Budaya, Akaara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Komunitas budaya Puri Aksara Rajaptni Surabaya menitih dan menatah peradaban modern dengan menggendong peradaban lama. Yaitu literasi tradisional.
Literasi tradisional ini adalah aksara, setidaknya yang pernah ada di Surabaya. Aksara paling kuno, yang ditemukan di Surabaya, adalah Aksara Jawa Kuno atau Aksara Kawi, Aksara Jawa Hanacaraka dan Aksara Jawi atau Pegon.
Kalau mau melacak jejak dari ketiga aksara tradisional itu, keberadaannya masih ada di beberapa tempat di Surabaya. Aksara Jawa Kuno terdapat pada Prasasti Canggu (1358 M) yang sekarang ada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Juga ada Prasasti Wurare yang kini ada di belakang Taman Apsari.
Aksara Jawa Hanacaraka ada pada Prasasti Pendirian Masjid Kemayoran Surabaya. Pun demikian dengan aksara Pegon yang secara faktual ada di makam makam tua di Surabaya seperti di komplek Makam Sunan Ampel, komplek makam para Bupati Surabaya di Bibis serta makam makam tua di Bungkul dan Jalan Tembaan.
Ketika fakta sejarah yang masih ada di Surabaya ini tidak dikenang dan dimajukan, dikhawatirkan jejak jejak itu bisa terlupakan dan hilang karena waktu. Di tengah pesatnya pembangunan Kota Surabaya, jejak-jejak sejarah jika tidak dikelola dengan baik memang bisa berisiko tergerus zaman dan hilang akibat alih fungsi lahan.
Terhadap prasasti pendirian masjid Kemayoran, yang ditulis dalam aksara Jawa misalnya, jika keberadaannya tidak diinformasikan, prasasti penting ini tidak dilirik umat. Sekian juta umat Islam, yang pernah sembahyang di masjid Kemayoran tetapi seberapa banyak yang sempat memperhatikan prasasti yang dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda pada kisaran 1848 itu.

Karenanya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan artefak ini, Takmir Masjid Kemayoran bersama Puri Aksara Rajapatni akan menyelenggarakan lagi lomba menulis aksara Jawa tahun 2026. Acara ini sekaligus upaya mengenalkan prasasti Pendirian Masjid Kemayoran kepada peserta dan publik.
Tidak hanya pengenalan masyarakat kepada Aksara Jawa Hanacaraka, acara ini juga suatu upaya mengenalkan masyarakat, utamanya generasi muda, terhadap Aksara Daerah Kawi yang secara faktual dan otentik merupakan aksara asal ditulisnya nama kota Surabaya dalam aksara Kawi, yang berbunyi Śūrabhaya.
Lomba menulis aksara Jawa tidak hanya mengandung nilai budaya, tetapi juga nila sejarah. Lomba menulis aksara Jawa tidak sekadar melestarikan bentuk tulisan, tetapi juga menjadi gerbang untuk menggali filosofi hidup dan napak tilas peradaban Nusantara. Melalui kegiatan ini, peserta diajak merawat warisan budaya sekaligus membaca ulang sejarah yang tertulis dalam naskah-naskah (prasasti) kuno.
Langkah itu (penyelenggaraan lomba menulis aksara Jawa) sungguh tidak mudah karena butuh konsistensi dan visi yang jelas dan kuat. Tantangan utamanya adalah menjaga relevansi di era digital agar generasi muda tetap tertarik melestarikan budaya. (PAR/nng)
