasil laut, hingga garam dan kerang.

Karena kesulitan dalam menemukan kebutuhan yang sama dan kesulitan menentukan nilai tukar, yang setara, akhirnya mendorong peralihan ke sistem uang dan akhirnya berganti ke mata uang, terutama di daerah pesisir yang aktif secara perdagangan internasional.

Barter di Nusantara menunjukkan ketahanan budaya dalam pertukaran ekonomi yang didasarkan pada gotong royong dan kepercayaan.

Kembali ke masa Majapahit, masyarakat Majapahit menggunakan sistem barter untuk bertransaksi, menukarkan hasil bumi (terutama beras) dengan komoditas lain seperti keramik dan rempah-rempah.

Selain itu komoditas lainnya yaitu dari hasil pertanian seperti, sayuran dan palawija) serta barang ekspor seperti lada, cengkeh, pala, kayu cendana, besi, intan.

Tidak ketinggalan Pasar Majapahit juga menjual berbagai kuliner khas seperti wajik, dodol, lepet, dan agar-agar, yang menunjukkan budaya makanan yang maju. (PAR/nng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *