Budaya, Aksara
Rajapatni.com: ŚŪRABHAYA – Peserta lomba menulis aksara Jawa di Masjid Kemayoran Surabaya Membludak. Hari Senin, 31 Agustus Pendaftaran ditutup. Jumlah pendaftar melebihi kuota. Telah terdaftar 125 peserta dari golongan SD, SMP dan SMA/SMK. Hampir dua kali lipat dari pagu yang kapasitasnya disesuaikan dengan kondisi ruangan lomba.
Jumlah ini sangat menggembirakan mengingat Surabaya sebagai kota modern dan besar,
yang ternyata masih menyimpan minat pelajar untuk belajar aksara Jawa. Apalagi Kota Surabaya sudah menerapkan Program Kemis Mlipis yang memiliki orientasi mengenalkan budaya Jawa, yang salah satu objeknya tentu Aksara Jawa sebagai literasi tradisional yang secara historis dan kultural memang ada di Surabaya. Fakta faktual dan bukti bukti apa pada tempatnya seperti di dalam Masjid Kemayoran, di Komplek Sunan Ampel dan di Komplek Pesarean para Bupati Surabaya di Botoputih Pegirian Surabaya.
Melalui lomba menulis aksara Jawa ini bukan saja mengingatkan pada tradisi menulis tradisional tetapi juga sejarah Surabaya. Lomba menulis aksara Jawa di Surabaya memang mencoba menghubungkan kembali tradisi menulis kuno dengan pengenalan sejarah lokal secara langsung.
Nilai Tradisi dan Sejarah
Sumber Sejarah Lokal: Peserta menyalin teks dari prasasti bersejarah di tempat penting seperti Masjid Kemayoran.
Mengenal Masa Lalu: Melalui goresan huruf, generasi muda dapat melihat bukti fisik peninggalan masa lalu di Surabaya.
Media Pembelajaran: Kegiatan ini membuat belajar sejarah terasa lebih nyata dan dekat dengan keseharian.
Manfaat Pelestarian
Merawat Warisan: Aksara Jawa tetap hidup dan tidak terlupakan di tengah era modern.
Kebanggaan Lokal: Masyarakat, khususnya pelajar, lebih menghargai akar budaya daerah mereka sendiri.
Lomba adalah fakta faktual yang seharusnya menjadi ukuran bahwa aksara Jawa masih diminati di tengah gempita pembangunan fisik Surabaya.
Pembangunan Berbasis Kebudayaan
Bangunan fisik Surabaya harus disertai dengan pembangunan mental dan karakter melalui pendekatan budaya.
Perlombaan bukan sekadar seremonial, melainkan bukti nyata (fakta faktual) bahwa ruang kultural untuk aksara Jawa masih hidup dan diminati oleh masyarakat di tengah pesatnya modernisasi kota.
Karenanya keseimbangan antara infrastruktur dan identitas sangat krusial untuk menjaga jiwa Kota Surabaya.
Esensi Pembangunan Berbasis Budaya
Menurut pegiat budaya Surabaya, yang juga penggasas Raperda Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kejuangan serta kepahlawanan Surabaya, A. Hermas Thony, pembangunan fisik tanpa akar budaya melahirkan kota yang modern namun asing bagi warganya sendiri.
Aksara Jawa sendiri membentuk mentalitas warga Surabaya yang humanis, beretika, dan menghargai sejarah.
“Ini sekaligus investasi generasi. Minat anak muda dalam lomba aksara Jawa membuktikan bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan zaman, bukan ditinggalkan”, ujar Thony.
Jangankan kita sebagai pemilik budaya, orang asing pun terpikat dengan aksara daerah seperti Jawa dalam bentuk manuskrip yang masih menyimpan koleksi asal Jawa untuk menarik perhatian dunia untuk negaranya.

Bagaimana dengan pemilik budaya itu sendiri, seperti warga etnis Jawa di Surabaya. Generasi muda harus dibina mencintai budaya leluhur dengan diatur secara strategis, dan berkelanjutan. Atau memang Surabaya merelakan budaya sendiri direngkuh bangsa asing. (PAR/nng)
