Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY menegaskan bahwa bahasa dan aksara Jawa bukan sekadar warisan peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting bagi masa depan Yogyakarta.
Komitmen tersebut dibuktikan lewat gelaran Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ) #4 Tahun 2026 yang didukung sepenuhnya dengan dana keistimewaan (danais). Kegiatan tersebut sukses menyedot partisipasi masif lebih 47.106 pelajar tingkat SMA, SMK, hingga Madrasah Aliyah (MA) se-DIY setelah masa pendaftaran ditutup pada 25 Agustus lalu.
Kepala Dinas Dikpora DIY, Drs Raden Suci Rohmadi MIP menyatakan, pelestarian budaya di era modern tidak boleh kaku atau tertinggal zaman. Menurutnya, budaya harus hadir di ruang-ruang yang dekat dengan keseharian generasi muda, mulai dari media sosial, karya digital hingga aplikasi modern.
“Melalui OBAJ, kita ingin menegaskan bahwa Bahasa dan Aksara Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian penting dari masa depan Yogyakarta. Saya ingin anak-anak DIY menjadi generasi yang tidak pernah malu dengan budayanya sendiri,” tegas Suci Rohmadi saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor Disdikpora DIY, Kamis (27/8).
Ia juga menekankan tiga prinsip utama bagi generasi muda Yogyakarta menghadapi era transformasi digital, kenali akarnya, kuasai teknologinya, dan bawa budaya Jawa ke panggung dunia. Bagi Dikpora DIY, teknologi sama sekali bukan ancaman bagi kelestarian budaya, melainkan kendaraan strategis agar aksara Jawa bisa mendunia (Anjayeng Bawana).
“Melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi memastikan budaya itu tetap hidup, berkembang, dan memberi makna bagi generasi masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia OBAJ #4, Slamet Nugroho SPd menjelaskan, gelaran tahun ini dikemas secara modern dan transparan menggunakan perangkat digital. Angka fantastis sebanyak 47.106 pelajar merupakan hasil dari proses pendaftaran yang dibuka sejak tanggal 1 hingga 25 Agustus lalu, mencakup seluruh siswa kelas X hingga XII dari jenjang SMA, SMK serta MA (di mana siswa MA diikutsertakan bergabung dalam kelompok SMA) di seluruh kabupaten/kota di DIY.
“Para peserta diuji kemampuannya menggunakan papan tik digital beraksara Jawa di gawai maupun komputer masing-masing,” ujarnya.
Dalam penyelenggaraan olimpiade berbasis digital ini, Disdikpora DIY bekerja sama dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), citraweb, cloudhost, exabytes, DomaiNesia, jatara, dan Balai Bahasa Yogyakarta yang turut menyediakan dukungan infrastruktur krusial seperti server website dan sistem pendukung lainnya.
Menurut Slamet, dari puluhan ribu peserta tersebut, kompetisi disaring secara ketat perkabupaten/kota secara berjenjang. Nantinya, ajang bergengsi ini akan menetapkan pemenang mulai dari Juara 1, 2, dan 3, Juara Harapan 1 dan Juara Harapan 2 untuk masing-masing kelompok, yakni kelompok SMK serta kelompok SMA/MA.
“Target jangka panjang dari kompetisi ini membangun ekosistem digital agar Aksara Jawa diakui secara global sebagai sarana komunikasi aktif, sejajar dengan aksara internasional lainnya,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan oleh Ketua MGMP Bahasa Jawa, Sinar Indra Krisnawan SPd. Ia optimis bahwa ekosistem digital yang dibangun melalui OBAJ akan membuat siswa terbiasa dan menjadikan bahasa serta aksara Jawa sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, sejalan dengan visi besar Yogyakarta sebagai Kota Hanacaraka.
Dalam kajian lebih mendalam, Sinarendra Krisnanawan mengaku ada strategi menanamkan keberaksaraan lokal kepada Anak muda agar tertarik.
Selama ini Aksara Jawa kerap dianggap rumit, terkurung dalam museum atau menyelinap di naskah-naskah lontar yang berdebu. Aturan penulisan yang kompleks serta keterbatasan integrasi dalam teknologi komputer membuat generasi muda semakin asing dengan tulisan nenek moyangnya sendiri.
Disisi lain dalam perkembangan Aksara, penggunaannya pada prasasti dan manuskrip bak sebuah “kotak hitam” yang membutuhkan encoding. Sebab tanpa pemahaman aksara, data sejarah hanya akan menjadi benda mati di museum.
“Berdasarkan Kajian yang telah kami lakukan, mendapati fakta bahwa anak muda membutuhkan jembatan untuk mengenal kembali Aksara Jawa, salah satunya melalui Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa” ungkapnya.
Sinarendra menambahkan apa yang diinisiasi Disdikpora DIY lewat OBAJ tentu akan terus dikembangkan, mulai dari edukasi hingga pengembangan penggunaan Aksara Jawa untuk menulis bahasa-bahasa selain bahasa Jawa dalam kehidupan sehari – hari.
“Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa bisa jadi pemantik awal untuk Milenial maupun GenZ agar kembali mengenal bentuk, desain secara visual. Saya yakin bila kelak terbiasa, Anak muda yang sudah tertarik akan mendalami lebih jauh untuk belajar Aksara Jawa yang sudah dituliskan para leluhur Nusantara” ujarnya
Ia juga tak menampik bahwa dalam pengembangan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa membutuhkan masukan berbagi pihak agar spirit melestarikan warisan leluhur Nusantara akan terus terjaga.
Akhir kata, dengan menghadirkan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa dalam wajah neografi yang lebih modern, anak muda tidak lagi memandang tulisan tradisi sebagai peninggalan masa lalu yang usang, melainkan sebagai identitas keren yang patut dibanggakan.
Langkah ini patut didukung sebagai upaya terbaik untuk menjaga tradisi berliterasi agar tidak punah. Tentunya, bukan dengan mengurungnya rapat-rapat, melainkan mengalirkan energinya ke dalam kehidupan sehari-hari generasi penerus.
“Terima kasih kepada guru Bahasa Jawa SMA, MA, dan SMK sebagai garda terdepan penyelenggaraan OBAJ #4, karena tanpa peran guru, mungkin peserta yang ikut tidak sebanyak ini,” ujarnya.
Kepala Dinas Dikpora DIY, Drs Raden Suci Rohmadi MIP menambahkan, lewat OBAJ, Yogyakarta kembali menumbuhkan generasi muda yang berakar kuat pada budaya, bertumbuh lewat pendidikan, dan siap terbang tinggi membawa identitas Jawa ke panggung global.
“Jika budaya adalah akar, maka pendidikan adalah batangnya, dan teknologi adalah sayapnya,” pungkasnya.
(PAR/sin/nng)
